EtIndonesia. The Jerusalem Post pada Rabu 18 Juni melaporkan, konflik antara Israel dan Iran kini memasuki babak baru yang semakin panas dan penuh ketegangan. Militer Israel dilaporkan telah kembali melancarkan serangan udara presisi ke persembunyian para pemimpin militer Iran yang terletak di kawasan pegunungan strategis. Serangan ini diklaim berhasil menewaskan puluhan anggota militer Iran, termasuk salah satu tokoh kunci, Kepala Staf Perang Iran, Mayor Jenderal Ali Shademani. Kehilangan figur penting ini disebut sebagai pukulan telak bagi komando militer Iran di tengah eskalasi konflik regional.
Perlawanan Rakyat di Dalam Negeri: Dari Aksi Simbolis hingga Pemberontakan Terbuka
Di tengah gempuran serangan udara, suasana dalam negeri Iran juga mengalami perubahan drastis. Gelombang perlawanan rakyat, terutama di kalangan generasi muda dan perempuan, semakin membesar. Simbol-simbol perlawanan kini mudah ditemukan di berbagai kota. Gadis-gadis Iran secara terbuka menanggalkan hijab mereka di lingkungan sekolah, lalu menduduki ruang-ruang kelas sambil meneriakkan yel-yel perlawanan seperti: “Matilah rezim diktator dan Islam!” Aksi ini bahkan meluas hingga pada penghancuran patung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di muka umum. Peristiwa ini disambut sorak-sorai warga yang tidak hanya menjadi saksi, tapi juga turut merekam dan membagikan momen tersebut ke media sosial—menandakan semakin kuatnya gelombang perlawanan yang sulit dibendung.
Dukungan Diaspora Iran dan Gema Internasional
Fenomena ini tak hanya terjadi di dalam negeri. Warga Iran yang berada di luar negeri turun ke jalan, secara terbuka menyatakan dukungan bagi perjuangan rakyat di tanah air dan juga menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Israel. Gelombang dukungan diaspora Iran menjadi salah satu penanda bahwa sentimen anti-rezim kini telah melewati batas geografis.
Di media sosial, muncul berbagai komentar tajam seperti: “Kejatuhan rezim otoriter selalu datang tiba-tiba. Apakah Partai Komunis Tiongkok juga mulai panik?”
Sindiran ini menyasar bukan hanya pada situasi di Iran, melainkan juga ke negara-negara otoriter lainnya yang tengah mengalami tekanan dari dalam dan luar negeri.
Komentar Pakar dan Hancurnya “Benteng Bawah Tanah” Iran
Pakar hubungan internasional dan pengamat Tiongkok-Amerika, Yu Maochun, pernah menyatakan: “Di mana-mana disebut ‘pemerintah rakyat, polisi rakyat, tentara pembebasan rakyat’, kenyataannya mereka adalah alat perbudakan rakyatnya sendiri.”
Ungkapan ini kembali menjadi relevan di tengah kabar bahwa bunker bawah tanah yang telah dibangun Iran selama puluhan tahun—dengan klaim mampu melindungi komando dan fasilitas militer vital—kini telah hancur akibat serangan udara Israel.
Amerika Diduga Siapkan Senjata Pemusnah Bawah Tanah
Dalam situasi yang semakin tegang, muncul laporan bahwa Amerika Serikat juga berpotensi menggunakan salah satu senjata konvensional paling kuat yang mereka miliki, yaitu GBU-57A/B Massive Ordnance Penetrator, dikenal dengan sebutan “bunker buster.” Senjata ini mampu menembus tanah hingga kedalaman lebih dari 60 meter dan meledak dengan daya hancur 5.000 pon bahan peledak.
Purnawirawan Kolonel Angkatan Laut Amerika, Steve Ganyard, menjelaskan: “Senjata ini tidak hanya sekadar meledakkan target di permukaan, tapi benar-benar menghancurkan infrastruktur vital di bawah tanah seperti fasilitas sentrifugal nuklir.”
Kehidupan Mulai Kembali Normal di Israel, Ancaman Iran Kian Dipandang Remeh
Pemerintah Israel secara resmi mengumumkan bahwa mulai 19 Juni, aktivitas masyarakat dan perekonomian berangsur-angsur kembali normal. Pusat perbelanjaan, gym, dan fasilitas umum lainnya dibuka kembali. Kondisi ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa ancaman rudal Iran kini telah dianggap setara atau bahkan lebih lemah dibanding kelompok militan Houthi di Yaman, dan jauh di bawah Hizbullah di Lebanon. Sementara Israel bersiap menata kehidupan pasca-serangan, berbagai negara mulai berlomba mengevakuasi warganya dari zona konflik.
Evakuasi Warga Asing: Respons Lemah Pemerintah Tiongkok Disorot
Di tengah upaya evakuasi besar-besaran, warga negara Tiongkok di Israel mengeluhkan lambannya respons dari Kedutaan Besar Tiongkok. Mereka mengaku hanya diarahkan untuk “memantau informasi di akun resmi” tanpa ada bantuan nyata. Sebaliknya, Taiwan disebut telah terlebih dahulu mengevakuasi warganya dari zona konflik. Informasi terbaru menyebutkan, Konsulat Tiongkok bahkan melarang mahasiswa untuk dievakuasi massal, hanya membantu menyewakan mobil dengan biaya pribadi, serta melarang ekspresi panik yang dapat “mencoreng citra Tiongkok di luar negeri.” Sikap ini menuai kritik keras dan dianggap tidak memprioritaskan keselamatan warga negara sendiri.
Inspirasi Bagi Rakyat Tiongkok: Tekanan Eksternal dan Perlawanan Internal
Para pengamat menilai, kombinasi antara tekanan eksternal berupa serangan militer dan perlawanan rakyat di dalam negeri Iran bisa menjadi inspirasi bagi rakyat di negara-negara otoriter lain, termasuk Tiongkok. Banyak yang berpendapat, gabungan dari tekanan internasional dan pemberontakan masyarakat merupakan skenario paling efektif dalam meruntuhkan rezim yang sudah lama bercokol dengan tangan besi.
Kesimpulan
Situasi di Iran kini benar-benar berada di titik kritis. Serangan Israel yang mematikan, kehancuran fasilitas militer strategis, serta bangkitnya perlawanan rakyat dari berbagai lapisan menjadi sinyal bahwa perubahan besar mungkin sedang mengetuk pintu Iran. Dunia kini menunggu, apakah ini awal kejatuhan rezim otoriter di Teheran—dan akankah gaungnya merambat hingga ke Beijing?


