Tidak ada pengobatan yang cocok untuk semua orang dengan PCOS—terutama jika kesehatan mental diabaikan
Zena le Roux
Tingkat Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau sindrom ovarium polikistik secara global terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan hingga 21 persen perempuan yang terpengaruh. Kenaikan ini disertai dengan komplikasi jangka panjang yang serius seiring bertambahnya usia, termasuk infertilitas, diabetes, penyakit jantung, dan tantangan kesehatan mental.
Namun saat PCOS disebutkan, sering kali hanya dianggap sebatas jerawat, haid tidak teratur, atau kenaikan berat badan. Pandangan yang sempit ini bisa menyebabkan keterlambatan dalam penanganan. PCOS jauh lebih kompleks dari sekadar hormon dan siklus menstruasi—ini adalah kondisi yang memengaruhi seluruh tubuh dan memerlukan penanganan menyeluruh.
Hubungan Dengan Suasana Hati
PCOS dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan mental dan kognitif, termasuk gejala yang mirip dengan ADHD (attention-deficit/hyperactivity disorder).
Sebuah meta-analisis yang melibatkan sekitar 31.000 perempuan mengonfirmasi bahwa PCOS berkaitan dengan depresi, kecemasan, dan penurunan kualitas hidup.
“Tingginya prevalensi gangguan kesehatan mental pada perempuan dengan PCOS sebagian dapat dijelaskan oleh ketidakseimbangan hormon,” ujar Mpho Tshukudu, seorang ahli gizi integratif dan fungsional, kepada The Epoch Times.
Perempuan dengan PCOS sering kali memiliki kadar androgen (hormon pria seperti testosteron) yang lebih tinggi, yang dapat memengaruhi fungsi otak. Mereka juga dapat mengalami gangguan dalam memproses triptofan, nutrisi yang dibutuhkan untuk menghasilkan serotonin, zat kimia otak yang membuat perasaan senang. Alih-alih menghasilkan cukup serotonin, kelebihan triptofan justru meningkatkan peradangan dan risiko depresi.
Resistensi insulin—ciri umum pada PCOS—dapat mengganggu kerja neurotransmiter seperti dopamin, serotonin, dan GABA (asam gamma-aminobutirat). Gangguan pada zat kimia otak ini dapat mengganggu pengaturan suasana hati dan mengurangi energi otak, yang turut berkontribusi terhadap kecemasan dan depresi, kata Tshukudu.
Citra Tubuh yang Terganggu
Masalah citra tubuh dan perilaku makan yang terganggu juga umum terjadi pada penderita PCOS. Kadar androgen yang tinggi bisa meningkatkan nafsu makan dan emosi yang tidak stabil, sementara resistensi insulin menyebabkan lonjakan dan penurunan gula darah yang memicu hasrat berlebihan terhadap karbohidrat. Ketika faktor biologis ini dipadukan dengan tekanan sosial untuk bertubuh kurus dan stigma terkait berat badan, dapat memicu pola makan berlebihan atau siklus membatasi dan makan berlebihan.
“Saya telah bekerja dengan banyak perempuan usia 20–30-an yang didiagnosis dengan PCOS,” kata Yasi Ansari, ahli gizi terdaftar yang fokus pada gangguan makan.
“Mereka sering diberi tahu untuk mengubah pola makan secara drastis atau menurunkan berat badan, yang bisa terasa membingungkan dan membuat stres. Fokus berlebihan pada berat badan bisa memicu gangguan makan dan merusak hubungan mereka dengan makanan dan tubuh mereka,” tambahnya.
Fluktuasi hormon juga bisa menyebabkan jerawat dan pertumbuhan rambut berlebih seperti pola laki-laki, yang dapat memengaruhi rasa percaya diri.
Menangani Seluruh Aspek Individu
Ansari menekankan bahwa penanganan harus individual dan menyeluruh, dengan rencana yang mencakup kebutuhan fisik dan mental secara lengkap.
Ada banyak peluang untuk meningkatkan perawatan, tambah Dr. Licy Yanes Cardozo, ilmuwan sekaligus ahli endokrin di University of Mississippi Medical Center. Pendekatan komprehensif dan multidisipliner sangat penting untuk menangani PCOS secara efektif dalam jangka panjang.
“Menangani kesehatan mental harus menjadi prioritas dalam perawatan perempuan dengan PCOS,” ujar Cardozo.
Tshukudu mencatat bahwa kesehatan mental sering kali diabaikan atau tidak ditangani secara memadai dalam rencana pengobatan PCOS saat ini.
Meski pedoman merekomendasikan melibatkan profesional kesehatan mental, seperti psikolog atau psikiater, mereka sering tidak menjadi bagian dari tim perawatan. Ansari mengatakan fokus lebih banyak pada kesehatan hormonal—berat badan, kesuburan, resistensi insulin, dan siklus menstruasi—yang biasanya ditangani oleh ginekolog, ahli endokrin, dan ahli gizi.
Penelitian menunjukkan bahwa menangani kesehatan mental secara langsung dapat memberikan dampak nyata. Misalnya, dalam sebuah studi di Iran, program pengurangan stres berbasis mindfulness membantu perempuan dengan PCOS mengurangi rasa cemas dan kekhawatiran. Mereka mengikuti delapan sesi berdurasi 90 menit dua kali seminggu untuk berfokus pada pengelolaan stres. Hasil menunjukkan bahwa kelompok yang mengikuti program ini mengalami penurunan kecemasan secara signifikan, bahkan satu bulan setelah program berakhir.
Tinjauan sistematis lainnya juga menunjukkan peningkatan gejala kecemasan dan depresi pada perempuan dengan PCOS yang rutin berolahraga.
Ubah Pola Makan
“Ketika saya memberikan panduan nutrisi, saya fokus pada praktik yang mendukung energi, asupan gizi, dan kesejahteraan—tanpa memusatkan semuanya pada berat badan. Tujuannya adalah agar klien tidak merasa bersalah atau tertekan untuk membatasi jenis makanan tertentu,” ujar Ansari.
Tanpa memandang usia atau berat badan, perbaikan pola makan dan aktivitas fisik teratur merupakan garis depan penanganan PCOS.
Meski tidak ada diet tunggal untuk PCOS, pola makan seperti diet Mediterania dan DASH menunjukkan hasil menjanjikan:
- Diet Mediterania menekankan konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, minyak zaitun, serta ikan dan unggas dalam jumlah sedang. Diet ini terkenal akan manfaatnya bagi jantung dan efek antiinflamasi.
- Diet DASH fokus pada buah, sayur, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, dan susu rendah lemak, sambil membatasi garam, gula, dan lemak jenuh.
Pola makan yang kaya buah dan sayur rendah glikemik, produk susu rendah lemak dalam jumlah kecil, ikan kaya omega-3, daging tanpa lemak, lemak sehat, kacang-kacangan, biji-bijian, dan alkohol dalam jumlah sedang tampaknya membantu memperbaiki gejala PCOS.
Sementara itu, metode khusus seperti puasa intermiten dan pengganti makanan masih belum banyak diteliti, namun data awal menunjukkan potensi manfaat tambahan bagi kesehatan metabolik perempuan dengan PCOS.
Untuk mengurangi peradangan, menstabilkan gula darah, dan mendukung kesehatan mental, Tshukudu merekomendasikan strategi berikut:
- Konsumsi berbagai buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang mentah, biji-bijian, produk fermentasi, daging tanpa lemak, rempah-rempah—kaya serat, prebiotik, dan fitonutrien yang mendukung kesehatan usus dan pengaturan gula darah.
- Pilih karbohidrat rendah glikemik serta lemak dan protein berkualitas tinggi, untuk meningkatkan rasa kenyang, menstabilkan gula darah, dan mengurangi peradangan.
- Sertakan omega-3 dari ikan berlemak (salmon, makarel, sarden, herring) serta sumber nabati seperti biji chia, biji rami, kenari, spirulina, dan chlorella.
- Minum cukup cairan seperti air putih, teh herbal tanpa pemanis, dan teh buah untuk mendukung pencernaan dan hidrasi.
- Minimalkan makanan ultra-proses dan tinggi gula, yang biasanya tinggi kalori tetapi rendah serat, vitamin, dan mineral—mudah menyebabkan makan berlebihan dan mengganggu keseimbangan gula darah dan hormon.
Variasikan Intervensi Gaya Hidup
Karena PCOS memengaruhi banyak aspek kesehatan—dari hormon, metabolisme, hingga suasana hati dan kognisi—maka perawatannya harus luas dan multidisipliner.
Selain nutrisi yang baik, Tshukudu menekankan pentingnya faktor gaya hidup lainnya.
Masalah tidur umum terjadi pada penderita PCOS. Banyak yang mengalami kualitas tidur buruk dan rasa kantuk di siang hari. Remaja sering mengalami perubahan ritme sirkadian, seperti waktu tidur yang lebih larut dan pelepasan melatonin yang lebih lama di malam hari.
Kegiatan seperti pernapasan dalam, yoga, waktu di alam terbuka, dan hobi kreatif seperti merajut atau melukis dapat membantu mengurangi stres dan mendukung regulasi emosi, menurut Tshukudu.
Terakhir, gabungkan latihan aerobik, latihan kekuatan, dan olahraga ringan seperti Pilates. Aktivitas fisik membantu meningkatkan sensitivitas insulin, menyeimbangkan hormon, menurunkan peradangan, dan dapat mengurangi gejala kecemasan dan depresi. (asr)


