EtIndonesia. Den Haag, Belanda — Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memuji Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas upayanya membawa perdamaian ke Ukraina. Ia mendesak negara-negara Eropa untuk berhenti mengkhawatirkan kemungkinan pengurangan komitmen Gedung Putih terhadap aliansi tersebut.
Berbicara pada hari pertama KTT NATO di Den Haag, Belanda, pada 24 Juni, Rutte menggambarkan rendahnya tingkat pengeluaran pertahanan oleh negara-negara Eropa sebagai “kerikil di dalam sepatu” yang telah mengganggu Trump dan para politisi AS lainnya.
Trump dijadwalkan hadir secara singkat dalam KTT tersebut, yang akan berakhir pada 25 Juni dengan ditetapkannya target baru untuk pengeluaran pertahanan.
Target yang diperkirakan akan disepakati adalah sebesar 5 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk setiap negara anggota, lebih dari dua kali lipat patokan 2 persen yang ditetapkan dalam KTT di Wales pada 2014. Target ini mencakup 3,5 persen PDB untuk pengeluaran militer inti dan 1,5 persen untuk infrastruktur terkait keamanan.
Rutte memulai pidatonya di Forum Publik NATO pada 24 Juni dengan menyambut baik komitmen Jerman terhadap pengeluaran pertahanan. Ia mengatakan, “Jerman kemarin menyatakan akan mencapai 3,5 persen, bukan pada tahun 2035, tetapi pada tahun 2029.”
Pekan lalu, Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengatakan, “Saya ingin mengonfirmasi bahwa Swedia akan mencapai target pengeluaran NATO yang baru, yaitu 5 persen dari PDB, dengan sedikitnya 3,5 persen PDB dialokasikan untuk kebutuhan pertahanan inti guna memenuhi target kapabilitas baru NATO.”
Rutte menyebut komitmen Swedia tersebut pada 24 Juni, dan juga memuji Polandia, Estonia, Latvia, dan Finlandia yang menurutnya hampir mencapai ambang 5 persen.
Laju Produksi Rusia yang ‘Mencengangkan’
Ia menekankan bahwa NATO perlu meningkatkan pengeluaran pertahanan karena “Rusia sedang merekonstruksi diri pada kecepatan yang benar-benar mencengangkan.”
Rutte menyatakan bahwa Rusia saat ini memproduksi lebih banyak perangkat keras dan amunisi militer dalam waktu tiga bulan dibandingkan seluruh Eropa dalam setahun. Ia juga menunjukkan bahwa ekonomi Rusia hanya sebagian kecil dari ukuran ekonomi Eropa.
Ketika ditanya oleh moderator sesi, CEO Munich Security Conference Benedikt Franke, tentang komitmen AS terhadap NATO dan pertahanan Eropa, Rutte menjawab:
“Saya ingin memuji Presiden Trump karena telah memulai dialog dengan [Presiden Rusia Vladimir] Putin. Dia satu-satunya pemimpin yang bisa memecahkan kebuntuan,” kata Rutte. “Tetapi akan membutuhkan waktu untuk mencapai kesepakatan. Sementara itu, kita harus memastikan Ukraina memiliki apa yang dibutuhkan untuk terus bertempur.”
Rutte mendapat tepuk tangan dari sekitar 500 hadirin ketika ia mengatakan bahwa perdamaian yang langgeng dan berkelanjutan dibutuhkan di Ukraina, serta kesepakatan yang memastikan bahwa Putin tidak bisa mengambil “satu mil persegi pun” lagi dari wilayah Ukraina.
Saat Franke bertanya tentang penilaiannya terhadap Amerika Serikat sebagai sekutu, Rutte menjawab: “Ada komitmen total dari presiden AS dan pimpinan senior terhadap NATO.”
Mantan PM Belanda itu mengatakan ia sering ditanya apakah Amerika Serikat akan mengurangi jumlah pasukan di Eropa, dan apakah panglima tertinggi NATO berikutnya akan berasal dari Eropa.
Awal Juni lalu, Letnan Jenderal Alexus G. Grynkewich dinominasikan oleh Dewan Atlantik Utara sebagai panglima tertinggi sekutu untuk Eropa. Dalam momen yang ringan, Rutte berkata, “Saat saya periksa paspornya, dia warga Amerika.”
Rutte menambahkan, “Saya terus mengatakan kepada orang Eropa untuk berhenti terlalu khawatir, mulai jalankan rencana investasi kalian, dan jangan terlalu khawatir soal Amerika Serikat.”
Pada 22 Juni, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan bahwa ia telah mencapai kesepakatan agar negaranya diberikan pengecualian dari target pengeluaran 5 persen.
“Spanyol, oleh karena itu, tidak akan menghabiskan 5 persen PDB-nya untuk pertahanan, tetapi partisipasi, bobot, dan legitimasi kami di NATO tetap utuh,” kata Sánchez dalam pidato yang disiarkan televisi.
Dalam konferensi pers pra-KTT pada 23 Juni, seorang jurnalis Yunani bertanya kepada Rutte bagaimana, mengingat pengecualian untuk Spanyol, ia akan memastikan bahwa janji 5 persen tidak menjadi janji kosong.
Rutte menjawab, “Terkait Spanyol, NATO tidak mengenal sistem pengecualian, dan NATO tidak membuat kesepakatan terselubung.”
Ia menjelaskan bahwa negara-negara dalam aliansi ini “memiliki hak kedaulatan, dan juga fleksibilitas, untuk menentukan jalur mereka dalam memenuhi komitmen NATO.”
“Perbedaan besar dari janji di Wales tahun 2014 adalah… akan ada laporan tahunan mengenai apa yang dibelanjakan oleh negara-negara,” kata Rutte. “Akan ada tinjauan rutin tentang… apa yang sedang terjadi.”
Ia menambahkan bahwa pada tahun 2029, NATO akan melakukan evaluasi dan menilai situasi keamanan internasional, dan mungkin perlu menambah jumlah pengeluaran melebihi 5 persen. (asr)
Sumber : Theepochtimes.com


