EtIndonesia. Beberapa teman lama dan saya telah berjanji untuk berkumpul kembali di tempat kami dulu menimba ilmu—kembali menapaki jejak masa muda. Ketika kami bertemu di kampus, rasanya seperti waktu diputar mundur. Meski tahun-tahun telah meninggalkan jejak di wajah masing-masing, namun persahabatan di antara teman lama tetap tak berubah. Kami berjalan sambil tertawa dan bercakap-cakap, mengunjungi kantin, asrama, serta gedung-gedung tempat kami dulu belajar. Tak terasa kami sering menghela napas—sudah belasan tahun berlalu, banyak hal telah berubah.
Dulu, untuk makan di kantin, kami harus mengantre di konter pembayaran terlebih dahulu, lalu membawa karcis ke jendela makanan. Saat membayar, kami bisa menyampaikan preferensi—minta sayurnya lebih banyak, atau nasinya sedikit saja. Petugas kasir lama-kelamaan hafal wajah dan kebiasaan kami. Bahkan, kadang sebelum kami membuka mulut, dia sudah tahu apa yang kami mau. Saat dikenang kembali, itu adalah kenangan yang hangat dan penuh rasa manusiawi.
Sekarang, sistem kantin sudah serba digital. Pemesanan dan pembayaran makanan dilakukan melalui mesin. Cukup tekan menu yang diinginkan, dan seluruh proses—termasuk pencetakan nota—bisa selesai dengan cepat. Menatap layar elektronik yang terang dan canggih itu, saya sempat merenung, ke mana ya para staf ramah yang dulu melayani kami?
Dulu, antara asrama dan gedung kuliah adalah tanah lapang yang cukup jauh. Di musim panas, sekali bolak-balik saja sudah cukup membuat kami mandi keringat. Tapi justru karena harus mengayuh langkah, membawa ransel berat dalam terik siang, kami jadi begitu mengingat masa-masa itu. Sampai hari ini, saya masih bisa membayangkan betapa beratnya buku-buku di punggung saat berjalan ke kelas.
Kini, antara asrama dan gedung kuliah sudah dibangun gedung laboratorium dan kantor baru. Gedung itu menghubungkan dua tempat tersebut, sehingga kami bisa berjalan dengan nyaman di lorong berpendingin udara. Tapi anehnya, setelah melewatinya, kami tidak merasa sedang berjalan, tidak terasa jaraknya, bahkan tak terasa bebannya. Anehnya lagi, kami justru sedikit merindukan rasa lelah saat harus berjalan jauh dulu.
Setelah berkeliling kampus cukup lama, kami berjalan keluar sambil menyebut-nyebut perubahan yang kami lihat.
Tiba-tiba salah satu teman berseru: “Toko itu masih ada!”
Kami pun serentak menoleh. Benar saja—toko di pinggir jalan itu masih persis seperti dulu. Toko itu menjual pakaian bergaya sederhana namun elegan, dengan harga yang terjangkau. Sang pemilik sangat memahami kebutuhan pelanggan. Bertahan selama bertahun-tahun di tengah pasang surut pasar, pasti karena pemiliknya punya cara menjalankan usaha yang benar-benar menyentuh hati.
Dari toko itu, kami melanjutkan perjalanan ke rumah seorang guru yang dulu sangat kami hormati. Usianya kini hampir sembilan puluh tahun. Sudah sekian lama tak bertemu, tapi dia masih mengingat satu per satu nama dan wajah kami. Meski sudah sepuh, pikirannya masih jernih dan tajam. Dia berbicara dengan tenang, membahas hal-hal kecil dalam hidup, serta membagikan pandangannya tentang idealisme dan filsafat hidup. Kami mendengarkan lebih khusyuk dibandingkan saat dulu menjadi muridnya. Mungkin karena setelah ditempa oleh kehidupan, baru sekarang kami benar-benar memahami kedalaman kebijaksanaannya.
Setelah lama berbincang, kami pun berpamitan. Sambil berjalan, kami merenungkan semua yang telah kami lihat—betapa banyak yang telah berubah. Namun tiba-tiba muncul sebuah kesadaran: justru di balik segala perubahan itulah tersembunyi keabadian. Hidup memang terus bergerak maju, namun ada hal-hal yang tak akan pernah berubah.
Seperti:
· Staf kantin yang dulu tulus melayani, ke mana pun dia pergi, pasti akan membawa kebaikannya dan menularkan itu kepada orang lain.
· Pemilik toko sederhana yang tetap bertahan dengan prinsip mengutamakan manusia, hingga hari ini masih menanamkan nilai yang sama.
· Guru tua yang bijaksana, tak peduli dunia berubah secepat apa, tetap berpegang pada idealismenya dan mengejar cita-cita yang tinggi di dalam hati.
Dalam perubahan, kita menemukan makna keabadian
Perubahan adalah bagian utama dari kehidupan. Ia adalah irama yang tak bisa dihindari. Tapi justru di balik perubahan itulah, kita bisa menemukan hal-hal yang abadi—yang menyentuh jiwa, yang menenangkan hati.
Ketika kita bisa melihat keabadian itu di tengah arus perubahan, hati kita pun menjadi lebih damai. Kita tak lagi panik oleh modernisasi, tak lagi gusar melihat dunia bergerak cepat. Karena kita tahu, nilai-nilai paling luhur tetap hidup—di hati manusia, di kenangan yang tulus, dan dalam kebaikan yang terus diwariskan. (jhn/yn)


