Ketegangan Meningkat: Iran Siap Tutup Selat Hormuz dan Usir Ratusan Ribu Pengungsi Afghanistan

EtIndonesia. Situasi di kawasan Teluk Persia semakin memanas setelah laporan eksklusif dari Reuters menyebutkan bahwa Iran telah menyiapkan sejumlah ranjau laut untuk ditanam di Selat Hormuz—jalur pelayaran vital yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. 

Menurut informasi yang diperoleh dari sumber intelijen Amerika Serikat, sejak pertengahan Juni, pasukan militer Iran telah mulai memuat ranjau-ranjau laut ke kapal-kapal mereka yang beroperasi di sekitar Teluk Persia. Langkah ini diduga kuat sebagai bagian dari rencana Iran untuk menutup total akses Selat Hormuz jika konflik dengan negara-negara Barat semakin memburuk.

Ancaman Terhadap Stabilitas Global

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat strategis, karena hampir 20% pasokan minyak dunia melewati kawasan sempit ini setiap harinya. Penutupan selat tersebut tidak hanya akan berdampak besar pada perekonomian global, tetapi juga berpotensi memicu krisis energi dan gejolak harga minyak internasional. 

Beberapa analis menilai, langkah Iran ini bisa dikategorikan sebagai “senjata ekonomi” untuk memberikan tekanan balik terhadap sanksi dan operasi militer yang saat ini terus digencarkan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Sinyal bahaya ini langsung disambut reaksi keras dari komunitas internasional. Militer Amerika Serikat, yang selama ini telah menempatkan armada kapal induk dan kapal perangnya di kawasan Teluk, segera meningkatkan status siaga dan memantau pergerakan kapal-kapal Iran secara intensif. Sejumlah negara di kawasan pun mulai mempersiapkan skenario darurat, mengingat dampak strategis yang bisa timbul akibat konflik terbuka di Selat Hormuz.

“Lebih Baik Rugi 10.000, Demi Bikin Dunia Rugi 100”

Situasi ini turut memicu gelombang perdebatan panas di dunia maya. Di berbagai platform media sosial, warganet ramai-ramai memberikan komentar yang mencerminkan kekhawatiran dan kemarahan. Salah satu komentar yang paling viral berbunyi, “Lebih baik rugi 10.000 demi bikin dunia rugi 100.” Ungkapan ini menggambarkan bagaimana banyak pihak di Iran rela mengambil risiko besar demi menciptakan tekanan global, terutama kepada negara-negara Barat.

Pengamat politik menilai, sikap Iran tersebut tidak lepas dari pengaruh tangan-tangan asing yang ikut bermain di belakang layar. Tiongkok, yang dikenal sebagai mitra dagang utama Iran sekaligus pesaing strategis Amerika Serikat di panggung global, diduga kuat memanfaatkan situasi ini untuk memperlemah posisi Barat sekaligus memperkuat pengaruhnya di kawasan Timur Tengah.

Iran Perketat Deportasi: 4 Juta Pengungsi Afghanistan Terancam

Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, Iran juga membuat gebrakan baru yang menambah ketidakstabilan kawasan. Pemerintah Teheran baru-baru ini mengeluarkan ultimatum tegas kepada seluruh warga negara Afghanistan yang berada di Iran tanpa dokumen resmi. Mereka diperintahkan untuk meninggalkan negara tersebut paling lambat 6 Juli 2025.

Data dari Organisasi Migrasi Internasional PBB (IOM) menyebutkan, selama bulan Juni saja, lebih dari 230.000 warga Afghanistan telah meninggalkan Iran. Sejak awal tahun 2025, angka tersebut melonjak drastis, dengan total lebih dari 690.000 warga Afghanistan terpaksa angkat kaki—dan yang mengejutkan, sekitar 70 persen di antaranya dideportasi secara paksa oleh aparat Iran.

“Negara ini tak pernah menerima kami,” ungkap seorang pengungsi Afghanistan dalam wawancara dengan IOM. Pengakuan ini menggambarkan betapa sulitnya situasi yang dihadapi para pencari suaka, terutama di tengah tekanan ekonomi dan politik yang terus memburuk.

Krisis Kemanusiaan di Depan Mata

Para analis memperingatkan, kebijakan Iran ini dapat memicu krisis kemanusiaan berskala besar di kawasan Asia Tengah. Dengan perkiraan jumlah pengungsi Afghanistan di Iran mencapai 4 juta orang, ultimatum massal yang dikeluarkan pemerintah Teheran bisa menciptakan arus eksodus besar-besaran ke negara tetangga, seperti Pakistan dan Turkmenistan, yang selama ini sudah menanggung beban berat akibat gelombang pengungsi.

Badan-badan kemanusiaan internasional telah menyerukan respons darurat dan meminta negara-negara donor untuk segera meningkatkan bantuan ke kawasan, mengingat lonjakan pengungsi dapat memperparah instabilitas sosial dan ekonomi, baik di Iran sendiri maupun di kawasan sekitarnya.

Tiongkok Diduga Bermain di Balik Layar

Beberapa pakar hubungan internasional menilai, langkah-langkah agresif Iran—baik dalam menghadapi Barat di Selat Hormuz maupun dalam penanganan pengungsi—tidak terlepas dari kalkulasi geopolitik yang lebih luas. Tiongkok diyakini memiliki kepentingan strategis untuk memastikan Iran tetap berada di barisan sekutunya, terutama di tengah konflik global yang kian memanas antara blok Barat dan blok Timur.

“Ini adalah permainan catur geopolitik tingkat tinggi, di mana Iran berperan sebagai pion penting Tiongkok untuk menahan tekanan dari Amerika Serikat dan sekutu,” kata seorang analis Timur Tengah kepada Reuters.

Situasi ini masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Baik masyarakat internasional, pengungsi Afghanistan, maupun para pelaku pasar energi dunia kini menunggu langkah-langkah selanjutnya dari Iran dan tanggapan dari negara-negara besar. Semua pihak berharap agar ketegangan ini tidak berkembang menjadi konflik terbuka yang bisa mengguncang tatanan global. (***)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine