EtIndonesia. Kegelisahaan dan kecemasan dalam hidup kita—kemungkinan besar—berasal dari membandingkan diri dengan orang lain. Ketika membandingkan, kita sering merasa: hal yang begitu sulit dan melelahkan bagi diri kita, ternyata bisa dijalani orang lain dengan begitu ringan dan mudah.
Beberapa waktu lalu, seorang rekan kerja datang berkonsultasi tentang sebuah urusan pekerjaan. Kebetulan, aku pernah mengerjakan hal serupa. Saat itu, aku benar-benar melalui masa yang berat—jatuh bangun, berkali-kali membuat kesalahan, menanggung banyak tekanan, dan membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga akhirnya berhasil menyelesaikannya. Maka, aku pun menjelaskan dengan sangat detail: tantangan apa saja yang mungkin dia hadapi, risiko apa yang harus dipertimbangkan, dan cara terbaik untuk mengatasinya.
Tak disangka, berkat relasi dan sumber daya yang dimilikinya, dia berhasil menyelesaikan pekerjaan itu dalam waktu satu bulan saja. Dia nyaris tidak menghadapi hambatan yang pernah kualami. Tanpa banyak drama, dia mencapai hasil dengan begitu mudah dan efisien.
Ketika menerima kabar darinya, aku sempat tertegun. Rasanya sulit dipercaya: bagaimana bisa pekerjaan yang dulu terasa berat dan penuh rintangan, kini bisa dikerjakan begitu lancar?
Perbedaan nasib seperti ini sempat membuat pikiranku kalut. Aku mulai mempertanyakan diri sendiri: Apakah dulu aku salah dalam mengambil keputusan? Apakah hambatan-hambatan yang kuhadapi dulu sebenarnya tidak nyata, dan mungkin hanya karena ada yang mengacau di balik layar? Apakah penderitaan dan energi yang kukorbankan selama berbulan-bulan itu sebenarnya bisa dihindari?
Kegelisahan itu menghantui cukup lama, hingga pada suatu saat aku tersadar—betapa lucunya diriku sendiri. Dunia ini selalu berubah. Kondisi dan peluang di setiap waktu juga ikut berubah. Mengerjakan hal yang sama di waktu yang berbeda bisa memberikan proses dan hasil yang sangat berbeda. Jadi, terlalu larut dalam penyesalan atas hal yang telah berlalu rasanya tidak ada gunanya.
Dalam hidup, kadang kita harus menelan pahitnya kesulitan. Itu tampaknya seperti kerugian. Tapi jika kita melihat dari sudut pandang lain, bisa jadi penderitaan itu adalah bagian dari perjalanan yang kita butuhkan. Setiap orang dalam hidupnya membawa takdir dan karma masing-masing. Mungkin kesulitan itu adalah bentuk pembayaran atas sesuatu dari masa lalu. Mungkin juga itu adalah cara semesta untuk menguji dan membentuk kita.
Dengan melewati penderitaan itu, kita telah tumbuh secara batin dan mental. Kita mungkin kehilangan waktu dan tenaga, tapi di saat yang sama kita memperoleh kebijaksanaan dan kekuatan. Maka, apa yang tampak sebagai kerugian, bisa jadi justru adalah bentuk keuntungan lain yang tak kasatmata.
Singkatnya, setiap orang memiliki jalannya sendiri. Apa yang tampak ringan dan mudah di hidup orang lain, mungkin menyimpan kisah sebab-akibat yang tidak kita ketahui. Apa yang mereka raih dengan mudah, bisa jadi memang sudah menjadi bagian dari hidup mereka.
Yang penting adalah: fokuslah pada jalan hidup kita sendiri. Entah itu baik atau buruk, selama itu telah terjadi, berarti memang itulah yang harus kita hadapi. Jika kita bisa menjalani semuanya dengan tenang, maka suatu saat, di mata orang lain, kita pun akan tampak seperti seseorang yang menjalani hidup dengan ringan dan penuh ketenangan.(jhn/yn)


