Cinta Sang Serigala

EtIndonesia. Ini adalah sebuah kisah nyata. Mohon jangan membacanya seperti sebuah fiksi atau cerita rekaan.

Di padang rumput yang luas, terdapat sebuah desa kecil dan terpencil—kecil hingga nyaris terlupakan, hanya dihuni oleh beberapa keluarga saja. Dan di desa itulah, aku menjadi saksi dari sebuah kisah cinta luar biasa dari sepasang serigala.

Seorang pemburu bernama Alatu berhasil menangkap seekor serigala jantan di padang rumput. Sebenarnya, Alatu bukan orang Mongolia asli. Orang Mongolia menganggap serigala sebagai makhluk totemik suci—mereka tidak akan pernah memburunya. Tapi Alatu berbeda.

Dia menangkap serigala itu dan mengurungnya dalam kandang baja yang sangat kuat, dilas dengan kokoh. Moncong serigala itu juga dililit dengan kawat besi agar tidak bisa melolong—karena lolongan bisa mengundang seluruh kawanan serigala datang, dan jika itu terjadi, akan sangat berbahaya, bahkan bisa mengancam nyawa manusia.

Tapi saat itu, dari kejauhan terdengar lolongan serigala lain. Entah mengapa, serigala jantan di dalam kandang mendadak tampak gelisah dan tak tenang…

Pagi harinya, padang rumput masih disinari matahari cerah. Tapi menjelang sore, badai salju datang disertai angin kencang yang melolong menusuk tulang. Lolongan serigala terdengar terus-menerus, seolah memanggil dari kejauhan. 

Aku juga seakan mendengar suara serigala menggedor dinding kandang. Alatu bilang itu hal biasa, begitulah kondisi alam Mongolia. Tapi hatiku mulai cemas. 

Di luar, suhu turun drastis—aku perkirakan sekitar minus 30 derajat Celsius. Air bisa membeku seketika. Aku khawatir serigala itu akan mati kedinginan. Kalaupun tidak, salju lebat bisa menimbunnya hidup-hidup. Bukankah itu berarti kematian juga?

Entah kenapa, saat itu aku merasa serigala ini begitu malang. Aku mulai lupa dengan cerita-cerita menyeramkan tentang serigala. Aku lupa tentang kelicikannya dalam dongeng. Yang tersisa hanyalah rasa kasihan dan iba yang mendalam.

Keesokan paginya, salju telah reda. Aku berlari keluar untuk melihat serigala. Dan pemandangan yang kulihat membuatku terdiam membeku:

Salah satu sisi kandang telah terhalang oleh gundukan salju besar, seperti ada sesuatu yang sengaja menutupinya agar angin dan salju tak langsung menerpa sang serigala. Gundukan itu menciptakan ruang perlindungan, memberinya tempat berlindung dari terkubur salju.

Aku segera memanggil Alatu. Bersama-sama, kami membersihkan salju itu. Dan di balik gundukan itulah terlihat sesosok tubuh serigala yang telah membeku—mati dalam posisi berdiri. Dia menjadi tameng hidup, menahan badai demi melindungi serigala jantan di dalam kandang.

“Itu serigala betina,” kata Alatu lirih. “Pasti pasangannya. Kalau bukan, mana mungkin dia rela mati berdiri seperti ini hanya demi memberi ruang hidup bagi yang di dalam kandang?”

Aku menatap serigala betina itu dengan mata berkaca-kaca. Matanya masih terbuka, seakan mati dalam penyesalan—tak rela meninggalkan pasangan yang masih hidup. Bulunya kini tampak putih diselimuti salju, hingga sulit dikenali sebagai serigala berbulu abu-abu. Mungkin… hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk makhluk yang dia cintai adalah menahan badai demi memberinya ruang bertahan hidup.

Atas permintaanku, Alatu akhirnya melepaskan kawat dari mulut serigala jantan. Tapi dia tidak melolong. Dia hanya menatap mayat pasangannya, kemudian berjalan perlahan mengitari tubuh itu—berulang kali, seperti kehilangan arah. Aku bisa merasakan hatinya menangis pilu meski tak bersuara.

Aku memohon kepada Alatu agar melepaskan serigala itu. Tapi Alatu menolak. 

Dia berkata: “Kalau aku lepaskan, dia pasti akan balas dendam. Mungkin bukan sekarang, tapi nanti. Dan bisa-bisa 200 ekor dombaku akan jadi korban.”

Di dalam hatiku, aku menyalahkan Alatu—dialah yang telah memisahkan dua makhluk yang saling mencintai.

Alatu menambahkan: “Yang melolong semalam pasti dia, si betina. Dia datang untuk menyelamatkan pasangannya. Jangan dulu pindahkan tubuhnya. Kalau kita ganggu, si jantan akan melolong. Itu bisa membahayakan semuanya.”

Hari itu hatiku seperti tercabik. Aku merasa… manusia bisa menjadi makhluk yang sangat kejam.

Keesokan paginya, aku bangun pagi-pagi sekali. Aku ingin melihat keadaan serigala jantan. Tapi ketika aku tiba di kandang, dia telah mati.

Tubuhnya bersandar sedekat mungkin ke sisi kandang yang memisahkannya dari tubuh pasangannya. Hanya jeruji besi yang menghalangi keduanya bersatu. Di bawah tubuhnya, salju telah meleleh dan membeku membentuk es. Dan dari sudut matanya—terlihat jelas sisa “air mata salju” yang telah membeku.

Seorang tetua pernah berkata: “Serigala adalah makhluk paling setia. Jika pasangannya mati demi dirinya, dia tak akan bertahan hidup sendiri. Itu adalah prinsip cinta mereka: tak pernah meninggalkan.”

Karena itu, seekor serigala hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine