Ahli Feng Shui Peringatkan: Jangan Bepergian ke Luar Negeri di Juli – Pembersihan Karma Besar-Besaran dalam Sejarah Umat Manusia

 Isu ramalan bencana besar pada 5 Juli terus menjadi sorotan. Belakangan ini, Jepang juga sering dilanda gempa bumi, menambah kecemasan masyarakat Asia. Meskipun mangaka Jepang Ryu Shuryou  telah mengubah ucapannya dan menyatakan bahwa “tidak pasti akan terjadi sesuatu pada hari itu”, banyak pihak tetap merasa khawatir. Seorang ahli feng shui memperingatkan bahwa  Juli akan dipenuhi bencana alam dan buatan manusia, dan menyebutnya sebagai “pembersihan karma berskala epik dalam sejarah umat manusia”, serta menyarankan masyarakat untuk mengurangi perjalanan ke luar negeri.

EtIndonesia. Sejak 21 Juni, wilayah Kepulauan Tokara di Kagoshima, Jepang, telah mengalami aktivitas seismik yang sangat tinggi. Hingga pukul 18.00 waktu setempat pada 2 Juli, telah tercatat 927 kali gempa yang terasa.

Penduduk setempat tidur dalam kecemasan setiap malam, khawatir kapan gempa besar berikutnya akan datang. Ada yang menggambarkan guncangan itu sebagai “getaran mendadak naik turun, lalu seperti diputar, sangat menakutkan”.

Hanya pada 2 Juli saja, hingga pukul 17.00, tercatat 100 gempa. Akibat gempa yang terus menerus dan banyaknya gempa susulan, penduduk setempat semakin was-was. Pada malam hari, Badan Meteorologi Jepang mengadakan konferensi pers darurat.

Mereka menjelaskan bahwa konferensi darurat ini digelar karena masyarakat sangat cemas, dan hingga saat ini belum bisa dipastikan kapan aktivitas seismik ini akan berakhir. Penduduk diimbau untuk tetap waspada dan siap evakuasi setiap saat.

Mengenai kemungkinan aktivitas gempa ini memicu megagempa di Palung Nankai, para ahli menyebut kemungkinannya sangat kecil.

Ryu Shuryou, yang sebelumnya memprediksi berbagai kejadian besar dengan akurat, dalam karyanya “Apa yang Kulihat di Masa Depan”, pernah meramalkan bahwa pada 5 Juli 2025 akan terjadi gempa besar dan tsunami dahsyat di Jepang. Namun dalam karyanya yang lebih baru “Testamen Malaekat” (Juni 2025), ia mengklarifikasi bahwa tanggal dalam mimpinya belum tentu merupakan tanggal kejadian sebenarnya.

Meskipun banyak ahli menyatakan bahwa gempa bumi tidak bisa diprediksi secara tepat, menjelang 5 Juli dan dengan seringnya gempa di Kepulauan Tokara, masyarakat menjadi semakin waspada.

Pada 1 Juli, ahli feng shui Taiwan Li Jingwei menulis di Facebook bahwa Juli 2025 akan menjadi bulan penuh bencana alam dan buatan manusia, serta merupakan fase pembersihan karma terakhir dalam fenomena Kala Sarpa Yoga (Yoganya “ular langit” dalam astrologi Veda). Ia menyebut akan terjadi retrogradasi Saturnus, Neptunus, dan Merkurius secara bersamaan, serta konjungsi Mars-Ketu dan Saturnus-Neptunus, yang dapat memicu guncangan besar dalam situasi dunia.

Ia menyebutkan bahwa gempa di Kagoshima belakangan ini seolah memperkuat ramalan tentang bencana besar pada 5 Juli. Selama Juli, konfigurasi Mars dan Saturnus sangat berbahaya, yang bisa memicu letusan gunung api bawah laut, gempa bumi, atau tsunami. Meskipun belum tentu pada 5 Juli, risiko gempa besar bulan ini tidak bisa diabaikan.

Menurutnya, pada 20 Juli akan terjadi konjungsi Mars dan Ketu di rasi Leo, salah satu konfigurasi paling destruktif dalam astrologi Veda. Mars melambangkan kekerasan dan perang, Ketu berkaitan dengan karma dan akibat perbuatan, sedangkan Leo mewakili pemimpin dan otoritas, sehingga formasi ini dapat menandakan runtuhnya kekuasaan para pemimpin.

Ia juga memperingatkan, bencana terkait air seperti topan, hujan deras, banjir, longsor, dan gangguan transportasi harus diwaspadai. Selain itu, isu-isu seperti kesehatan, kehidupan masyarakat, transportasi, epidemi, dan politik bisa kembali memanas. Ia menyebut kemungkinan terjadinya kecelakaan kapal atau pesawat, serangan teroris, hingga lonjakan gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, kecanduan, dan insomnia yang berpotensi menimbulkan kekacauan sosial.

Terakhir, Li Jingwei menyarankan agar masyarakat mengurangi bepergian ke luar negeri pada Juli, dan memusatkan perhatian pada diri sendiri, kembali ke hati nurani, serta menjaga ketenangan batin karena “ketika hati benar-benar tenang, dunia pun akan ikut tenang.”

Sementara itu, pakar feng shui Hong Kong Guru Yang Tianming mengatakan dalam wawancara dengan kanal YouTube 9BoThew 膠保廢 bahwa ia pernah dua kali meramal potensi gempa pada Juli–Agustus, dan dua-duanya menyatakan ‘langit berkata ada’. Ia yakin kemungkinan gempa di atas magnitudo 7 sangat besar, dan menyarankan masyarakat untuk tidak pergi ke Jepang jika tidak perlu selama dua bulan ini.

Biksu Jepang Miki Taiun, yang pernah meramalkan secara akurat penembakan mantan PM Jepang Shinzo Abe, juga menyampaikan dalam kanal YouTube-nya bahwa “Juli perlu sangat diperhatikan” karena akan muncul “gas merah” di atmosfer bawah — fenomena cahaya merah yang dalam kitab suci Buddha dianggap sebagai tanda awal gempa bumi. Ia memperkirakan Juli akan menjadi puncak aktivitas suar matahari yang menghantam bumi, menyiratkan bahwa “waktunya telah tiba”, dan menganjurkan masyarakat untuk menyiapkan jalur evakuasi dan peta bencana. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine