Situasi politik Partai Komunis Tiongkok (PKT) semakin kacau dan misterius, serta rumor tentang perubahan kekuasaan di Beijing semakin sering terdengar. Para loyalis Xi Jinping yang sebelumnya diangkat ke posisi penting di partai, pemerintahan, dan militer, kini satu per satu sedang diselidiki. Rumor bahwa Xi kehilangan kendali atas militer terus mencuat. Sejumlah analis menilai bahwa kekuatan “pasukan Xi” sedang dilucuti dan kekuasaan militernya runtuh. Kini, segala tindakan Xi hanyalah sandiwara belaka
EtIndonesia. Sidang ke-16 Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (KRN) ke-14 ditutup pada 27 Juni. Dalam sidang itu, Miao Hua dicopot dari jabatannya sebagai anggota Komisi Militer Pusat (CMC) Partai Komunis Tiongkok. Kemudian diumumkan bahwa delapan orang dicopot dari statusnya sebagai wakil rakyat nasional, termasuk Letnan Jenderal Li Hanjun, Kepala Staf Angkatan Laut, yang status keanggotaannya sebagai wakil resmi dihentikan.
Salah satu loyalis Xi lainnya, Wakil Ketua CMC He Weidong, belum muncul di depan publik sejak penutupan sidang KRN pada 11 Maret tahun ini. Keberadaannya masih tidak diketahui, bahkan dikabarkan telah meninggal dunia. Miao Hua dan He Weidong selama ini dianggap sebagai “tangan kanan dan kiri” Xi di tubuh militer.
Pada November tahun lalu, Miao Hua diberhentikan untuk penyelidikan. Pada April 2025, ia dicopot dari jabatan sebagai wakil rakyat nasional, dan pada Mei, KRN untuk pertama kalinya mengungkap bahwa Miao Hua terlibat dalam pelanggaran hukum.
Pengamat politik Zhou Xiaohui menulis di Epoch Times pada 27 Juni bahwa rumor tentang Li Hanjun yang terkena kasus sudah beredar sejak Miao Hua dinyatakan jatuh, dan Menteri Pertahanan Dong Jun dikabarkan sedang diselidiki. Kini rumor tersebut terbukti benar: Li Hanjun benar-benar tersandung masalah.
Zhou menilai karier Li Hanjun sangat terkait dengan Miao Hua. Miao yang berasal dari Angkatan Darat ke-31—kelompok militer yang merupakan basis kekuasaan Xi—memiliki hubungan dekat dengan Xi dan kariernya melonjak berkat dukungan Xi. Sejak beredar kabar bahwa Xi kehilangan kendali militer setelah rapat pleno ketiga tahun lalu, nasib Miao mulai berubah drastis. Penangkapannya yang cepat juga diduga terkait upaya Miao, atas restu Xi, untuk merebut kembali kekuasaan militer—namun gagal dan akhirnya menyeret dirinya sendiri.
Ahli hukum liberal yang kini tinggal di luar negeri, Profesor Yuan Hongbing, sebelumnya mengungkap bahwa setelah ditangkap, Miao Hua memberikan informasi tentang banyak perwira tinggi militer, yang menimbulkan kepanikan besar di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Setelah pencopotan Miao Hua, komentator politik Chen Pokong yang berbasis di AS menyatakan dalam program medianya bahwa peristiwa ini mengindikasikan dua hal:
Pertama, akan terjadi perombakan besar di Komisi Militer Pusat pada sidang pleno keempat, karena dari tujuh anggota, tiga telah jatuh (Li Shangfu, Miao Hua, He Weidong).
Kedua, Miao Hua telah resmi diumumkan jatuh, maka nasib He Weidong kemungkinan akan segera menyusul.
Chen percaya bahwa He Weidong sempat membantu Xi Jinping dalam upaya kudeta balik, namun digagalkan oleh Zhang Youxia. Akibatnya, Xi kehilangan tangan kanannya di militer. Inilah alasan mengapa slogan “ketua komisi militer bertanggung jawab penuh” kini mulai ditinggalkan. Ini juga menjadi bukti berlanjut bahwa Xi benar-benar kehilangan kendali atas militer.
