EtIndonesia. Krisis nuklir Iran kembali memasuki babak baru yang semakin panas di panggung internasional. Dalam perkembangan terkini, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Takht Ravanchi, secara terbuka mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah mengirim sinyal keinginan untuk kembali ke meja perundingan nuklir. Namun, pernyataan ini langsung dibantah keras oleh Presiden AS, Donald Trump.
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan: “Saya tidak pernah menawarkan apa pun pada Iran. Sejak kami benar-benar menghancurkan fasilitas nuklir mereka, saya bahkan tidak pernah berbicara lagi dengan mereka.”
Sikap keras Trump ini sekaligus menutup peluang negosiasi baru pasca serangan udara AS-Israel yang melumpuhkan sejumlah fasilitas nuklir Iran beberapa waktu lalu.
Ancaman Terhadap IAEA dan Kecaman Eropa
Ketegangan juga semakin membara antara Iran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dalam wawancara eksklusif dengan BBC, Takht Ravanchi menegaskan bahwa negosiasi baru hanya mungkin terjadi jika Amerika memberikan jaminan tertulis untuk tidak lagi melancarkan serangan ke Iran selama proses dialog berlangsung. Selain itu, Iran juga menuntut kebebasan penuh untuk melanjutkan program pengayaan uraniumnya.
Di sisi lain, Prancis, Jerman, dan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yang keras, mengecam ancaman Iran terhadap Direktur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi. Ketiga negara Eropa ini juga menuntut Iran agar segera kembali mematuhi kewajiban internasional, melanjutkan kerja sama secara penuh dengan IAEA, dan menjamin keselamatan personel lembaga tersebut.
Situasi memanas setelah media pemerintah Iran, Global Times, menuding Grossi sebagai mata-mata Israel dan secara ekstrem menyerukan agar dia dieksekusi. Akibat tekanan dan ancaman ini, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah secara resmi memberitahu Presiden Prancis, Emmanuel Macron, bahwa Teheran menghentikan seluruh kerja sama dengan Grossi.
Eskalasi Program Nuklir dan Data Intelijen Internasional
Dalam laporan rahasia IAEA terbaru hingga 17 Agustus 2024, terungkap bahwa stok uranium Iran yang diperkaya hingga 60% telah mencapai sekitar 22,6 kilogram—jumlah yang disebut-sebut hanya berjarak kurang dari dua minggu dari batas pengayaan 90% yang cukup untuk pembuatan senjata nuklir. Saat ini, belum diketahui pasti ke mana uranium hasil produksi Iran selama ini dikirim, sehingga menimbulkan kekhawatiran besar di komunitas internasional.
Pejabat tinggi AS mengingatkan, jika Iran memutuskan untuk memperkaya uranium hingga 90%, mereka dapat memperoleh material yang cukup untuk bom nuklir dalam waktu yang sangat singkat.
Jejak Dukungan Tiongkok di Balik Program Nuklir Iran
Isu nuklir Iran tidak bisa lepas dari peran Tiongkok yang secara historis menjadi mitra strategis utama Teheran. Pada 1990, Tiongkok dan Iran menandatangani “Perjanjian Nuklir Rahasia” yang membuka jalan bagi transfer teknologi dan material nuklir. Tahun berikutnya, Tiongkok dilaporkan mengirim 1.000 kilogram uranium hexafluoride (UF6), komponen penting dalam produksi bahan bakar reaktor dan senjata nuklir, ke Iran.
Bahkan, pada 1992, kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama nuklir selama 15 tahun, termasuk pendirian pusat riset nuklir dengan melibatkan sekitar 3.000 ilmuwan dan teknisi. Hingga 2024, kerja sama ini membuat Iran hampir mencapai ambang penguasaan teknologi senjata nuklir.
Pada 2021, Tiongkok dan Iran kembali mengukuhkan kemitraan strategis lewat perjanjian 25 tahun dengan investasi senilai 400 miliar dolar AS, menjadikan Iran sebagai simpul penting dalam inisiatif Belt and Road dan jalur penghubung Tiongkok dengan kawasan Timur Tengah, Eropa, dan Afrika.
Dampak Serangan AS-Israel dan Imbas Geopolitik ke Beijing
Serangan gabungan Israel-AS ke fasilitas nuklir Iran tidak hanya menghantam ambisi nuklir Teheran, tetapi juga menimbulkan kejutan di Beijing. Seorang sumber internal Partai Komunis Tiongkok mengungkapkan bahwa perubahan drastis ini mengguncang kepemimpinan tertinggi Tiongkok. Pakar hukum internasional, Yun Hongbin, mengungkapkan bahwa operasi ini berhasil menyingkirkan sejumlah figur utama dalam struktur komando militer dan pengembangan nuklir Iran—hal yang memukul posisi strategis Tiongkok di kawasan.
Pengamat politik senior, Cai Chengkun, berpendapat bahwa keberhasilan AS dan Israel ini menjadi peringatan serius bagi Beijing. Jika Tiongkok memicu perang di Selat Taiwan, bukan tidak mungkin Amerika juga akan menargetkan komando tertinggi militer Tiongkok menggunakan senjata presisi tinggi, skenario yang sangat dihindari oleh Beijing.
Fatwa Perburuan Internasional: Trump dan Netanyahu Jadi Target
Dalam perkembangan yang mengejutkan, salah satu ulama Syiah paling senior di Iran, Ayatollah Naser Makarem Shirazi, mengeluarkan fatwa perburuan internasional (Islamic fatwa) terhadap Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Keduanya dinyatakan sebagai “musuh Tuhan”, sebuah vonis yang, menurut hukum Iran, dapat berujung pada hukuman mati, hukum gantung, amputasi, atau pengasingan. Fatwa ini disebarluaskan sebagai seruan global kepada seluruh umat Muslim untuk bersikap.
Fatwa ini langsung menuai kritik tajam dari kalangan internasional. Ghabani, seorang aktivis berkewarganegaraan Inggris-Iran, menyebut langkah ini sebagai bentuk legalisasi ekstremisme oleh negara dan dapat memicu gelombang radikalisme baru di dunia.
Penutup: Ancaman Krisis Global
Perkembangan dramatis ini menandai babak baru dalam krisis nuklir Iran. Perbedaan sikap yang tajam antara Iran dan Barat, keterlibatan Tiongkok, serta ancaman kekerasan global akibat fatwa ulama Iran, membuat situasi di kawasan kian berbahaya dan sulit diprediksi.
Komunitas internasional kini menunggu langkah selanjutnya dari Washington, Teheran, Beijing, dan sekutu Eropa. Akankah jalan diplomasi masih terbuka? Atau dunia tengah menuju eskalasi baru yang bisa mengubah peta geopolitik global secara permanen?


