Rangkaian Skandal Organ di Tiongkok Meledak, Warganet Fokus Soroti Isu Ini

Kematian misterius Luo Shuaiyu, seorang dokter magang di Rumah Sakit Xiangya Kedua, di Hunan, Tiongkok  yang membongkar skandal transplantasi organ, kembali memicu perhatian besar. Sejak itu, semakin banyak orang di internet membongkar kasus-kasus serupa dari berbagai wilayah, memicu pertanyaan publik: Berapa banyak organ warga tak bersalah yang telah dicuri oleh sistem medis Tiongkok selama bertahun-tahun?

EtIndonesia. Pada 16 Juni, ayah Luo Shuaiyu kembali merilis rekaman berdurasi 13 menit 34 detik, yang mengungkap berbagai transaksi gelap di Rumah Sakit Xiangya Kedua di Hunan, Tiongkok.  Isinya menyebutkan, antara lain, seorang profesor dengan saldo rekening bank bernilai delapan digit, seorang pejabat bermarga Jiang yang memelihara selingkuhan, dan dugaan perdagangan organ ilegal di rumah sakit tersebut.

Isi rekaman menyatakan: “Eh, jadi bagaimana, perlu hati atau tidak? Kalau tidak, ya dua ginjal saja? Ada keluarga pasien? Tidak perlu hati? Kalau begitu, bagaimana bisa dialokasikan ke sana? Sebenarnya organ ini bisa untuk transplantasi hati, kamu mau tidak? Kali ini untung besar, hehe.”

Luo Shuaiyu adalah dokter magang di Departemen Transplantasi Rumah Sakit Xiangya Kedua. Pada Mei tahun lalu, ia meninggal dunia secara misterius karena jatuh dari gedung. Sebelum kematiannya, ia telah melaporkan dugaan praktik pengambilan dan perdagangan organ hidup oleh direktur rumah sakit dan sejumlah staf. Meskipun pada 13 Juni 2025 pihak berwenang mengumumkan hasil investigasi bahwa kematian Luo adalah “bunuh diri”, keluarganya terus bersuara dan menyerahkan banyak bukti yang menunjukkan adanya korupsi medis, operasi ilegal, dan bahkan transaksi organ manusia di rumah sakit tersebut.

Hal ini menyebabkan topik skandal transplantasi organ menjadi sangat sensitif dan menyedot perhatian publik. Pada 11 Juni, Rumah Sakit Chaoyang di Beijing menggelar siaran langsung khusus memperingati “Hari Donor Organ Nasional Tiongkok” untuk mensosialisasikan pengetahuan tentang donor organ. Namun siaran itu segera dibanjiri komentar warganet yang mengecam.

“Siaran langsung tentang donor organ oleh Rumah Sakit Chaoyang di Beijing justru menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengecam tindakan tidak bermoral para dokter yang mencuri organ demi keuntungan,” kata Mantan peneliti virus di Institut Riset Angkatan Darat AS, Lin Xiaoxu. 

“Banyak warga mengatakan bahwa hanya karena pergi ke rumah sakit karena cedera ringan saja, mereka bisa kehilangan organ. Ini menunjukkan bahwa masyarakat mengetahui kebenaran, dan bahwa kejahatan semacam ini sudah sangat merajalela. Rakyat benar-benar muak dan ingin mengungkap kedok ini,” katanya. 

Pada 12 Juni, seorang warganet mengangkat kembali sebuah kasus lama terkait organ. Pada 2012, Gao Jing, seorang petugas tol di Kota Yan’an, Provinsi Shaanxi, menemukan bahwa ginjal kirinya hilang saat menjalani pemeriksaan medis. 

Sepanjang hidupnya, ia hanya menjalani satu operasi besar, yaitu pengangkatan limpa delapan tahun sebelumnya setelah kecelakaan lalu lintas di Rumah Sakit Kabupaten Ganquan. Sebelum operasi itu, kedua ginjalnya normal. Keluarganya menuduh rumah sakit telah mencuri ginjal Gao Jing. Meskipun mereka menerima kompensasi sebesar RMB.260.000 , mereka tidak pernah mendapatkan kebenaran.

Selain itu, pada 16 Juni, seorang influencer Douyin bernama “Wan Ruo Qing Feng” memposting bahwa Rumah Sakit Junkang di Distrik Pudong, Shanghai, terlibat dalam perdagangan organ manusia.

Isi video menyatakan: “Rumah Sakit Junkang di Distrik Pudong, Shanghai, memperdagangkan organ tubuh manusia secara ilegal. Saya berhasil kabur, tapi saya akan segera menjadi korban. Nama saya Yu Yang, saya dari Kota Chaoyang, Provinsi Liaoning…”

Walaupun video tersebut segera dihapus, kemarahan publik terus memuncak, mempertanyakan berapa banyak organ warga biasa yang telah dicuri oleh sistem medis selama bertahun-tahun.

Lin Xiaoxu menambahkan: “Ledakan informasi tentang pengambilan organ secara hidup-hidup di berbagai rumah sakit mencerminkan betapa merajalelanya praktik ini di daratan Tiongkok. Tuntutan masyarakat untuk mengetahui kebenaran pun semakin tinggi, karena mereka merasa risiko ini semakin dekat dengan kehidupan mereka sendiri.”

Pengamat isu Tiongkok yang berbasis di AS, Tang Jingyuan, menjelaskan: “Masyarakat awam kini mulai menyadari bahwa di balik sistem transplantasi organ ala Partai Komunis Tiongkok, ada skandal yang sangat mengerikan. Korbannya kini bukan hanya praktisi Falun Gong atau warga Uighur yang ditahan di kamp-kamp interniran, tetapi telah meluas hingga ke masyarakat umum, bahkan anak-anak. Fakta ini telah memicu kewaspadaan tinggi di seluruh masyarakat.” 

Tiongkok mengklaim sebagai negara dengan jumlah transplantasi organ terbesar. Pemerintah menyebutkan sekitar 10.000 kasus transplantasi dilakukan setiap tahun. Namun, menurut investigasi luar negeri, jumlah sebenarnya bisa mencapai hampir 100.000 per tahun. Waktu tunggu organ pun sangat singkat, yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan jumlah tahanan hukuman mati atau donor sukarela.

Lin Xiaoxu menegaskan: “Ini sebenarnya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Ini adalah bentuk pembantaian terhadap rakyat Tiongkok, dilakukan dengan kedok menyelamatkan nyawa. Ini sangat jahat.”

Saat ini, masih banyak warganet yang terus mengungkap dugaan pengambilan organ secara paksa di berbagai daerah. (Hui/asr)

Sumber :  NTDTV.com 

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine