Silicon Valley-nya Tiongkok di Shenzhen Dilanda Krisis Ekonomi, Ribuan Pengangguran Tidur di Jalanan

EtIndonesia. Akibat perang dagang antara AS dan Tiongkok serta pengawasan ketat oleh pemerintahan partai Komunis Tiongkok, banyak perusahaan bangkrut dan investasi asing hengkang. Kota Shenzhen, yang dulunya dijuluki sebagai “Lembah Silikon Tiongkok,” kini mengalami musim dingin ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jumlah besar pengangguran terpaksa tidur di jalanan.

“Ini jembatan penyeberangan di Stasiun Timur, Shenzhen! Lihat itu? Tunawisma,” kata seorang vlogger Tiongkok. 

Belakangan ini, sejumlah vlogger Tiongkok mengungkap kondisi resesi parah di Shenzhen. Dalam video-video yang mereka unggah, terlihat banyak tunawisma berbaring di bawah jembatan, di alun-alun, maupun di gang belakang gedung perkantoran. 

Di antara mereka ada mantan insinyur perangkat lunak, pekerja konstruksi, dan kurir pengantar makanan. Mereka mencari pekerjaan di siang hari, dan tidur di jalanan saat malam. Untuk menghemat biaya, ada yang hanya makan mi instan dan minum air ledeng.


“Shenzhen adalah kota maju, tapi sekarang banyak perusahaan bangkrut, dan banyak orang tidur di alun-alun dan bawah jembatan. Ini mencerminkan keruntuhan ekonomi di bawah kekuasaan Partai Komunis. Rakyat benar-benar tak punya pekerjaan,” ujar Li Yuanhua, akademisi Tiongkok di Australia. 

Pasca pandemi, ekonomi Tiongkok merosot tajam, dan banyak modal asing angkat kaki. Sektor manufaktur dan jasa di Shenzhen terpukul hebat. Kota itu kini sepi dan muram, sementara jumlah pengangguran—termasuk talenta kelas atas—semakin banyak.

Seorang vlogger perempuan Tiongkok:  “Datanglah ke Distrik Longgang. Berdirilah di atas jembatan penyeberangan di dekat pasar kerja Sanhe, dan lihat ke bawah—penuh orang yang tidur di lantai. Mereka adalah pekerja lepas yang bahkan tidak sanggup membayar tempat tidur seharga 15 yuan semalam. Mereka hanya bisa tidur di tangga. Lihatlah, inilah Shenzhen.”

Banyak video menunjukkan bahwa fenomena pengangguran yang tidur di jalanan di Shenzhen sudah berlangsung selama dua hingga tiga tahun terakhir.

Ai Shicheng, mantan pendiri LSM dan editor media di Shenzhen:  “Beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi, banyak modal asing pindah ke Asia Tenggara. Termasuk perusahaan swasta dan milik perseorangan, banyak yang pindah ke India dan Vietnam. Terutama perusahaan besar dan raksasa industri yang hengkang, dampaknya terhadap rantai industri sangat besar. Akibatnya, banyak orang kehilangan pekerjaan, dan karena tak menemukan pekerjaan, mereka akhirnya menjadi gelandangan.” (Hui/asr)

Laporan wartawan NTD: Li Yun dan Qiu Yue.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine