EtIndonesia. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine pada 22 Juni, menggelar jumpa pers di Pentagon untuk menjelaskan rincian operasi serangan AS ke fasilitas nuklir Iran. .
Hegseth mengatakan: “Meski penilaian dampak masih berlangsung, semua senjata berpemandu presisi berhasil mengenai target yang dituju dan mencapai efek yang diharapkan.”
Jenderal Caine menyebut bahwa misi ini dinamai Operasi Midnight Hammer, melibatkan lebih dari 125 pesawat militer, termasuk:
- Pesawat pembom B-2 stealth
- Pesawat pengisian bahan bakar
- Pesawat pengintai
- Jet tempur
Taktik Pengecohan: Dua Rombongan B-2, Salah Satunya Umpan
Untuk mengecoh musuh, AS mengirim dua kelompok B-2 dari daratan Amerika:
- Satu kelompok sebagai umpan diterbangkan ke arah barat menuju Samudera Pasifik.
- Kelompok lainnya (7 B-2 bomber) secara diam-diam menuju Iran dan menjatuhkan 14 bom penembus bunker (MOP) ke Fordow dan Natanz.
- Fasilitas ketiga di Isfahan dihantam dengan rudal jelajah Tomahawk, untuk memastikan efek kejutan maksimal.
Serangan Hanya Butuh 25 Menit, Iran Tak Memberi Respons
Jenderal Caine menyebut:
- Pesawat-pesawat lepas landas dari Missouri.
- Ini adalah operasi B-2 terbesar dalam sejarah AS.
- Puluhan rudal Tomahawk juga ditembakkan ke sejumlah target di Iran.
Seluruh operasi hanya berlangsung 25 menit antara pukul 18:40 hingga 19:05 waktu bagian timur AS (ET) pada 21 Juni.
Setelah selesai, seluruh pesawat keluar dari wilayah udara Iran dan kembali ke pangkalan. Selama operasi:
- Militer Iran tidak memberikan respons apapun.
- Jet tempur Iran tidak lepas landas.
- Sistem rudal permukaan-ke-udara Iran tidak mendeteksi keberadaan pesawat AS.
“Kami berhasil mempertahankan elemen kejutan total,” ujar Jenderal Caine. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


