Aktivitas kapal riset laut milik partai komunis Tiongkok (PKT) yang berulang kali memasuki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang untuk melakukan survei sudah menjadi fenomena yang semakin umum. Menurut analisis para pakar Jepang, meskipun tampaknya hanya survei ilmiah, tujuan sebenarnya adalah untuk mengumpulkan informasi strategis.
EtIndonesia. Badan Penjaga Pantai Jepang melaporkan, pada 11 Mei, sebuah kapal riset laut Tiongkok melakukan survei tanpa izin di wilayah ZEE Jepang dekat Kepulauan Senkaku. Pemerintah Jepang segera meminta Tiongkok untuk menghentikan aktivitas tersebut, dan menegaskan bahwa tindakan itu tidak dapat diterima.
“Perilaku seperti ini dari Tiongkok sangat mungkin bertujuan untuk mempersiapkan operasi militer di masa depan, seperti mengumpulkan informasi sebelum kapal selam melewati perairan ini. Dengan terus melakukan aktivitas seperti ini secara berulang, Tiongkok ingin membuat masyarakat internasional menganggap hal itu sebagai ‘normal’, dan mengaburkan persepsi publik negara lain,” kata Sayaka Kiba, dosen di Universitas Studi Asing Kota Kobe.
Kemudian, pada 26 Mei, kapal riset laut Tiongkok kembali memasuki ZEE Jepang, sekitar 270 kilometer sebelah timur Pulau Okinotorishima, dan menurunkan peralatan menyerupai kabel baja ke laut.
“Penjaga Pantai Jepang telah meminta agar aktivitas tersebut segera dihentikan. Kami juga telah menyampaikan protes melalui jalur diplomatik kepada pihak PKT, dan menegaskan bahwa survei ilmiah kelautan tanpa izin Jepang tidak dapat diterima dan harus segera dihentikan,” kata Kepala Sekretariat Kabinet Jepang, Yoshimasa Hayashi.
Sayaka Kiba juga mengatakan: “Media Jepang telah memberitakan insiden ini secara luas. Publik Jepang, media asing, serta para pengamat internasional sedang mencermatinya. Perilaku PKT ini jelas melanggar Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), dan Kementerian Luar Negeri Jepang secara konsisten menegaskan bahwa hal ini merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.”
Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas kapal riset laut milik PKT di ZEE Jepang telah menjadi hal yang sering terjadi, dan telah menimbulkan perhatian luas di masyarakat Jepang.
Sayaka Kiba menambahkan: “Menurut analisis para ahli, Tiongkok sedang mengumpulkan data topografi dasar laut dan suhu air yang diperlukan bagi kapal selam untuk melintasi wilayah ini. Setiap kali insiden seperti ini terjadi, Kementerian Luar Negeri Jepang akan melayangkan protes diplomatik, dan lewat pemberitaan media, masyarakat Jepang dan dunia internasional semakin sadar akan tindakan Tiongkok ini, yang pada akhirnya mendorong terbentuknya opini publik.”
Selain kapal riset laut, kapal penjaga pantai PKT juga sering muncul di wilayah laut sekitar Jepang. Hal i menjadi fenomena rutin. Menurut media Jepang, pada tahun 2024, kapal penjaga pantai PKT tercatat berlayar di wilayah perairan sekitar Kepulauan Senkaku selama 353 hari, melebihi rekor 352 hari pada tahun 2023, dan merupakan jumlah hari terbanyak sejak pertama kali aktivitas ini tercatat pada tahun 2008. (Hui/asr)
Laporan dari jurnalis NTD, Xu Ting, dari Jepang


