Anak Pejabat Bongkar Kebenaran di Balik Banyaknya Remaja yang Hilang di Tiongkok

EtIndonesia. Eric MY, seorang anak pejabat daerah dari salah satu kota tingkat kabupaten di Provinsi Jiangsu, Tiongkok,  kini menjadi tokoh penentang Partai Komunis Tiongkok (PKT), sebelumnya pernah bekerja di dalam sistem pemerintahan PKT. Belakangan, ia mengungkap kepada Epoch Times kebenaran mengerikan tentang banyaknya remaja di Tiongkok yang hilang. 

Menurutnya, alasan mengapa anak-anak yang hilang tidak bisa ditemukan adalah karena organ tubuh mereka telah diambil. Bahkan, ada kekuatan misterius yang melarang penyelidikan dilakukan. Ia juga membongkar kondisi politik kota tingkat kabupaten tempat ia berasal. 

Manusia Transparan di Bawah Pengawasan Big Data

Eric menjelaskan bahwa pusat investigasi kepolisian dilengkapi dengan layar besar analisis big data yang terdiri dari 20–30 monitor. Sebagian digunakan untuk pemantauan langsung, sebagian lagi untuk mengakses database berkategori sensitif. 

Semua nomor ponsel di komunitas bisa dipantau. Misalnya, jika seseorang membicarakan isu sensitif di WeChat, nomornya akan berubah menjadi warna merah dan langsung dimonitor. Jika pembahasan menyentuh isu politik, kantor hukum pemerintah langsung menangkap orang tersebut.

“Waktu itu, kami bisa mengendalikan ponsel Android. Ada alat seperti power bank, namanya Pangu Cloud Stone, cukup dicolok ke ponsel, tidak perlu sandi, seluruh isi ponsel bisa diakses. Dengan memasang satu plugin, layar juga bisa dimonitor. Dulu hanya iPhone yang sulit diretas, tapi sekarang kabarnya iPhone pun bisa diakses. Itulah sebabnya saat itu pemerintah mendorong masyarakat memakai ponsel Huawei, agar lebih mudah dimonitor.”

“Pusat anti-penipuan juga serupa. Kami bisa langsung akses database pusat tersebut. Kalau kamu memasang aplikasi anti-penipuan, semua data di ponselmu bisa terlihat: album, kontak, SMS—semuanya transparan. iPhone memang sulit dipantau, tapi kalau dipasang software tertentu, tetap bisa dimonitor.”

Sebelum ada aplikasi anti-penipuan, belum sepenuhnya bisa mengawasi semua aktivitas. Percakapan sehari-hari bisa dipantau, tapi konten yang lebih dalam seperti di Douyin (TikTok versi Tiongkok) saat itu (selama pandemi) masih belum bisa—harus ada surat resmi dari divisi keamanan untuk meminta data dari kantor pusat Douyin.

“Ini semua berkaitan dengan sistem reputasi big data di Tiongkok, mirip seperti WeChat. Setiap tindakanmu, termasuk pembelian online, semuanya direkam dan dimonitor. Di Tiongkok, tidak ada yang namanya privasi—kita ini manusia transparan.”

“Kami juga punya teknologi pengenalan wajah multi-sudut dan pengenalan cara berjalan. Kenapa data dari empat sisi dikumpulkan? Dulu hanya ambil foto depan dan samping. Kini, rahang, lengan, semua direkam. Jadi meskipun pakai masker atau helm, saat berjalan di jalan tetap bisa dikenali. Misalnya, kamu melangkah dengan kaki kanan atau mengangkat tangan kiri lebih dulu—semua tercatat di big data.”

Epoch Times sebelumnya melaporkan bahwa PKT menghabiskan dana besar untuk membangun sistem stabilitas digital, menggabungkan proyek “Cahaya Terang”, platform tata kelola masyarakat berbasis grid, dan analisis big data, yang telah meresap ke seluruh lapisan masyarakat Tiongkok untuk melakukan pengawasan dan kontrol ekstrem terhadap warga. 

