EtIndonesia. Situasi di Timur Tengah kembali memanas pasca serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat ke tiga fasilitas nuklir utama milik Iran pada 21 Juni 2025 waktu setempat. Presiden AS, Donald Trump, dalam pidato nasional yang disampaikan dari Gedung Putih, mengumumkan bahwa militer AS telah melakukan operasi udara presisi dengan target utama fasilitas Fordow—pusat pengayaan uranium Iran yang terkenal sangat rahasia dan terkubur jauh di dalam pegunungan.
Operasi Militer Terbesar: Bom Penembus Bunker dan Rudal Tomahawk Menghantam Fordow
Menurut laporan Associated Press, sumber di pemerintahan AS menyatakan serangan ke Fordow melibatkan penggunaan bom penghancur bunker seberat 30.000 pon—pertama kalinya senjata penghancur bawah tanah terbesar milik Amerika ini digunakan dalam konflik nyata. Bom tersebut dirancang khusus untuk menembus beton bertulang dan lapisan tanah tebal sebelum meledak jauh di bawah permukaan, menghancurkan infrastruktur bawah tanah yang menjadi tulang punggung program nuklir Iran.
Tidak hanya itu, kapal selam militer Amerika juga dikabarkan ikut ambil bagian dalam operasi ini dengan menembakkan setidaknya 30 rudal jelajah Tomahawk ke sejumlah target strategis di Iran. Koordinasi serangan ini berlangsung dalam waktu singkat, mencerminkan keunggulan teknologi dan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan.
Netanyahu: “Keputusan Trump Akan Dicatat dalam Sejarah Dunia”
Reaksi keras dan dukungan langsung datang dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang dalam video pernyataannya mengucapkan selamat kepada Presiden Trump.
“Keberanian Anda dalam memerintahkan kekuatan Amerika untuk menyerang fasilitas nuklir Iran akan tercatat dalam sejarah dunia,” tegas Netanyahu.
Dia juga menambahkan: “Langkah ini telah mencegah rezim paling berbahaya di dunia dari memperoleh senjata paling berbahaya di dunia.”
Israel sendiri diketahui telah lama menjadi salah satu pihak yang sangat menentang pengembangan senjata nuklir Iran, dengan alasan keamanan nasional dan stabilitas kawasan.
Israel Menutup Wilayah Udara, Iran Ancam Targetkan Semua Kepentingan AS
Imbas dari serangan militer ini, Otoritas Bandara Israel secara mendadak mengumumkan penutupan total wilayah udara nasional—semua penerbangan komersial dari dan menuju Israel dihentikan tanpa kepastian waktu normalisasi. Langkah ini diambil sebagai antisipasi serangan balasan, mengingat Iran secara terbuka mengancam akan membalas “seluruh kepentingan Amerika” di kawasan Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi nasional mengingatkan: “Amerika Serikat harus bersiap menghadapi hukuman berat. Setiap warga sipil atau personel militer Amerika di Timur Tengah kini menjadi target sah.”
Iran menegaskan semua kepentingan AS, baik militer maupun sipil, berada dalam status siaga tinggi.
Iran Pastikan Tidak Ada Kebocoran Radiasi Nuklir
Meski serangan terjadi di tiga fasilitas nuklir utama—Fordow, Isfahan, dan Natanz—Pemerintah Iran mengklaim tidak terjadi kebocoran radiasi maupun polusi nuklir.
Laporan yang dirilis Pusat Keamanan Nuklir Nasional Iran pada pagi 22 Juni 2025 menyatakan: “Tidak ada deteksi kebocoran zat radioaktif pascaserangan. Warga di sekitar lokasi tidak menghadapi bahaya apa pun.”
Pernyataan ini juga diperkuat oleh konfirmasi dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang menyatakan tidak ditemukan jejak kebocoran radiasi di sekitar fasilitas yang diserang. Bahkan, pasca serangan udara Israel beberapa waktu lalu, pengawasan radiasi tetap dinyatakan dalam batas aman.
Evakuasi Massal Warga Asing dari Israel dan Wilayah Sekitar
Seiring meningkatnya ancaman balasan Iran, Amerika Serikat segera mengambil langkah preventif dengan mengevakuasi warganya dari Israel. Duta Besar AS untuk Israel, Jack Hekby, mengumumkan pada 21 Juni 2025 bahwa Pemerintah AS telah mulai memfasilitasi evakuasi warga negara Amerika dari Israel dan wilayah Tepi Barat. Dalam unggahan di platform X, Hekby menjelaskan, dua penerbangan khusus telah memberangkatkan sekitar 70 warga AS ke Athena, Yunani.
Departemen Luar Negeri AS mengimbau seluruh warga dan penduduk tetap Amerika di Israel agar segera meninggalkan negara itu secara mandiri tanpa menunggu bantuan lebih lanjut dari pemerintah. Sementara itu, sejumlah negara lain—termasuk Tiongkok, India, dan negara-negara Eropa—turut mengumumkan program evakuasi massal warganya dari kawasan yang dinilai rawan konflik ini.
Trump: Jika Iran Membalas, AS Akan Melakukan Serangan Lebih Keras
Presiden Trump, dalam pernyataan tegas di media sosial, menulis: “Jika Iran melakukan balasan sekecil apa pun terhadap Amerika, mereka akan menerima serangan yang jauh lebih keras dari malam ini.”
Ancaman ini menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu melancarkan aksi militer lebih lanjut bila Iran benar-benar melakukan aksi pembalasan.
Analisis: Krisis Timur Tengah Memasuki Babak Baru
Pakar militer dan analis hubungan internasional menilai, serangan ini bukan hanya sekadar unjuk kekuatan militer Amerika, melainkan juga pesan politik kuat kepada negara-negara yang dianggap musuh Amerika di kawasan. Dengan ketegangan yang masih jauh dari reda, komunitas internasional kini menyoroti kemungkinan eskalasi konflik yang dapat melibatkan lebih banyak negara di kawasan, serta risiko terjadinya perang skala besar di Timur Tengah.


