Saat Hari Keempat Pasca Banjir Besar, Guizhou, Tiongkok  Hadapi Kekurangan Makanan – Warga Bertahan Secara Mandiri 

Banjir besar melanda  Rongjiang, Guizhou, Tiongkok yang menyebabkan kerugian besar pada toko-toko di kota tersebut. Para korban bencana harus bertahan hidup dengan swadaya. Kini, pada hari keempat pasca bencana, mereka menghadapi ancaman kelangkaan pangan. Banyak jalan masih dipenuhi lumpur dan sampah, serta bau busuk menyengat. Relawan dari luar daerah bekerja siang malam tanpa henti untuk mengeruk lumpur dan membersihkan akses jalan

EtIndonesia. Kabupaten Rongjiang, Guizhou, Tiongkok pada (24/6/2025) dilanda banjir bandang besar yang melumpuhkan kota dan memutus akses jalan. Bantuan dari organisasi sipil hanya dapat dikirim ke desa dan kota kecil di sekitar, sementara banyak korban menghadapi kelangkaan makanan. 

Dilaporkan juga, relawan dari luar daerah bekerja membersihkan jalan tanpa istirahat. Hingga 26 Juni sore jalan utama akhirnya bisa dilintasi. Namun banyak jalan di kota masih dipenuhi lumpur, sampah, dan mobil-mobil terendam. Bau busuk  semerbak menyengat.

 “Daerah kota tua Rongjiang adalah zona terdampak paling parah, terutama di kawasan Changba. Sepanjang jalan berubah menjadi reruntuhan. Barang-barang yang tak sempat dipindahkan, kendaraan-kendaraan, semua terseret. Banyak orang menangis. Kami sangat kekurangan bahan makanan, minyak goreng, air bersih, pakaian hangat, dan selimut. Mobil-mobil terendam sangat banyak. Satu kompleks perumahan butuh waktu seharian penuh untuk menarik semua mobilnya. Kami sangat kekurangan mobil derek,” ujar relawan Li Jiang (nama samaran) kepada NTD. 

Seorang pria bermarga Zhao, yang datang dari kabupaten tetangga membawa traktor untuk membantu, mengatakan lumpur di jalan sangat tebal. Relawan dari desa sekitar dan luar provinsi terus berdatangan dan setiap hari tanpa henti mengeruk lumpur.

Relawan Zhao berkata :  “Masih banyak lumpur. Kami terus mengeruk lumpur setiap hari, tubuh penuh lumpur, tidak ada air untuk mandi. Kami membawa sendiri beras dan minyak, masak sendiri. Tidak ada listrik dan air, bagaimana bisa tinggal di hotel? Kami tidur di mobil saja sudah cukup. Rencana kami tinggal di sini 6–7 hari. Terkadang juga tidak ada sinyal internet, susah untuk menghubungi siapa pun.”

Toko-toko yang terendam banjir berubah menjadi tumpukan sampah. Banyak pemilik toko menangis karena kerugian. Seorang pemilik toko yang menggunakan nama samaran Chen Yang mengatakan, hanya sedikit kompleks yang tidak kebanjiran, dan banyak pengusaha mengambil pinjaman untuk memulai usaha—semuanya kini menderita kerugian besar.

Chen Yang (pemilik perusahaan di Rongjiang) berkata :  “80–90 persen toko terendam banjir. Tidak ada peringatan sama sekali. Awalnya air belum mencapai kantor, tapi dalam 10 menit air sudah sampai paha. Tidak sempat menyelamatkan apa pun. Air naik terlalu cepat, sekitar 2 meter. Kerugian mungkin belasan juta (yuan). Semua bisnis ini dari utang, sungguh tragis. Air mata pun sudah habis.”

Pada 26 Juni, seorang lansia berusia 72 tahun memanjat ke atap rumah untuk menyelamatkan diri. Video seorang wanita bernama He (27 tahun) yang menyelamatkan diri saat memindahkan mobil juga menarik perhatian publik. Dari sudut pandang lain, video menunjukkan bahwa pada pagi 24 Juni, banjir secara tiba-tiba menenggelamkan seluruh jalan, termasuk mobil sedan merah muda milik He yang terseret ke dalam garasi bawah tanah.

Pada 26 Juni sore, saat siaran streaming, Nona He menceritakan prosesnya melarikan diri dan mengatakan masih ada orang yang hilang belum ditemukan.

 “Banjir terlalu cepat. Saya injak atap mobil dan panjat ke paviliun, menggantung seperti monyet. Saya melihat sepeda listrik, mobil pickup, mobil kecil mengalir ke garasi bawah tanah. Saya akhirnya berenang sendiri pulang. Bisa selamat sampai sekarang saja sudah luar biasa. Ada yang terseret ke ruang bawah tanah. Sampai tengah malam masih ada orang mencari anak atau orang tua mereka,” ujar He, warga Rongjiang yang berhasil menyelamatkan diri.  (asr)

Laporan oleh reporter NTDTV Xiong Bin dan Peng Xinyu

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine