EtIndonesia. Saat ini, dunia politik Tiongkok sedang dilanda ketegangan luar biasa—berbagai rumor dan tanda-tanda tak lazim membentuk misteri politik yang belum pernah terjadi sebelumnya: Apakah pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, sedang menghadapi situasi “dibujuk mundur” bahkan “dikudeta”?
Gregory W. Slayton, mantan diplomat Amerika Serikat sekaligus pengamat senior Tiongkok yang pernah mengajar di negara tersebut, baru-baru ini menulis di New York Post bahwa serangkaian peristiwa mencurigakan dan tanda-tanda publik menunjukkan bahwa fondasi kekuasaan Xi mungkin sedang goyah secara diam-diam.
Artikelnya menggabungkan berbagai analisis dan pengamatan terbaru yang beredar di dunia maya dan kalangan internasional, guna mengurai latar belakang dan kebenaran di balik badai politik “kemungkinan lengsernya Xi Jinping”.
Rumor Bermunculan: Dari Terasingkan Hingga ‘Menghilang’—Apakah Xi Jinping Benar-Benar Tersandung Masalah?
Sejak akhir 2024, Xi Jinping berkali-kali absen dari berbagai agenda penting dalam dan luar negeri, hal ini memicu perhatian secara luas. Terutama dari akhir Mei hingga awal Juni 2025, Xi hampir sepenuhnya menghilang dari sorotan publik. Surat kabar resmi People’s Daily tidak menerbitkan satu pun laporan yang berkaitan dengannya selama beberapa hari berturut-turut. Hal ini merupakan suatu yang tak lazim bagi sistem propaganda PKT. Pasalnya, selama ini kerap menonjolkan pemujaan terhadap individu.
Pada saat yang sama, urusan diplomatik mulai ditangani oleh Li Qiang dan Cai Qi, yang makin memicu spekulasi soal “skenario suksesi”. Bahkan saat PKT mengklaim bahwa Xi telah bertemu dengan Presiden Belarus, Lukashenko, foto-foto yang dipublikasikan menunjukkan pengaturan tempat dan personel yang sangat tidak biasa—tidak ada penerjemah dari Kementerian Luar Negeri, tidak ada tata protokol resmi. Bahkan, lokasi pertemuan bukan di tempat penyambutan kenegaraan sebagaimana lazimnya.
1. Pergolakan di Militer: Pembersihan Besar Terhadap Jenderal Pendukung Xi
Yang paling mencolok adalah pergolakan besar di kalangan militer. Sejak 2023, puluhan jenderal Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang sebelumnya menyatakan loyalitas kepada Xi Jinping secara tiba-tiba diberhentikan, diselidiki, bahkan ada yang mengalami “kematian misterius”.
Perubahan mencolok ini terjadi di berbagai cabang militer: Pasukan Angkatan Roket, Pasukan Dukungan Strategis, Angkatan Laut, hingga Angkatan Udara. Di kalangan militer beredar kabar bahwa “orang-orang lama disingkirkan, faksi baru naik”.
Gregory Slayton berpendapat bahwa dalang di balik perombakan kekuasaan militer ini mungkin adalah Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat yang pernah dekat dengan Xi namun kemudian berkonflik. Zhang dikenal sebagai tokoh berpengaruh di militer dan memiliki hubungan erat dengan para tetua partai seperti Zeng Qinghong dan kubu Hu Jintao. Bila kekuatan militer benar-benar telah berpaling, maka prinsip “partai memimpin senjata” — urat nadi PKT — mungkin sudah tidak lagi sepenuhnya berada di tangan Xi.
2. Otoritas Simbolik Melemah: Nama Museum Ayah Xi Diam-Diam Diganti
Pada Mei 2025, Museum Peringatan Xi Zhongxun (ayah Xi Jinping) diam-diam diganti namanya menjadi “Museum Revolusi Guanzhong”, tanpa lagi menyandang nama “Xi Zhongxun”. Hal ini sangat mengejutkan karena selama ini Xi Zhongxun dijadikan simbol warisan “darah merah” revolusioner, dan menjadi legitimasi politik Xi Jinping.
Menurut Slayton, perubahan simbolis ini bukan sekadar revisi sejarah, melainkan isyarat bahwa partai tengah secara sistematis menghapus dominasi narasi keluarga Xi dalam sejarah partai—sebagai persiapan menuju transisi kekuasaan berikutnya.
