EtIndonesia. Di tengah lautan manusia yang serba kompleks, dua saudara terpisah jauh satu sama lain. Tampaknya mustahil mereka bisa bertemu kembali. Namun takdir berkata lain—suatu keajaiban membawa mereka bersatu kembali. Apa yang telah mengatur pertemuan tak terduga ini?
Zhang Na dan Zhang Cheng adalah dua saudara yang nasibnya berbeda seperti langit dan bumi.
Setiap hari, sang kakak, Zhang Na, harus naik ke pegunungan untuk menebang kayu. Jika dia tak berhasil membawa pulang satu ikat penuh, maka dia akan dimarahi dan bahkan dipukul. Sementara itu, adiknya yang enam tahun lebih muda, Zhang Cheng, menjalani hidup nyaman—sekolah di akademi, menulis dan membaca, hidupnya tercukupi dalam segala hal.
Kenapa nasib dua saudara ini sangat berbeda? Ternyata mereka adalah saudara tiri—mereka lahir dari ibu yang berbeda.
Ibu kandung Zhang Na meninggal tidak lama setelah dia lahir. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan seorang wanita bermarga Niu, yang melahirkan Zhang Cheng. Nyonya Niu memiliki watak keras dan tidak menyukai Zhang Na. Dia memperlakukannya seperti budak—memberi makanan kasar, memaksanya bekerja berat—sementara terhadap anak kandungnya sendiri, dia memperlakukannya seperti permata. Namun Zhang Na adalah anak yang jujur dan berbakti. Dia tak menyalahkan ayah atau ibu tirinya, dan dia tetap menyayangi Zhang Cheng seperti adik kandungnya.
Pengorbanan Seorang Adik
Suatu malam, Zhang Na berbaring lemas di tempat tidur. Karena hari itu dia tak bisa memenuhi target kayu, ibu tirinya menghukumnya tidak diberi makan. Ketika Zhang Cheng pulang dari akademi dan melihat kondisi kakaknya yang pucat, dia khawatir: “Kakak, apa kamu sakit?”
“Tidak, hanya lapar saja,” jawab Zhang Na.
Setelah didesak, Zhang Na pun akhirnya berkata jujur. Mendengarnya, Zhang Cheng segera keluar rumah dan kembali dengan membawa roti panggang. Ternyata, dia diam-diam mengambil tepung dari rumah dan meminta bantuan tetangga untuk memasaknya. Zhang Na makan dengan lahap, lalu menasihati adiknya agar tak melakukan hal seperti itu lagi.
“Kalau ibu tahu, kamu bisa celaka. Lagipula, makan sekali sehari tidak akan membuatku mati kelaparan,” katanya.
Zhang Cheng yang baik hati sangat khawatir: “Kakak, tubuhmu sudah lemah. Bagaimana bisa menebang kayu sebanyak itu setiap hari?”
Dia berulang kali membujuk ibunya agar memperlakukan kakaknya lebih baik, tapi sang ibu tetap tak berubah.
Keesokan paginya, Zhang Cheng tidak pergi ke akademi, melainkan ke gunung untuk membantu kakaknya. Dia berusaha keras mematahkan ranting-ranting pohon, tangannya sampai terluka, dan sepatunya robek. Zhang Na yang khawatir memaksanya pulang, bahkan mengancam akan menyakiti diri sendiri dengan kapak jika adiknya tak mau pergi.
Zhang Cheng akhirnya pulang sambil berkata dalam hati: “Besok aku akan bawa kapak sendiri.”
Malamnya, Zhang Na pergi ke akademi menemui guru Zhang Cheng dan memohon: “Tolong awasi adik saya, jangan biarkan dia ke gunung, saya khawatir akan bahaya harimau.”
Namun keesokan harinya, Zhang Cheng tetap datang ke gunung, membawa kapak sendiri. Dia hanya tersenyum dan mulai menebang kayu. Sampai akhirnya mereka berhasil mengisi penuh ikat kayu, dia baru turun gunung dalam kondisi penuh peluh.
Guru Zhang Cheng awalnya marah dan hendak menghukumnya, namun setelah mendengar cerita sebenarnya, dia merasa iba dan akhirnya mengizinkan Zhang Cheng untuk membantu kakaknya dari waktu ke waktu.
Diterkam Harimau, Mati dan Hidup Kembali
Suatu hari, saat mereka sedang menebang kayu, seekor harimau tiba-tiba muncul dan langsung menerkam Zhang Cheng! Tanpa pikir panjang, Zhang Na mengejar dengan sekuat tenaga dan melemparkan kapaknya ke kaki harimau. Harimau itu mengaum kesakitan dan lari lebih cepat, menghilang bersama Zhang Cheng ke dalam hutan.
Zhang Na jatuh terduduk dan menangis sejadi-jadinya: “Adikku bukan adik sembarangan, dia mati demi aku. Untuk apa aku hidup?”
Dia lalu mengayunkan kapak ke lehernya sendiri. Warga yang datang berusaha menghentikannya, namun kapak itu telah menancap dalam. Zhang Na akhirnya pingsan dan dibawa pulang.
Nyonya Niu melihatnya lalu menangis dan memakinya: “Kamu yang membunuh anakku! Sekarang pura-pura ingin menebus dosa?!”
Zhang Na, meski terluka parah, hanya berkata: “Maafkan aku, Ibu. Ini salahku. Kalau adik meninggal, aku pun tak ingin hidup.”
Dia terus menangis dan menolak makan. Tiga hari kemudian, dia pun meninggal.
Petualangan Aneh di Alam Baka
Setelah meninggal, roh Zhang Na tiba di dunia arwah dan bertemu seorang dukun desa yang bisa menyeberang antara dunia hidup dan mati. Dia bertanya tentang keberadaan adiknya, tapi sang dukun tak tahu. Mereka lalu bertemu seorang pria berjubah hitam yang menunjukkan daftar nama arwah, tapi tak ada nama Zhang Cheng di sana—yang artinya, Zhang Cheng belum mati.
Zhang Na tak percaya. Mereka terus mencari hingga masuk ke kota arwah, bertanya ke mana-mana, tapi tetap tidak menemukan jejak Zhang Cheng.
Saat harapan hampir padam, tiba-tiba semua arwah berseru: “Bodhisatwa datang!” Sosok tinggi besar memancarkan cahaya keemasan turun dari awan, menerangi alam baka.
Sang dukun berkata penuh semangat: “Zhang Na, kamu sungguh beruntung! Bodhisatwa hanya datang ke alam baka puluhan tahun sekali, untuk menyelamatkan arwah-arwah yang menderita.”
Semua arwah sujud dan membaca doa. Bodhisatwa memercikkan air suci dari ranting pohon willow. Setetes air jatuh ke leher Zhang Na, dan ajaibnya, lukanya sembuh dan rasa sakit menghilang. Dia perlahan membuka mata—Zhang Na hidup kembali setelah dua hari meninggal dunia.
Seribu Mil Mencari Adik
Setelah bangkit dari kematian, Zhang Na pamit pada ayahnya: “Ayah, aku akan mencari adikku, ke mana pun dia berada. Jika aku tidak pulang, anggaplah aku telah mati.”
Ayahnya hanya bisa menangis menyaksikan kepergian putranya.
Zhang Na menempuh perjalanan jauh. Dia kehabisan bekal dan harus mengemis sambil terus mencari. Setahun kemudian, dia tiba di Jinling (sekarang Jiangning, Jiangsu).
Suatu hari, saat berjalan di jalanan, dia bertemu rombongan penunggang kuda. Seorang pemuda yang menunggang kuda kecil tiba-tiba menatapnya, melompat turun dan berseru, : “Bukankah ini kakakku?!”
Zhang Na menoleh—dan ternyata benar, itu Zhang Cheng! Mereka langsung berpelukan dan menangis haru.
Zhang Cheng membawa kakaknya pulang ke rumah pejabat tempat dia tinggal—ternyata, harimau yang menerkamnya hanya membawanya pergi lalu meninggalkannya di pinggir jalan. Seorang pejabat yang kebetulan lewat, Zhang Biejia, melihatnya, merasa iba, dan merawatnya. Karena Zhang Biejia tidak punya anak, dia mengangkat Zhang Cheng sebagai anak angkat.
Reuni Tiga Bersaudara dan Rahasia Keluarga
Saat Zhang Biejia mendengar kisah mereka, dia sangat tersentuh. Lalu bertanya asal keluarga mereka. Ketika mendengar bahwa ayah mereka berasal dari Shandong, Zhang Biejia pun terkejut: “Saya juga dari sana! Mungkin kita masih keluarga!”
Tak lama, seorang wanita tua keluar—ibu angkat Zhang Biejia. Dia bertanya kepada Zhang Na, : “Apakah kamu anak dari Zhang Bingzhi?”
Zhang Na menjawab: “Ya. Tapi bagaimana Ibu tahu?”
Wanita tua itu langsung menangis dan berkata: “Kalau begitu, kalian adalah adik-adik dari Zhang Biejia!”
Dia mengisahkan bahwa dulu dia menikah dengan ayah mereka, tapi terpisah saat perang. Dia melahirkan seorang anak, yaitu Zhang Biejia. Tak lama kemudian, ayah mereka menikah lagi dan punya dua anak: Zhang Na dan Zhang Cheng.
Akhirnya, ketiganya menyadari bahwa mereka adalah saudara kandung. Zhang Biejia adalah yang tertua (41 tahun), Zhang Na anak kedua (22 tahun), dan Zhang Cheng yang termuda (16 tahun). Mereka bertiga akhirnya bersatu kembali dalam haru dan kebahagiaan.
Zhang Biejia lalu mengajak dua adiknya dan ibunya kembali ke kampung halaman di Henan untuk berkumpul kembali dengan ayah mereka. Ayah mereka terkejut dan terharu hingga tak bisa berkata-kata ketika melihat anak-anaknya kembali—terutama melihat istri lamanya yang telah lama hilang.
Zhang Cheng pun menangis saat mendengar bahwa ibu tirinya, Nyonya Niu, telah meninggal. Zhang Na menghiburnya: “Jangan sedih, adikku. Orang yang sudah meninggal tak akan bisa kembali. Kita masih harus berbakti kepada ayah dan ibu kita yang ada.”
Penutup: Kebaikan Akan Selalu Diberi Jalan
Zhang Cheng, sang adik yang baik hati, diselamatkan dari maut oleh keberuntungan. Zhang Na, sang kakak yang jujur dan berbakti, bangkit kembali dari kematian karena karunia surgawi. Zhang Biejia, yang pernah menolong Zhang Cheng tanpa pamrih, ternyata adalah saudara kandungnya.
Mungkin, semua ini bukan kebetulan. Di balik semua keajaiban ini, tampaknya ada tangan tak terlihat yang menyatukan kembali keluarga yang terpisah, sebagai ganjaran atas cinta, kesetiaan, dan kebaikan yang tulus. (jhn/yn)


