EtIndonesia. Badan SAR Nasional menjawab tudingan atas lambatnya penanganan untuk mengevakuasi wisatawan asal Brasil, Juliana Marins setelah jatuh di Gunung Rinjani. Ia sebelumnya dilaporkan jatuh ke arah Danau Segara Anak di sekitar Cemara Nunggal, saat menuju ke puncak Gunung Rinjani.
Basarnas menyatakan korban ditarik dari kedalaman 600 meter menuju Last Known Position atau lokasi terakhir korban terlihat (LKP) pada Rabu (25/6) pukul 13.50 WITA.
Dalam konferensi pers yang digelar di Posko Sembalun, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan kendala utama yang dihadapi tim.

“Awalnya kita ingin melaksanakan evakuasi secepat mungkin dengan menggunakan pesawat heli dan itu menjadi alternatif pertama dan ternyata cuaca tidak memungkinkan,” terang Mohammad Syafii.
Ia menambahkan alternatif kedua, dengan adanya korban yang sudah bisa ditarik ke atas, seandainya diperjalanan cuaca bagus ingin kembali menghadirkan helikopter untuk mengakut menggunakan media udara, namun ternyata juga kondisi cuaca tidak memungkinkan.
“Sehingga evakuasi korban terpaksa kita harus laksanakan dengan ditandu. Jadi dengan ditandu ini memang akhirnya memerlukan waktu yang cukup lama,” jelasnya.
Sekitar pukul 15.50 WITA, korban mencapai Pos Pelawangan Sembalun. Perjalanan dari Pos Pelawangan Sembalun menuju Posko Sembalun memakan waktu sekitar 6 jam. Setelah tiba di Posko Sembalun, jenazah JDSP segera dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda NTB menggunakan mobil ambulans untuk penanganan lebih lanjut.
Operasi SAR yang berlangsung selama beberapa hari ini melibatkan kolaborasi dari berbagai pihak, di antaranya Basarnas, BSG, kru Helikopter HR-3606, Kantor SAR Mataram, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), TNI, Polri, BPBD Lombok Timur, Unit SAR Lombok Timur, PT. AMMAN, EMHC, Lorac, Rinjani Squard, Damkar, Relawan Rinjani, porter, dan unsur terkait lainnya. (asr)


