Gadis Cantik yang Dibesarkan di Kampung Kusta, Bertekad Membalas Budi Orangtua Angkatnya

EtIndonesia.Di kampung kusta yang dulu pernah dikucilkan, sebuah kisah penuh kasih tumbuh dalam keheningan. Seorang bayi perempuan yang dibuang, kini telah tumbuh menjadi gadis cantik. Namun orangtua angkatnya, sepasang suami istri yang dulunya penderita kusta, tak lagi sanggup membiayai pendidikannya. Saat mereka menyarankan agar dia mencari orangtua kandungnya, sang gadis justru menangis dan berkata: “Kalian adalah orangtuaku yang sesungguhnya!”

Menurut laporan Chongqing Morning Post, Kampung Kusta Wanzhou terletak jauh di pedalaman hutan perbukitan, di kawasan Zoumatan, Distrik Wanzhou.  Di masa puncaknya, kampung ini dihuni oleh 70 penderita kusta. Kini hanya tersisa 7 orang yang tinggal di sana—semuanya telah sembuh. Di antara mereka adalah pasangan suami istri: Wu Tiangui dan Jiang Changzhen.

Pada suatu pagi musim dingin di tahun 1989, Wu Tiangui menemukan sebungkus kain tergeletak di pinggir jalan. Saat dibuka, ternyata isinya adalah bayi perempuan yang baru lahir dan nyaris beku hingga tak bernyawa.

Kala itu, pasangan Wu telah dinyatakan sembuh dari kusta, dan pemerintah mengizinkan mereka mengadopsi bayi tersebut. Wu Tiangui menamai bayi itu Wu Jilin.

Bayi yang Menjadi Harapan Sebuah Kampung

Kehadiran si mungil Wu Jilin membawa kebahagiaan luar biasa bagi seluruh kampung kusta. Setiap hari, para warga—baik yang sudah sembuh maupun yang masih menjalani pengobatan—bergantian datang melihat bayi itu, seolah dia adalah cahaya harapan bagi semua.

Wu Tiangui dan istrinya menganggap Wu Jilin sebagai anugerah dari langit. Demi memberi susu untuk sang bayi, mereka harus berjalan kaki selama 4 jam ke pasar terdekat di Zoumatan untuk membeli susu bubuk.

Masa Kecil yang Penuh Perjuangan

Saat Jilin berusia 4 tahun, dia mulai bersekolah di TK di Desa Shangbaliang, tak jauh dari kampung. Setiap pagi, Wu Tiangui akan menggendong Jilin menuruni gunung, menyeberangi sungai kecil, lalu membiarkan anaknya mendaki sendiri sebuah bukit untuk mencapai sekolah. Saat sore, dia akan menunggu di tepi sungai untuk menjemputnya pulang.

Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun—hingga Jilin masuk sekolah dasar.

Di kampung itu, Jilin bukan hanya anak dari Wu Tiangui dan istrinya, melainkan anak dari seluruh kampung kusta. Semua orang menaruh harapan padanya. Dan Jilin tak pernah mengecewakan mereka.

Anak yang Cerdas dan Penuh Bakti

Sejak SD, hingga SMP dan SMA, nilai-nilai Jilin selalu bagus. Dia juga sangat pengertian dan rajin. Sepulang sekolah, dia membantu orangtuanya: mengambil air dari ladang, mencari kayu bakar dari hutan, hingga menyalakan api dan memasak meski usianya masih kecil.

Saat masuk SMP, Jilin hidup dengan sangat hemat. Uang jajan dari ayahnya hampir tak pernah dihabiskannya, bahkan dia kembalikan sisa uangnya ke ayah.

Wu Tiangui pernah berkata dengan sedih: “Nak, belilah daging sesekali di sekolah…”

Tapi Jilin menjawab : “Ayah, tumisan sayur asin buatan Ayah sudah penuh minyak. Aku tak butuh makan daging lagi.”

Dibanjiri Harapan, Namun Tersandung Biaya

Dengan membawa harapan seluruh kampung, Jilin berhasil lolos seleksi masuk SMA di pusat Kota Wanzhou pada musim gugur 2005. Saat keberangkatan, semua warga kampung mengantar dan mendoakan.

Namun hanya setahun kemudian, dia terpaksa putus sekolah. Biaya sekolah dan kebutuhan hidup di kota terlalu tinggi, dan keluarga Wu tak lagi sanggup menanggungnya.

Wu Tiangui yang kini telah menyandang disabilitas berat, dengan berat hati menyarankan: “Jilin, mungkin kamu bisa mencari orangtua kandungmu… mungkin mereka bisa bantu kamu melanjutkan sekolah.”

Tangis Penolakan yang Tulus

Mendengar itu, Jilin menangis keras dan berkata: “Ayah… apa Ayah sudah tidak mau aku lagi?”

Wu Tiangui pun langsung panik: “Bukan begitu, Nak. Ayah takut menghambat masa depanmu… Ayah benar-benar tak mampu biayai sekolahmu lagi.”

Dengan air mata membanjiri wajahnya, Wu Jilin menjawab tegas: “Kalian yang membesarkanku. Kalian adalah orangtuaku yang sebenarnya!”

Keluar Mencari Hidup, Tapi Pulang dengan Harapan Baru

Setelah putus sekolah, Jilin memutuskan pergi merantau untuk bekerja.

Selama satu tahun penuh, dia mencoba peruntungan di luar, namun tidak membuahkan hasil.
Dia pun kembali ke kampung.

Saat ditanya tentang rencananya ke depan, Jilin berkata: “Aku ingin masuk sekolah perawat. Aku ingin jadi suster.”

Cita-Cita untuk Mengabdi dan Membalas Budi

Bagi Jilin, menjadi perawat adalah jalan untuk:

·        Membantu orang lain,

·        Mendapatkan penghasilan yang layak,

·        Dan merawat Ayah dan Ibu yang telah membesarkannya.

Dia juga menambahkan, meski kelak menikah dan berkeluarga, dia akan tetap tinggal bersama orangtua angkatnya, karena mereka adalah segalanya baginya.

Sebuah Kisah Kemanusiaan yang Menyentuh Dunia

Di tempat yang banyak orang hindari… Tumbuh kasih sayang yang tak banyak dimiliki orang-orang “normal”.

Wu Jilin bukan hanya seorang gadis cantik dari kampung terpencil. Dia adalah simbol ketulusan cinta, simbol dari pengorbanan diam-diam, dan janji setia seorang anak kepada orangtua yang mencintainya tanpa syarat. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine