EtIndonesia. Konflik antara Israel dan Iran terus meningkat. Pada Senin (16/6/2025) malam, Presiden AS Donald Trump meninggalkan KTT G7 di Kanada lebih awal dan segera kembali ke Gedung Putih untuk menangani situasi darurat di Timur Tengah. Dalam pernyataannya di KTT, Trump kembali memperingatkan Iran untuk menandatangani perjanjian nuklir sebelum terlambat.
“Presiden Trump awalnya dijadwalkan untuk tetap menghadiri KTT G7 di Kanada pada hari Selasa, termasuk bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Namun, pada Senin malam, Gedung Putih tiba-tiba mengumumkan bahwa Trump akan kembali lebih awal untuk menangani krisis di Timur Tengah. Trump menyebut situasinya sangat penting dan ia harus segera kembali,” demikian reporter NTD, Tao Ming.
Presiden AS Donald Trump mengatakan: “Saya harus kembali, ini sangat penting. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda (Perdana Menteri Kanada Carney), Anda telah menjadi tuan rumah yang sangat baik. Terima kasih kepada Kanada. Tapi kalian mungkin juga melihat apa yang saya lihat—saya harus segera kembali.”
Presiden Prancis Emmanuel Macron, setelah kepergian Trump dari KTT, mengatakan kepada media bahwa Trump kembali karena Israel dan Iran telah mengusulkan untuk memulai dialog, bahkan sudah membahas syarat-syarat gencatan senjata.
Namun, Trump segera membantah pernyataan Macron melalui postingan dari pesawat kepresidenan Air Force One, dengan mengatakan: “Macron sama sekali tidak tahu mengapa saya kembali ke Washington, dan ini jelas tidak ada hubungannya dengan gencatan senjata. Ini jauh lebih besar dari itu.”
Reporter Tao Ming: “Jadi, apakah ini berarti konflik akan meningkat dan itulah alasan Trump buru-buru pulang? Atau apakah ada kemajuan baru dalam perundingan nuklir dengan Iran? Saat ini masih belum jelas.”
Sekitar pukul 01:30 waktu AS Timur pada Selasa, Israel mengumumkan bahwa Iran telah meluncurkan gelombang baru serangan rudal ke wilayah Israel. Israel menyatakan tengah mencegat ancaman tersebut, menandakan eskalasi konflik semakin nyata.
Sementara itu, selama KTT G7 pada Senin, Trump memposting peringatan agar semua orang segera meninggalkan ibu kota Iran, Teheran.
Selain itu, dalam pernyataan bersama terakhir G7 terkait konflik Iran-Israel, bagian yang sebelumnya dilaporkan media—yang menyerukan kedua pihak untuk “menunjukkan sikap menahan diri”—telah dihapus.
Pernyataan akhir dari G7 justru menekankan dukungan terhadap hak Israel untuk membela diri, dan menyebut Iran sebagai “sumber ketidakstabilan regional dan terorisme”, serta menegaskan kembali bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Dalam KTT hari Senin itu, Trump memperingatkan Iran agar segera menandatangani perjanjian nuklir sebelum terlambat.
Presiden Trump menyatakan: “Iran tidak akan memenangkan perang ini. Mereka harus melakukan dialog. Segera berdialog, sebelum semuanya terlambat.”
Namun, pada saat yang sama, Trump juga menyatakan bahwa tujuannya kembali ke AS adalah untuk melanjutkan negosiasi terkait nuklir dengan Iran.
Reporter Tao Ming: “Pada hari Senin, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengumumkan bahwa Amerika akan meningkatkan kehadiran militer di Eropa dan Timur Tengah. Namun, para pejabat pertahanan juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak mengubah postur pertahanannya, yang berarti belum ada keputusan untuk ikut terlibat langsung dalam perang.” (Hui/asr)
Laporan oleh Tao Ming, dari Calgary, Kanada, untuk NTD Television.