3. Protokol Diplomatik dan Gelar Jabatan Terganggu: “Kesalahan” yang Disengaja dari Dalam Sistem?
Pertengahan Juni 2025, setelah percakapan telepon antara Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump, media resmi merilis berita yang secara mengejutkan tidak mencantumkan gelar “Presiden Negara” untuk Xi, hanya menyebut namanya saja. Ini adalah kesalahan luar biasa dalam sistem PKT, terutama dalam teks diplomatik resmi yang sangat ketat pengawasannya.
Meskipun situs resmi dengan cepat memperbaiki dan menambahkan gelar lengkap, insiden ini dianggap sebagai sinyal politik dari dalam sistem—bahwa otoritas Xi sedang ditantang, bahkan mengisyaratkan kemungkinan “jabatan tinggal nama, kekuasaan sudah lepas”.
4. Rumor Suksesi Menguat: Kembalinya Wang Yang Secara “Tidak Resmi”?
Menurut Slayton serta beberapa pengamat Tiongkok di luar negeri seperti Shen Dawei dan Cheng Xiaonong, Wang Yang kini makin banyak disebut sebagai sosok transisi potensial. Wang pernah menjabat Wakil Perdana Menteri dan sejak 2018 menjadi Ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC), sebelum pensiun pada 2023. Ia dikenal sebagai figur moderat yang mendukung reformasi dan terbuka, serta mendapatkan dukungan luas dari kalangan tengah partai dan keturunan elit partai.
Wang Yang dinilai sebagai sosok “tidak membentuk faksi, tidak mengancam pihak manapun, tapi mampu menstabilkan situasi”. Jika Xi Jinping benar-benar diminta mundur, kemungkinan besar Wang Yang akan menjabat Presiden secara nominal, sementara kekuasaan riil diserahkan kepada para tetua partai, Kantor Umum PKT, dan faksi militer — sebagai kompromi untuk menghindari kekacauan dan kudeta.
5. Ekonomi yang Tak Terkendali dan Tekanan Sosial: Memaksa Pergantian Kepemimpinan
Krisis yang dihadapi Xi Jinping bukan hanya konflik politik, tetapi juga berasal dari kegagalan ekonominya: utang melebihi 50 triliun dolar AS, 50 juta unit rumah kosong, pengangguran pemuda yang melonjak, eksodus investasi asing, dan hancurnya kepercayaan kelas menengah—semuanya membuat petinggi PKT makin sulit bertahan.
Kebijakan “kemakmuran bersama” dan “nol-COVID” yang digalakkan Xi meninggalkan dampak ekonomi yang luas, sementara memburuknya hubungan internasional makin mengasingkan Tiongkok. Para tetua partai akhirnya menyadari bahwa jika tidak segera dilakukan transformasi, kestabilan rezim bisa runtuh.
Apakah Era Xi Jinping Sudah Sampai di Ujung Jalan?
Apakah Xi Jinping akan benar-benar lengser? saat ini belum bisa dipastikan. Namun jika kita menggabungkan berbagai tanda akhir-akhir ini — dari perombakan militer, sinyal media, menghilangnya Xi dari publik, perubahan simbolik, hingga tekanan ekonomi — terlihat jelas bahwa elite PKT tengah mengalami guncangan internal yang sangat jarang terjadi.
Dalam sejarah PKT, pergantian kekuasaan biasanya dilakukan secara diam-diam di balik pintu tertutup, dengan prinsip utama: “pendaratan lunak”. Jika Xi benar-benar mulai tersingkir, sangat mungkin akan muncul skenario transisi di mana jabatannya tetap dipertahankan secara formal, namun kekuasaan riilnya diambil alih—untuk meredam gejolak internal dan menjaga citra luar negeri.
Beberapa bulan ke depan, termasuk Sidang Pleno Keempat PKT, Konferensi Beidaihe, serta kehadiran atau ketidakhadiran Xi dalam forum internasional seperti KTT BRICS dan Sidang Umum PBB, akan menjadi momen penting untuk mengamati arah nasib politik Xi Jinping. Apakah Wang Yang akan “dipanggil kembali”, dan apakah Zhang Youxia akan terus memimpin pembersihan di militer, semuanya akan semakin mengungkap kebenaran dari badai besar di balik layar politik Tiongkok.
Era Xi Jinping, mungkin memang telah memasuki babak penutup. (asr)
Yang Tianzi -Secretchina.com


