Departemen Pertahanan Amerika Serikat baru-baru ini berhasil menguji sistem radar jarak jauh yang mampu mendeteksi ancaman rudal dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) maupun Rusia. Keberhasilan ini menarik perhatian internasional.
EtIndonesia. Pada 24 Juni, Departemen Pertahanan AS mengumumkan bahwa mereka berhasil menguji Long Range Discrimination Radar (LRDR) atau radar pengenal jarak jauh di Alaska. Sistem ini dapat mendeteksi ancaman rudal yang datang dari Rusia atau PKT dan berpotensi menjadi salah satu sensor utama dalam sistem pertahanan rudal “Golden Dome”.
Pihak Departemen Pertahanan menyatakan, radar LRDR berhasil mengidentifikasi, melacak, dan melaporkan data target rudal selama uji coba—semua ini merupakan tugas utama dalam sistem pertahanan “Golden Dome”.
“Radar LRDR adalah sistem pendeteksi yang dapat melihat lebih jauh. Ia meningkatkan jangkauan deteksi radar setidaknya 50% dan kemampuan pencarian lima kali lipat. Ia juga memiliki kemampuan lebih kuat dalam mengenali dan melacak objek yang terbang dengan cepat serta dapat membedakan antara hulu ledak asli dan umpan. Dengan kemampuan ini, AS kini unggul dalam deteksi rudal,” ujar Mark, pembawa acara kanal militer “Time Militer Mark.”
Wang Zhisheng, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertukaran Elit Asia Pasifik Tiongkok mengatakan : “Keberhasilan terbesar radar jarak jauh ini adalah membuktikan bahwa AS kini mampu mengunci rudal balistik musuh—baik dari Tiongkok (PKT) maupun Rusia—selama fase terbang di luar angkasa. Ini tentu memberikan keuntungan besar dalam sistem pertahanan rudal AS.”
Proyek ini menelan biaya sebesar 175 miliar dolar AS dan bertujuan untuk melindungi AS dan sekutunya dari serangan rudal balistik.
“Ini adalah bagian inti dari sistem ‘Golden Dome’. Amerika telah menunjukkan bahwa mereka selangkah lebih maju dalam persaingan luar angkasa dengan Tiongkok dan Rusia. Kemampuan radar ini dalam membedakan rudal dan benda-benda lain di luar angkasa seperti meteorit kecil, adalah sesuatu yang belum bisa dilakukan oleh Tiongkok dan Rusia,” ujar Wang Zhisheng.
Radar pengenal jarak jauh (LRDR) ini dibangun oleh perusahaan Lockheed Martin dan merupakan bagian dari sistem pertahanan rudal berbasis darat Amerika Serikat yang ditempatkan di tahap tengah penerbangan.
Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan operasional pencegat rudal yang ditempatkan di Alaska dan California, yang saat ini dalam status siaga untuk menghancurkan rudal yang masuk kapan saja.
Mark: “Mencoba lolos dari deteksi radar LRDR sangat sulit, karena radar itu selalu aktif memancarkan dan menerima sinyal. Artinya, setiap peluncuran roket atau rudal oleh Tiongkok atau Rusia kemungkinan besar akan terdeteksi. Tidak ada cara untuk menghindarinya.”
Uji coba penerbangan ini dilakukan pada 23 Juni di Stasiun Angkatan Udara Clear, Alaska, oleh Badan Pertahanan Rudal (MDA), Angkatan Luar Angkasa AS, dan Komando Utara AS.
Dalam uji coba tersebut, target ancaman yang dikembangkan oleh MDA diluncurkan di atas Samudra Pasifik Utara dan terbang sejauh 2.000 km ke arah selatan pantai Alaska, lalu dilacak oleh radar LRDR di pangkalan militer luar angkasa Clear.
Wang Zhisheng: “Dengan kata lain, dalam persaingan luar angkasa antara AS dan Tiongkok-Rusia, AS kini berada di posisi paling dominan. Ini menciptakan situasi asimetris. Jika Tiongkok atau Rusia ingin menembakkan rudal balistik ke AS, mereka berisiko dicegat di luar angkasa. Namun sebaliknya, mereka belum memiliki kemampuan serupa untuk menghadapi serangan rudal AS. Situasi asimetris ini akan membuat Tiongkok dan Rusia makin gugup dan lebih berhati-hati.”
Selain mendukung pertahanan rudal, radar LRDR juga berfungsi untuk melacak benda-benda di luar angkasa dan memberikan kemampuan kesadaran situasional di ruang angkasa—komponen penting lain dari sistem “Golden Dome”.
Mark: “PKT sangat khawatir dengan penempatan radar peringatan dini jarak jauh oleh AS di wilayah sekitarnya. Contohnya radar X2 dalam sistem THAAD di Korea Selatan, atau radar peringatan dini ‘Pave Paws’ di Gunung Leshan, Taiwan. Radar ini mampu mendeteksi aktivitas rudal dan roket di wilayah udara Tiongkok dari jarak ribuan kilometer. Oleh karena itu, radar-radar ini menjadi alat pencegah strategis yang sangat mematikan bagi PKT.”
Sebelumnya, pada Mei, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rancangan sistem pertahanan rudal “Golden Dome”, yang memicu keresahan dan ketidakpuasan dari pihak PKT. Namun para ahli menilai, teknologi militer AS jauh lebih unggul dan penolakan dari PKT tidak akan mengubah keadaan. (hui/asr)
Meng Xinqi | Chang Chun & Tony – NTD


