EtIndonesia. Dalam kehidupan rumah tangga, pasangan suami istri hidup berdampingan setiap hari, dan tidak bisa dihindari bahwa akan ada saat-saat terjadi perbedaan pendapat atau gesekan kecil. Namun, jika situasi seperti ini ditangani dengan cara yang tidak tepat, bisa berdampak negatif pada hubungan keduanya.
Seorang pakar menyampaikan bahwa hubungan intim antara pria dan wanita harus dirawat dengan sungguh-sungguh agar tetap kokoh, dan salah satu caranya adalah dengan menghindari tiga cara menyakiti pasangan yang paling menyakitkan.
1. Menolak atau Mengabaikan Perasaan Pasangan
Psikolog sekaligus penulis asal Amerika Serikat, Jeffrey Bernstein, dalam artikelnya di situs Psychology Today, menyampaikan bahwa saat dua orang baru bertemu dan memasuki fase awal pacaran, mereka biasanya berusaha menampilkan sisi terbaik masing-masing. Namun seiring waktu, orang cenderung mulai lengah, dan tanpa sadar mulai merespons pasangan dengan cara yang menyakitkan.
Bernstein menekankan bahwa dalam hubungan dekat, sering kali kita melupakan betapa berharganya pasangan kita. Jika seseorang menggunakan pola berikut dalam berinteraksi, maka hubungan itu kemungkinan besar akan berakhir.
Salah satu kesalahan paling menyakitkan adalah menolak atau meremehkan perasaan pasangan, misalnya dengan berkata:
· “Kamu lebay banget,”
· “Itu bukan hal besar,” atau
· “Kamu terlalu sensitif.”
Meski maksudnya adalah menenangkan atau menyederhanakan masalah, kalimat-kalimat seperti itu justru akan mengikis rasa saling percaya. Pasangan akan merasa tidak dihargai dan merasa diabaikan secara emosional.
Dia memberikan contoh: beberapa tahun lalu, seorang wanita bernama Lisa datang berkonsultasi karena pernikahannya dengan suaminya, Aaron, bermasalah.
Lisa mengatakan: “Dulu Aaron bilang dia tergila-gila padaku, tapi beberapa tahun terakhir, tiap kali aku bicara soal hal penting dalam hubungan kami, dia cuma bilang aku gila.”
Beberapa bulan kemudian, Aaron akhirnya meminta agar mereka datang bersama ke sesi konseling. Saat mereka datang, Aaron rebahan di lantai ruang konseling, sementara Lisa menatapnya dingin.
Lisa lalu berkata dengan tegas: “Aku sudah nggak mau main lagi.”
Dan di titik itu, hubungan mereka benar-benar berakhir.
2. Terlalu Perhitungan dalam Hubungan
Bernstein menyampaikan bahwa sikap terlalu menghitung-hitung siapa yang terakhir minta maaf, siapa yang lebih sering menunjukkan perhatian, atau siapa yang lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah, akan memicu rasa dendam dan keinginan bersaing dalam hubungan.
Dia mencontohkan pasangan Ed dan Joanna, yang datang untuk sesi terapi karena sering bertengkar. Bernstein kemudian meminta mereka untuk berbagi satu hingga tiga hal yang mereka hargai dari satu sama lain.
Tanpa ragu, Ed berkata: “Joanna adalah ibu yang luar biasa. Saat aku kehilangan pekerjaan, dia terus mendukungku. Dia dulu adalah sahabat terbaikku.”
Joanna pun menangis saat mendengarnya, dan dengan suara bergetar, berkata: “Ed orang yang setia, pintar masak, dan sangat lucu.”
Meski sesi tersebut tidak serta-merta menyelesaikan semua masalah mereka, momen saling menghargai itu berhasil membangun rasa aman secara emosional, membuka ruang untuk refleksi, dan menyadarkan mereka bahwa bersikap saling bersyukur dan mempercayai satu sama lain adalah fondasi hubungan yang lebih sehat.
3. Membangun Tembok Emosional (Cold War)
Bernstein mengutip ahli pernikahan dan psikolog ternama asal AS, John Gottman, yang menyebut bahwa “cold war” atau silent treatment adalah bentuk siksaan emosional dalam hubungan.
Sikap saling diam dan menutup diri menandakan penolakan untuk terlibat secara emosional dan menghindari komunikasi. Ini adalah sinyal buruk bagi masa depan hubungan apa pun.
Dalam salah satu sesi, Bernstein bercerita tentang Emma yang duduk di ruang konsultasi dengan tangan menyilang di dada dan diam seribu bahasa. Saat suaminya, Sam, mencoba bicara soal keuangan, Emma tetap tak menjawab.
Emma lalu menjelaskan bahwa setiap kali dia ingin membicarakan soal uang, Sam juga bersikap seperti itu—membisu dan menghindar. Kali ini, Sam terlihat sangat terpukul. Wajahnya seperti baru saja ditabrak truk.
Sam mulai menangis dan berkata: “Emma, aku benar-benar minta maaf. Waktu aku kecil, ibuku selalu bersikap seperti itu. Saat aku meminta sesuatu, dan dia sedang tidak mood, dia diam seribu bahasa. Sekarang aku baru sadar… dia ternyata sangat cemas dan tidak tahu bagaimana menyampaikan perasaannya.”
Kesimpulan dari Bernstein
Bernstein menegaskan bahwa hubungan yang sehat tidak bisa tumbuh dengan sendirinya. Ia memerlukan perhatian, ketulusan, dan upaya sadar untuk tidak menyakiti satu sama lain. Jika kita bisa menghindari:
1. Mengabaikan atau menolak perasaan pasangan,
2. Bersikap perhitungan atau selalu membandingkan peran, dan
3. Membangun tembok dingin emosional,
Maka kita akan menciptakan hubungan yang lebih harmonis, penuh kepercayaan, dan bertahan lama.
“Semakin kita menjauhi ketiga cara menyakitkan ini, semakin besar peluang hubungan kita akan berkembang dan langgeng.” – Jeffrey Bernstein. (jhn/yn)


