EtIndonesia. Pada hari Rabu (25/6), militer Iran mengonfirmasi kematian Ali Shadmani, petinggi Korps Garda Revolusi Islam. Dia memimpin Markas Pusat Khatam al-Anbiya, dan militer bersumpah untuk melakukan ‘balas dendam yang keras’ dari militer Israel atas ‘tindakan kriminal’ tersebut, lapor kantor berita negara IRNA. Shamdmani meninggal karena luka-luka yang dideritanya selama serangan Israel.
Kematiannya dikonfirmasi sehari setelah Presiden AS, Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara Tel Aviv dan Teheran. Shamdmani telah mengambil alih komando setelah Jenderal Gholamali Rashid, yang tewas dalam serangan awal Israel pada 13 Juni.
Pada 17 Juni, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mencuit: “Untuk kedua kalinya dalam 5 hari—IDF telah melenyapkan Kepala Staf Iran di Masa Perang, komandan militer tertinggi rezim tersebut. Ali Shadmani, pejabat militer paling senior di Iran dan penasihat militer terdekat Khamenei, tewas dalam serangan IAF di Teheran tengah, setelah mendapat informasi intelijen yang akurat.”
Dua pemimpin tertinggi membantah pembunuhan tersebut, salah satunya adalah penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei, Ali Shamkhani yang selamat tetapi mengalami luka-luka. Pernyataan yang dikaitkan dengan penasihat tersebut telah muncul, yang berbunyi : “Saya hidup dan siap mengorbankan diri saya sendiri.” Laporan juga mengatakan kondisinya stabil saat ini.
Berita tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi menggagalkan upaya pembunuhan. Mohammad Hossein Rangbaran, seorang pejabat senior dan penasihat Kementerian Luar Negeri, mencuit tentang hal itu pada hari Jumat.
Dia menulis, yang secara kasar diterjemahkan menjadi: “Sejak diumumkan bahwa Menteri Luar Negeri akan berangkat ke Jenewa untuk berunding dengan Troika Eropa, saya telah menerima banyak panggilan untuk memastikan bahwa rezim Zionis tidak menargetkannya.” (yn)


