EtIndonesia. Hidup adalah sebuah pertunjukan. Naskahnya telah ditentukan oleh yang di Atas. Menjalani hidup dengan mengikuti alur alami mungkin adalah pilihan terbaik dalam kehidupan.
Mengutip film The Truman Show, sang sutradara dalam cerita—Christof—menggunakan teknologi dan kehendaknya sendiri untuk menciptakan sebuah dunia buatan layaknya kisah penciptaan Tuhan bagi Truman, tokoh utama. Namun, yang dia bangun sejatinya hanyalah sebuah studio raksasa. Dia menulis skenario untuk seluruh pemeran pendukung, dan sejak Truman lahir, hidupnya dijalankan sesuai alur yang telah diatur, didampingi aktor-aktor yang menyamar sebagai keluarga, teman, dan masyarakat, serta disaksikan oleh jutaan penonton di seluruh dunia.
Namun, Christof bukanlah Kristus. Yang dia kejar bukanlah kehendak ilahi atau kebaikan abadi, melainkan kepuasan rasa ingin tahu manusia dan rating acara yang tinggi. Ketika dia menyentuh layar yang menampilkan wajah Truman, yang terpancar bukan kasih, melainkan narsisme. Dia bukan pencipta sejati dari kehidupan Truman. Maka, semua ganjaran dan hukuman yang dia berikan hanyalah cerminan dari ego dan emosinya sebagai manusia biasa—kejam, tanpa belas kasih.
Dalam dunia buatan itu, Truman akhirnya diizinkan menyadari kebenaran. Dengan keberanian, dia keluar dari panggung hidup yang telah dipalsukan. Namun, yang dia temukan setelahnya tetap bukan surga Tuhan, melainkan dunia nyata yang penuh jebakan, kegelisahan, dan kekacauan. Dia hanya berhasil keluar dari satu penjara kecil menuju sistem yang lebih besar—sebuah dunia modern yang didominasi oleh teknologi dan kehilangan kemurniannya.
Kecuali Truman bertemu seorang “Mesias” yang membimbingnya untuk hidup sesuai amanat langit dan mencapai kemurnian spiritual, dia tetap akan hidup seperti dalam adegan film di mana dia terus mengemudi dalam lingkaran. Tetap berada dalam kendali sistem, hanya dalam bentuk yang berbeda.
Semua pemeran pendukung dalam film tahu bahwa mereka sedang memanipulasi kehidupan Truman, tapi tetap melakukannya. Para penonton pun tahu bahwa hidup Truman hanyalah panggung, tapi mereka menikmatinya—karena kehidupan Truman adalah cerminan dari kehidupan mereka sendiri: terperangkap, telanjang, dikendalikan, dan ditonton. Perasaan terhubung ini menciptakan rating tinggi, membuat pertunjukan aneh itu bertahan selama tiga dekade, sekaligus menumbuhkan narsisme yang sangat besar dalam diri sang sutradara, Christof.
Namun saat Truman memilih melepaskan semua itu—meninggalkan kehidupan sebagai “superstar”, dan memilih kebebasan—para pemeran dan penonton justru merasa lega. Seolah kepolosan manusia telah kembali. Di sanalah terwujud kerinduan manusia akan makna sejati, dan barulah kehidupan itu terasa penuh harapan.
Sebagai manusia, selama kita masih memiliki sedikit kepolosan dalam hati, masih ada harapan untuk melampaui dunia penuh bencana ini—menuju dunia baru yang lebih baik, seperti yang digambarkan dalam nubuat Maya.
Dalam The Truman Show, sang sutradara Christof dengan ego besar menganggap dirinya memainkan peran langit, seolah memiliki kuasa atas hidup Truman. Tapi mari kita bertanya pada diri sendiri: bukankah kita juga sering secara tidak sadar memainkan peran yang sama?
Saat kita merasa bisa menentukan nasib orang lain—terutama anak-anak kita—dan ikut campur dalam setiap keputusan mereka, menuntut mereka untuk mengikuti semua rencana yang kita buat, bukankah itu sama saja dengan merasa diri kita adalah “tangan Tuhan” dalam hidup mereka?
Kita pikir keberhasilan mereka, misalnya mendapatkan gelar doktor di Harvard, adalah hasil dari strategi dan pengorbanan kita. Tapi sesungguhnya, jika Tuhan telah menuliskan takdir seseorang, dia akan mencapainya tanpa perlu kita atur pun. Sebaliknya, jika memang bukan jalannya, sekeras apa pun usaha kita, itu tidak akan terjadi.
Dalam kesibukan dunia ini, berapa banyak dari kita yang benar-benar sadar akan peran kita sendiri? Berapa banyak yang sungguh-sungguh mencari kebenaran tentang makna hidup, dan menempuh jalan untuk menjadi manusia yang utuh?
Sayangnya, banyak orang justru menghabiskan hidup dengan mengacaukan tatanan ilahi, memaksakan kehendak pribadi kepada orang lain, dan mengira bahwa itu adalah bentuk tanggung jawab. Padahal, itu hanyalah bentuk lain dari narsisme, yang tak hanya merusak hubungan antarmanusia, tapi juga menjadi penghalang bagi orang lain untuk menjalani takdir yang telah digariskan oleh langit.
Sesungguhnya, dunia ini tidak pernah begitu rumit. Bila kita mau mengikuti alurnya, membiarkan segalanya berjalan dengan alami, maka keagungan hidup akan memancar dengan sendirinya.
Dan itulah—pilihan terbaik dalam hidup.(jhn/yn)


