Pada 28 Juni, wilayah Rongjiang di Provinsi Guizhou, Tiongkok mengalami gelombang kedua banjir besar, memicu evakuasi massal seluruh kota. Pada 29 Juni pagi, setelah air surut, jalanan dipenuhi sampah dengan kondisi porak poranda.
EtIndonesia. Rongjiang dilanda banjir bandang besar yang melumpuhkan seluruh kota dan memutus jalur transportasi pada 24 Juni. Lalu pada 26 Juni, bendungan di hulu Rongjiang membuka pintu air, menyebabkan air sungai meluap dan terjangan air masuk ke kota. Dampaknya, membanjiri jalanan dan menerobos ke kompleks perumahan warga.
Pada 28 Juni, saat warga mengira banjir telah surut, mereka mulai membersihkan rumah. Akan tetapi, hujan deras kembali mengguyur dan Rongjiang diterjang banjir gelombang kedua. Dalam waktu seminggu, kota ini dua kali terendam banjir.
Ketika sirene peringatan kembali berbunyi pada 28 Juni, warga yang sedang membersihkan rumah terpaksa meninggalkan barang-barang dan berkemas-kemas seadanya. Mereka bergegas mengungsi. Dalam waktu singkat, Rongjiang kembali dipenuhi gelombang pengungsi, jalanan penuh dengan warga dan kendaraan yang meninggalkan kota.
Video memperlihatkan derasnya banjir yang datang begitu cepat; dalam waktu hanya tujuh menit, jalan-jalan di kota Rongjiang sudah terendam seluruhnya.
Pada 29 Juni, saat banjir mulai surut, warga kembali ke rumah mereka dan mendapati kondisi kota sangat rusak parah. Tanah berlumpur dan air menggenang di mana-mana. Jalanan dipenuhi sampah rumah tangga, furnitur, mainan, dan mobil-mobil yang terseret arus tergeletak berserakan, sebagian tertutup lumpur tebal.
Pada 28 Juni 2025, seorang blogger mengunggah video dan berkata: “Sangat sulit. Mohon saling beri tahu, keluarga yang tinggal di dataran rendah segera mengungsi.”
Di beberapa kawasan lama yang jalanannya sempit dan tidak bisa dimasuki alat berat, warga hanya bisa membersihkan lumpur dengan cara tradisional — memikul dan mengangkut dengan tenaga sendiri.
Selain pusat kota Rongjiang, berbagai kecamatan di sekitarnya juga mengalami banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di Kabupaten Leishan, hanya dalam waktu dua jam, lantai satu sejumlah bangunan sudah terendam banjir.
Pemerintah resmi mengumumkan jumlah korban jiwa sebanyak enam orang. Akan tetapi warga setempat mencurigai bahwa jumlah kematian sebenarnya jauh lebih besar. (asr)
Sumber : NTDTV.com


