Sejak akhir Juni hingga kini, Kepulauan Tokara di lepas pantai Prefektur Kagoshima, Jepang, telah mengalami lebih dari seribu gempa bumi yang terasa, memicu kepanikan di kalangan warga setempat. Setelah evakuasi tahap pertama pada 4 Juli, evakuasi tahap kedua dijadwalkan berlangsung pada 6 Juli. Dalam hitungan hari, terjadi fenomena langka berupa “pergeseran kerak bumi beberapa sentimeter”, yang mengejutkan para ahli geologi.
EtIndonesia. Sejak 21 Juni hingga 5 Juli pukul 05.00 pagi, Kepulauan Tokara di lepas pantai Prefektur Kagoshima, wilayah Kyushu, Jepang, telah mengalami total lebih dari 1.324 gempa bumi. Pada 5 Juli pukul 06:29 pagi waktu setempat , wilayah desa Toshima kembali diguncang gempa bermagnitudo 5,3.
Menurut laporan media Jepang seperti NHK dan Kyodo News, Kepala Bagian Pemantauan Gempa dan Tsunami Badan Meteorologi Jepang, Ayataka Ebitani, dalam konferensi pers pada 5 Juli menyatakan bahwa karena aktivitas gempa yang terus berlanjut, daerah dengan intensitas gempa yang tinggi menghadapi peningkatan risiko keruntuhan bangunan dan tanah longsor. Ia menyerukan kewaspadaan tinggi terhadap gempa susulan dan kondisi hujan, serta menghindari daerah berbahaya.
Badan Meteorologi juga memperingatkan bahwa aktivitas seismik di wilayah tersebut masih tergolong aktif dan kemungkinan terjadinya gempa berkekuatan intensitas 6 tetap ada.
Meskipun hingga saat ini belum dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan bangunan, warga setempat mengaku lelah secara fisik dan mental, dan banyak yang menyatakan keinginan untuk mengungsi.
Walikota Toshima, Genichiro Kubo, dalam konferensi pers menyatakan bahwa mulai pukul 15:00 pada 5 Juli, desa telah mulai menerima permohonan evakuasi, dan sejauh ini sekitar 20 orang telah menyatakan keinginan untuk pergi. Kali ini, selain Pulau Akusekijima, Pulau Takarajima yang juga berada di bawah yurisdiksi Desa Toshima, juga termasuk dalam daftar evakuasi. Mereka dijadwalkan berangkat dengan kapal 6 Juli pagi dan tiba di Kota Kagoshima pada malam harinya untuk penampungan sementara.
Menurut laporan TBS, di depan kantor desa di Toshima, staf desa tampak sibuk bolak-balik, dan terlihat pula kehadiran anggota Pasukan Bela Diri Jepang serta Penjaga Pantai Jepang yang turut membantu evakuasi.
Pada 4 Juli, sebanyak 13 orang dari kelompok pertama yang ingin mengungsi telah tiba di Kota Kagoshima setelah menempuh perjalanan laut selama sekitar 11 jam. Pada 6 Juli, sebanyak 44 penduduk pulau tambahan akan dievakuasi ke Kagoshima, terdiri dari 31 orang dari Pulau Akusekijima dan 13 orang dari Pulau Takarajima.
Pada 4 Juli, Komite Penyelidikan Gempa Jepang mengadakan pertemuan darurat. Komite menyatakan bahwa aktivitas seismik di wilayah laut Kepulauan Tokara sangat bersifat siklus, biasanya berfluktuasi antara periode aktif dan tenang, sehingga sulit untuk menentukan kapan aktivitas gempa akan berhenti.
Data pemantauan perubahan kerak bumi menunjukkan bahwa Pulau Takarajima di Desa Toshima mengalami pergeseran kerak bumi sekitar 2 sentimeter ke arah timur laut sebelum gempa bermagnitudo 5,6 pada 2 Juli. Di sekitar waktu terjadinya gempa, kerak bumi kembali bergeser 4,2 sentimeter ke arah selatan.
Ketua Komite Penyelidikan Gempa dan Profesor Emeritus Universitas Tokyo, Nao Hirata, dalam konferensi pers menyebutkan bahwa besarnya pergeseran kali ini sangat signifikan, dan arah pergerakannya pun sangat tidak biasa. Ia mengatakan bahwa sejak awal Juli, aktivitas gempa cenderung meluas ke arah timur-barat. Aktivitas seismik kini telah memasuki fase baru dan menjadi lebih sering.
“Namun, kami belum mengetahui secara pasti apa penyebab dari situasi ini,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa karena saat ini masih kurang data pengamatan aktivitas dalam di bawah permukaan bumi, penyebab pastinya belum dapat dipastikan. Namun, ada kemungkinan besar bahwa fenomena ini disebabkan oleh pergerakan magma akibat aktivitas vulkanik.
Komite menyatakan bahwa mereka akan terus memantau aktivitas kerak bumi di wilayah Kepulauan Tokara dengan ketat, dan menghimbau warga setempat untuk tetap waspada. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


