Sekitar 140.000 pengunjuk rasa anti-pemerintah berkumpul di Beograd, ibu kota Serbia, pada Sabtu (28 Juni) malam. Aksi massa bertujuan untuk menekan pemerintah agar mengadakan pemilu dini dan mengakhiri kekuasaan Presiden Aleksandar Vučić yang telah berlangsung selama 12 tahun.
EtIndonesia. Organisasi pemantau independen “Arsip Aksi Publik” memperkirakan jumlah peserta aksi di lokasi mencapai sekitar 140.000 orang, dengan tuntutan utama agar Presiden Aleksandar Vučić mundur dari jabatannya.
Polisi antihuru-hara dikerahkan di sekitar gedung pemerintahan, gedung parlemen, dan Taman Pionirski yang terletak di sekitarnya. Para pendukung Vučić juga mengadakan aksi tandingan di lokasi tersebut.
Setelah unjuk rasa berakhir sekitar pukul 22.00 malam, sebagian demonstran yang ingin berhadapan dengan pendukung Vučić mulai melemparkan petasan ke arah polisi, yang kemudian membalas dengan semprotan merica untuk membubarkan massa.
Aksi protes ini dipimpin oleh kelompok mahasiswa, dan bermula dari tragedi runtuhnya atap stasiun kereta api di kota besar Novi Sad di bagian utara Serbia, yang menyebabkan 16 orang tewas. Tragedi tersebut banyak dianggap sebagai akibat dari masalah korupsi yang merajalela.
Selama lebih dari enam bulan terakhir, mahasiswa telah melakukan aksi blokade di berbagai kampus, serta menyelenggarakan demonstrasi besar-besaran di seluruh negeri. Bulan lalu, tuntutan mereka berkembang menjadi desakan untuk pemilu parlemen dini.
Namun, Presiden Vučić menolak tuntutan tersebut pada Jumat, dan menegaskan bahwa pemilu nasional tidak akan diadakan sebelum akhir tahun 2026. (Hui/asr)
Laporan oleh wartawan NTD Yan Feng dan Zhang Xiaoyu


