EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah serangan besar-besaran terhadap fasilitas nuklir Iran. Dalam situasi penuh tekanan ini, Iran tampaknya mulai menggeser poros diplomatiknya. Pada 25 Juni 2025, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Qingdao, Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh secara terbuka meminta dukungan lebih lanjut dari Beijing untuk meredakan situasi pasca-serangan dan menjaga perdamaian kawasan.
Pertemuan Para Menteri Pertahanan Negara Anggota SCO
Dalam pertemuan di Qingdao yang dihadiri oleh Menteri Pertahanan Tiongkok Dong Jun, serta Menhan dari Belarus, Pakistan, Kirgistan, dan Rusia, Aziz Nasirzadeh tidak sekadar melakukan basa-basi diplomatik. Ia menegaskan, “Iran baru saja menghadapi serangan yang serius, dan kami sangat menghargai sikap Tiongkok selama krisis ini. Kami berharap Beijing tetap bersikap adil dan konsisten demi menjaga gencatan senjata serta stabilitas kawasan.”
Permintaan ini diutarakan Ashtiani di tengah tekanan luar biasa terhadap pemerintah Iran, yang baru-baru ini mengalami kehancuran fasilitas nuklir akibat serangan militer Amerika Serikat dan sekutunya. Serangan tersebut bukan hanya memukul kekuatan militer Iran, tetapi juga menempatkan negara itu pada posisi yang sangat rentan dalam peta geopolitik global.
Tiongkok Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Global
Menanggapi permintaan Iran, Menteri Pertahanan Tiongkok, Dong Jun, menyampaikan komitmen Beijing untuk terus berperan aktif dalam menjaga stabilitas dan perdamaian dunia. Dong menegaskan, “Kerja sama dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa, SCO, dan forum multilateral lainnya sangat krusial untuk menjamin stabilitas strategis global. Tiongkok berkomitmen mendukung solusi damai dan kolaborasi yang setara di antara negara-negara kawasan.”
Pernyataan Dong Jun tersebut mendapat perhatian luas. Banyak pengamat menilai bahwa Tiongkok saat ini memang menjadi poros baru dalam upaya Iran mencari pelindung dan penyeimbang setelah kehilangan sebagian besar daya tawar militernya di mata dunia.
Iran Cari “Pelindung Baru” Pasca-Serangan
Sejumlah analis geopolitik membaca langkah Iran ini sebagai tanda bahwa Teheran mulai “menggantungkan harapan” pada kekuatan besar non-Barat. Dalam beberapa dekade terakhir, Iran dikenal kerap mengandalkan jaringan sekutunya di Timur Tengah, seperti Rusia dan Tiongkok, untuk menyeimbangkan tekanan dari Amerika Serikat dan sekutu Eropanya.
Namun, kali ini situasi dinilai berbeda. Serangan udara yang menghancurkan fasilitas nuklir Iran dianggap sebagai pukulan paling telak sepanjang sejarah program nuklir negara tersebut. Seperti dikemukakan oleh Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan terbarunya, “Iran sekarang tidak lagi punya kemampuan untuk membangun senjata nuklir. Fasilitas itu sudah hancur total.”
Gedung Putih: “Fasilitas Nuklir Iran Benar-Benar Dihancurkan”
Juru Bicara Gedung Putih, Leavitt, pada hari yang sama, 25 Juni 2025, juga menegaskan bahwa semua informasi yang menyebut Iran masih memiliki fasilitas nuklir operasional adalah kabar bohong atau hoaks. “Fakta di lapangan sudah jelas. Fasilitas nuklir Iran telah benar-benar dihancurkan. Dunia internasional tidak perlu lagi khawatir akan ancaman nuklir dari Teheran dalam waktu dekat,” tegas Leavitt dalam konferensi pers di Washington.
Tiongkok di Persimpangan Diplomasi Global
Posisi Tiongkok kini menjadi sorotan utama. Beijing dihadapkan pada dilema strategis: di satu sisi, menjaga hubungan baik dengan Iran penting untuk akses energi dan pengaruh di Timur Tengah; di sisi lain, Tiongkok harus berhati-hati agar tidak dinilai terlalu menantang kepentingan Amerika Serikat secara terbuka.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Fudan, Prof. Zhang Wei, mengatakan, “Langkah Iran meminta Tiongkok bersikap adil adalah kode keras bahwa mereka benar-benar butuh pelindung. Namun, Tiongkok secara tradisional selalu memilih jalan tengah, menyeimbangkan dukungan pada sekutunya tanpa terlibat terlalu dalam dalam konflik militer yang bisa memicu eskalasi global.”
Dampak Terhadap Stabilitas Kawasan dan Dunia
Serangan ke fasilitas nuklir Iran, dan langkah Iran mencari perlindungan baru lewat SCO, menandakan babak baru dalam perebutan pengaruh global antara blok Barat dan Timur. Keterlibatan Tiongkok di forum-forum multilateral seperti SCO diprediksi akan semakin intens, terutama dalam upaya meredakan konflik, menjaga aliran energi, dan mencegah konflik regional menjadi perang terbuka.
Kawasan Timur Tengah sendiri berada di persimpangan berbahaya. Negara-negara seperti Pakistan, Kirgistan, dan Belarus, yang juga hadir dalam pertemuan tersebut, secara terbuka menyatakan mendukung dialog damai dan kerja sama multilateral. Namun, sikap Iran yang kini lebih “membuka diri” ke Timur bisa menjadi game changer dalam geopolitik kawasan ke depan.
Penutup
Pertemuan di Qingdao kali ini menjadi bukti bahwa krisis di Iran telah mengguncang tatanan hubungan internasional secara nyata. Upaya Menteri Pertahanan Iran untuk mengajak Tiongkok turun tangan secara aktif bukan hanya urusan diplomasi, melainkan juga sinyal pergeseran strategis menuju era baru—di mana “keseimbangan kekuatan” antara Barat dan Timur kembali diuji di panggung dunia. (***)


