EtIndonesia. Kekuatan, izin, dan perlindungan adalah tiga aset tak kasat mata yang dapat diberikan orangtua kepada anak. Namun dalam keseharian, membiarkan anak mengambil keputusan sendiri bukan berarti melepaskan tanggung jawab—justru itu adalah bagian penting dalam membantu mereka tumbuh dan membangun rasa aman serta kepercayaan diri dari dalam diri mereka sendiri.
Belajar Mengatakan “Tidak” dan Juga “Ya”
Pada awalnya, orangtua memegang penuh tanggung jawab untuk melindungi anak. Namun seiring waktu, mereka akan mulai memberi ruang bagi anak untuk mandiri dan menjauh secara perlahan. Di titik inilah, orangtua mulai membuka dunia anak.
Namun, menyeimbangkan perlindungan dan kebebasan bukanlah hal yang mudah. Dalam hal ini, saya menggunakan prinsip seperti “tombol pengatur” dalam diri saya—bergerak di antara dua kutub:
Keamanan ↔ Kebebasan
Semakin kecil usia anak, maka tombol itu harus lebih condong ke sisi “keamanan”. Semakin dewasa, maka tombol itu perlahan bergerak ke arah “kebebasan”. Dan ketika dia akhirnya meninggalkan rumah, tombol itu seharusnya berada sepenuhnya di sisi kebebasan. Apakah ini juga berlaku dalam situasimu?
Apakah Saya Telah Memberi Anak Cukup Kemandirian?
Tanyakan pada diri sendiri:
· Apakah saya sering melakukan hal-hal yang seharusnya sudah bisa dilakukan anak sendiri?
· Apakah saya mendampingi anak saat dia membutuhkannya, bukan mengambil alih?
· Apakah saya mengajarkan keterampilan hidup seperti: memotong makanan, menyendok, berpakaian, mandi, merapikan tempat tidur, mengupas telur, mengerjakan PR, dll?
Waspadai Perlindungan yang Terlalu Agresif
Atas nama perlindungan, orangtua bisa bersikap terlalu invasif. Terutama saat anak memasuki masa remaja, beberapa orangtua sulit menerima kemandirian anak dan akhirnya:
· Masuk ke kamar anak tanpa mengetuk,
· Membaca buku harian anak,
· Mengintip isi blog atau media sosial anak,
· “Membersihkan” kamar anak sembari memeriksa pakaian dalam atau seprei mereka…
Pertanyaannya:
Jika saya benar-benar membiarkan anak tumbuh dewasa, apakah saya siap menghadapi perasaan “tak lagi berguna”?
Dari “Tidak Boleh” Menuju “Boleh”
Mengatakan “tidak” dan membatasi ruang anak demi perlindungan sangatlah penting, tapi seiring waktu, kata “tidak” harus bertransformasi menjadi “boleh”.
Contoh:
· Saat anak berusia 13 tahun: “Tidak, kamu belum boleh keluar malam sendirian.”
· Saat usia 15: “Boleh, tapi ada syaratnya.”
· Saat usia 18 dan sudah dewasa: “Boleh”—tanpa syarat.
Contoh lainnya:
· Anak usia 1 tahun: “Tidak, kamu tidak boleh menyentuh gelas kristal ini.”
(Atau bahkan lebih baik: “Ini gelasmu, pakai ini saja.”)
· Anak usia 2 tahun: “Kalau ibu di dekatmu, kamu boleh memegangnya.”
· Anak usia 3 tahun dan mulai cekatan: “Lihat, pegangnya harus begini. Sekarang kamu boleh mencobanya.”
Jika Anak Bertanya: “Boleh Tidak…?”
Misalnya:
“Boleh tidak aku main perosotan?”
“Boleh tidak aku main ke rumah teman?”
“Boleh tidak aku beli roti sendiri?”
“Boleh tidak aku buat kue?”
“Boleh tidak aku pergi ke sekolah sendiri?”
Kadang sulit untuk mengatakan “ya”, bukan?
Mungkin karena kita sendiri tidak pernah mendapatkan izin untuk hal-hal serupa saat kecil. Memberi izin pada anak untuk melakukan sesuatu yang dulu tidak pernah kita dapatkan bisa terasa sulit dan menakutkan. Kita tidak punya pengalaman itu, maka ketidaktahuan bisa menimbulkan kekhawatiran.
Bagaimana Jika Saya Memberi Izin kepada Diri Sendiri?
Coba mulai dari hal kecil:
· Saya izinkan diri saya untuk mengganggu tetangga—meminjam garam, tepung, atau bawang putih.
· Saya izinkan diri saya untuk mencoba hal baru, meski saya tahu saya tidak akan menyelesaikannya.
· Saya izinkan diri saya untuk…
Ketika Saya Tak Bisa Mengatakan “Ya” atau “Tidak”
Kadang, kita tidak bisa mengatakan “ya” ataupun “tidak” yang tegas. Kita menyerahkan keputusan kepada anak bukan karena menghormati kebutuhannya, melainkan karena kita tidak mampu mengambil sikap.
Namun untuk berkata “ya” dengan sungguh-sungguh, atau “tidak” dengan penuh keyakinan, dibutuhkan kekuatan dari dalam.
Apa yang Terjadi Saat Orangtua Kehilangan Kekuatan Pribadi?
Ketika orangtua merasa tak berdaya, mereka:
· Bisa menjadi otoriter atau manipulatif, demi memaksakan keinginannya.
· Atau justru melepaskan semua kendali, membiarkan anak bertindak semaunya.
Tiga Hal yang Saling Terhubung: Kekuatan – Izin – Perlindungan
Tiga hal ini adalah pilar pengasuhan yang tak terpisahkan.
· Kekuatan sejati bukanlah kontrol, melainkan rasa aman dari dalam—sebuah bentuk percaya diri.
· Kekuatan yang berasal dari kasih dan cinta pada kehidupanlah yang membuat kita berdiri teguh.
Tanpa kekuatan:
· Izin bisa berubah menjadi kelonggaran yang merusak.
· Perlindungan bisa menjadi tidak konsisten dan membingungkan.
Saya Menjadi Kuat Saat…
· Saya bisa terhubung dengan emosi saya sendiri.
· Saya merasa aman secara batin.
· Apapun yang dikatakan atau dilakukan anak, tidak bisa menghancurkan saya.
· Saya tidak takut dinilai orang, karena saya tahu bahwa penilaian mereka hanya cerminan luka batin mereka sendiri.
· Saya mencintai diri saya sendiri.
Kesimpulan:
Memberi anak kesempatan untuk mengambil keputusan bukan berarti melepaskan tanggung jawab, tapi justru bagian penting dalam membangun pribadi yang percaya diri, mandiri, dan kuat dari dalam.
Kekuatan sejati orangtua terletak bukan pada kendali, melainkan pada kemampuan untuk menyelaraskan perlindungan, izin, dan kekuatan batin.(jhn/yn)


