- Kematian mendadak mantan Perdana Menteri Tiongkok, Li Keqiang, sejak awal sudah dianggap penuh kejanggalan oleh publik.
- Seiring melemahnya kekuasaan pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT), desakan untuk menyelidiki penyebab kematian Li Keqiang kembali menguat. Kabar terbaru menyebutkan bahwa istri Li Keqiang, Cheng Hong, tengah mengajukan gugatan kepada Komite Sentral PKT dan Komisi Militer Pusat untuk menuntut kebenaran atas kematian suaminya.
- Pada 3 Juli, media resmi PKT People’s Daily (Harian Rakyat) secara besar-besaran menerbitkan artikel pujian terhadap Li Keqiang, namun media partai lainnya Qiushi tiba-tiba menghapus artikel peringatannya — sebuah sinyal apa yang sesungguhnya tengah disampaikan?
EtIndonesia. Tanggal 3 Juli merupakan hari ulang tahun ke-70 mendiang Li Keqiang. Pada hari itu, People’s Daily menerbitkan artikel panjang untuk mengenangnya, memujinya sebagai tokoh yang “secara aktif mendorong kejujuran dan tindakan nyata”, serta “memimpin penolakan terhadap formalisme dan birokrasi” — semua ini dinilai sebagai bentuk penghormatan dari sudut pandang mempertahankan partai.
“Jika diperhatikan dengan saksama, ini bukan hanya penilaian ulang sejarah terhadap Li Keqiang, tetapi juga secara jelas merupakan sebuah pengangkatan citra dirinya,” ujar rokoh media independen terkenal, Li Muyang.
Namun yang mencurigakan, artikel penghormatan yang dipublikasikan di situs resmi Qiushi, majalah teori resmi Komite Sentral PKT, tiba-tiba dihapus pada hari yang sama.
Li Muyang menilai: “Ini mencerminkan adanya perpecahan kekuasaan di dalam. Bayangkan jika saat itu Xi Jinping masih memegang kekuasaan penuh, media partai hanya akan memberitakan Li Keqiang secara formalitas dan seadanya, tanpa artikel panjang atau pujian khusus. Tapi sekarang, setelah kematiannya, justru muncul penghormatan besar-besaran. Terlebih lagi, saat ini menjelang pertemuan Beidaihe, dan rumor tentang kejatuhan Xi Jinping ramai beredar. Dalam konteks ini, peninggian nama Li Keqiang menurut saya adalah bentuk rehabilitasi politik terhadap dirinya.”
Pengamat politik Tiongkok di AS, Chen Pokong, menambahkan: “Penghapusan artikel ini justru merupakan blunder. Hal itu menunjukkan bahwa faksi Xi Jinping sedang mencoba menutupi sesuatu — ‘semakin ingin menyembunyikan, semakin jelas ada yang disembunyikan.’ Ini malah memperkuat dugaan bahwa Li Keqiang memang dibunuh. Tak diragukan lagi, pasti ada orang di dalam partai yang menyinggung masalah ini, itulah mengapa sekarang Xi dan kroni-kroninya panik seperti semut di atas wajan panas, takut semua ini akan terbongkar.”
Pada 27 Oktober 2023, otoritas PKT menyatakan bahwa Li Keqiang “meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak saat sedang beristirahat di Shanghai.” Namun publik secara luas mencurigai bahwa ia sebenarnya menjadi korban intrik dan perebutan kekuasaan internal partai.
Belakangan ini, muncul kabar bahwa istri Li Keqiang, Cheng Hong, secara resmi mengajukan gugatan kepada Komite Sentral PKT dan Komisi Militer Pusat, untuk menuntut pengungkapan kebenaran kematian suaminya. Para analis menilai informasi ini bukan sekadar rumor kosong.
Li Muyang berkomentar lagi: “Sebab ketika Li Keqiang meninggal tahun 2023, istrinya tidak bersuara. Kini ia mulai bersuara, apa artinya? Saat itu Xi Jinping masih memegang kekuasaan penuh. Sekarang ia bersuara — ini mencerminkan bahwa kekuasaan Xi sudah melemah.”
Sejak tahun lalu, para pejabat kepercayaan Xi — baik di kalangan militer maupun politik — mengalami nasib serupa: dicopot, diberhentikan, bahkan meninggal secara misterius atau menghilang tanpa jejak. Baru-baru ini, Jenderal AS Michael Flynn dan mantan diplomat senior Slayton secara terbuka menyatakan bahwa tanda-tanda ini menunjukkan bahwa kejatuhan Xi Jinping semakin dekat. (Hui/asr)
Laporan oleh reporter NTD, Tang Rui.


