Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa mata uang Tiongkok, yuan (renminbi), tidak dapat menjadi mata uang cadangan global karena tidak dapat diperdagangkan secara bebas. Ia mengatakan, “Sebanyak 1,4 miliar warga Tiongkok ingin memindahkan uang mereka ke luar negeri.” Pernyataan tersebut disampaikan Bessent dalam wawancara dengan Bloomberg pada 3 Juli waktu setempat.
Etindonesia. Nilai tukar dolar AS yang belakangan ini melemah telah menimbulkan kekhawatiran atas status dolar sebagai mata uang utama dunia. Menanggapi hal ini, Menkeu AS Bessent membantah kekhawatiran tersebut.
Ia menjelaskan, “Pergerakan nilai tukar dolar tidak ada kaitannya dengan kebijakan dolar kuat. Kami menerapkan kebijakan dolar kuat untuk memastikan bahwa dolar tetap menjadi mata uang cadangan dunia dalam jangka panjang.”
Tahun ini, beberapa pembuat kebijakan di Tiongkok dan Eropa telah mempertanyakan dominasi dolar dan menyuarakan perlunya reformasi sistem keuangan global guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar.
Namun, menurut Bessent, harapan agar RMB. mengambil peran global adalah “omong kosong total”.
“Mata uang mereka tidak dapat dikonversi secara bebas. Jadi, bagaimana mungkin bisa menjadi mata uang cadangan? Terlebih lagi, ada 1,4 miliar warga Tiongkok yang ingin memindahkan uangnya keluar dari Tiongkok.”
Bessent, yang telah berkarier selama puluhan tahun di dunia hedge fund dan ahli dalam perdagangan valuta asing, menegaskan bahwa “syarat utama mata uang cadangan adalah dapat diperdagangkan secara bebas”, namun Beijing terus memberlakukan kontrol modal secara ketat.
Ia juga mengatakan, “Sejak Perang Dunia II, banyak orang telah memprediksi keruntuhan status dolar sebagai mata uang cadangan. Menurut saya, para peragu akan kembali terbukti salah.” (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