Artikel Zhou Xiaohui juga menyebut, berdasarkan berbagai informasi yang dirilis pihak militer dan pemerintah selama setahun terakhir, serta jatuhnya orang-orang penting Xi seperti Miao Hua dan He Weidong, juga jatuhnya sejumlah jenderal militer yang dipromosikan Xi, hingga absennya wajah Xi dari sampul majalah militer secara beruntun—semua menunjukkan bahwa hilangnya kekuasaan Xi di militer merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Tidak ada penguasa yang dengan sukarela mencopot satu per satu tangan kanannya. Kini, semua tindakan Xi hanyalah bagian dari pertunjukan, dan publik sebaiknya tidak terlalu larut dalam drama tersebut.
Baru-baru ini, Epoch Times memperoleh informasi dari sumber kredibel bahwa Xi Jinping sebenarnya sudah mulai kehilangan kekuasaan sejak April 2024. Meski secara lahiriah masih berada di tampuk kekuasaan, kenyataannya pengaruhnya telah surut. Tokoh-tokoh seperti mantan Perdana Menteri Wen Jiabao dan Wakil Ketua Pertama CMC Zhang Youxia kini menjadi penentu utama arah politik Tiongkok. Meski Xi telah mencoba melakukan serangan balik, bahkan menggunakan kekerasan, semua berakhir dengan kegagalan. Kini, Xi hanya sekadar menjalankan skenario yang telah ditentukan.
Pada 26 Juni, pengamat independen Du Zheng menulis di media Taiwan Shang Bao, bahwa ia memperoleh dua informasi dari dua saluran berbeda:
Pertama, seorang tokoh politik senior anti-Xi di Beijing mengatakan, “Tunggu saja, perubahan akan datang di musim gugur, dan segalanya akan terlihat jelas pada Oktober.”
Kedua, seorang anak dari pejabat tinggi militer yang telah meninggal dunia mengatakan bahwa “kondisi politik di Beijing akhir-akhir ini sangat aneh,” namun ia tidak bisa berkata banyak.
Du menilai kedua pernyataan ini seperti sandi politik, dan selaras dengan berbagai rumor politik yang beredar belakangan ini.
Yuan Hongbing sebelumnya mengungkap bahwa kalangan “pangeran merah” (anak dan cucu elite PKT) telah mencapai kesepakatan: Xi Jinping tidak boleh melanjutkan masa jabatannya. Beberapa keluarga pangeran merah bahkan sedang menyusun sebuah surat rekomendasi, merinci kesalahan Xi selama menjabat—baik dalam maupun luar negeri—dan menuntut agar ia mundur secara sukarela.
Du Zheng dalam artikel sebelumnya juga menyebut, bahwa beberapa perwira tingkat bawah di zona militer tertentu tengah merencanakan kudeta dengan meniru “Pemberontakan Wuchang.” Walau belum pasti apakah rencana itu berubah, ia menilai bahwa selama rezim PKT masih berdiri, siapa pun yang naik tak akan membawa perubahan. Oleh karena itu, menurutnya, satu-satunya solusi adalah menggulingkan kekuasaan PKT.
Pembawa acara Da Yu Breaking News, Li Dayu, menyatakan bahwa semua ini menunjukkan bahwa menjatuhkan Xi sudah menjadi kesepakatan dan fakta bahwa mereka bisa mencapai kesepakatan ini menunjukkan bahwa kejatuhan Xi hanyalah soal waktu. Namun, menurutnya, Xi sendiri kini sudah tidak penting lagi—sejarah telah meninggalkannya. Yang paling krusial adalah masa depan Tiongkok. Mereka yang benar-benar peduli pada rakyat Tiongkok, inilah waktunya untuk meninggalkan Partai Komunis. Saatnya sudah tiba. (Hui/asr).
Zhongnanhai : Komplek dan kantor pusat partai komunis Tiongkok di Beijing