“Orang Dalam Sistem Tidak Merasakan Penderitaan”

Eric mengungkap, wilayah Suzhou-Zhejiang-Shanghai menggunakan dua sistem perangkat lunak pengawasan: satu bernama Jingwutong, satu lagi Lanxin. Karena daerah ini ekonominya maju, dana stabilisasi yang digelontorkan pun paling besar. Tapi menurutnya, dana untuk pengembangan big data dan AI seluruhnya dipakai untuk stabilisasi, sehingga gaji pun sulit dibayar. Infrastruktur di Tiongkok juga terlalu berlebihan. Di kota tingkat kabupaten tempat ia bekerja, perusahaan investasi perkotaan milik pemerintah lokal membangun gedung lebih dari 40 lantai, tertinggi kedua setelah Suning Plaza.

“Uang negara habis sia-sia. Satu kartu grafis saja bisa seharga puluhan ribu yuan, padahal pendapatan pajak tahunan berapa? Bahkan pena pengaman berbentuk bulat di pusat investigasi—itu juga buatan perusahaan milik negara, hanya untuk mencegah bunuh diri. Alat-alat seperti itu harus dibeli tiap tahun. Dana untuk stabilisasi terlalu besar.”

Namun Eric menilai, situasi ini masih bisa dipertahankan satu dua tahun ke depan, karena sejak era Nvidia RTX 4090, pemerintah mulai memborong perangkat keras secara besar-besaran.

“Krisis ekonomi baru saja dimulai. Pemerintah pusat pasti masih mengucurkan dana untuk mempertahankan status quo dan terus menjaga ‘utopia’ ini. Padahal impian Tiongkok sudah hancur.”

Pada November tahun lalu, daerah tempatnya bekerja mulai mengalami keterlambatan gaji.

“Akhir Juni kemarin baru dibayar dua bulan gaji, sesuai janji pemerintah: ‘Berusaha bayar tiga bulan, minimal dua bulan.’ Sampai sekarang, pengadilan masih berutang 5 bulan gaji. Tapi ini tergantung pada unit dan level jabatan. Jika pangkat cukup tinggi, tidak akan kena penundaan gaji. Saat ini, ekonomi Tiongkok yang paling menderita adalah rakyat kecil. Kaum elit dan orang dalam sistem, tidak merasakan sakit sama sekali.”

“Bonus dan tunjangan juga banyak berkurang. Dulu akhir tahun dapat bonus langsung atau kartu belanja. Tahun ini (2025), semuanya diganti jadi beras, tepung, dan minyak. Padahal sebelumnya bahan pangan itu dibagikan sebulan sekali, sekarang tidak lagi.”

“Pemerintah bahkan mencari untung lagi dari sini. Perusahaan investasi kota mengadakan bazar tahun baru. Semua pegawai negeri dapat kartu belanja atau kupon sembako (pegawai golongan bawah dapat 500 yuan, yang tinggi bisa 1.000–2.000 yuan) yang hanya bisa dibelanjakan di bazar itu. Harga barang di dalam jauh lebih mahal dari pasaran.”

“Misalnya, satu dus arak Suzhou di luar hanya 480 yuan, di situ dijual 700–800 yuan. Yang bisa buka bazar semacam itu pasti punya koneksi. Jumlah PNS di daerah itu ribuan orang, hanya dari satu musim libur bisa menghasilkan puluhan juta yuan.”

Banyak Anak yang Hilang — Pemerintah PKT Diduga Jadi Dalang Pengambilan Organ Secara Paksa

Tiongkok setiap tahunnya mencatat jumlah besar orang hilang. Berdasarkan Laporan Buku Putih Orang Hilang di Tiongkok (2020), pada tahun 2020 tercatat ada 1 juta kasus orang hilang. Menurut laporan China National Radio pada 2013, sekitar 200.000 anak hilang setiap tahun, dan yang berhasil ditemukan hanya 0,1%.

Padahal Tiongkok memiliki sistem pengawasan canggih yang disebut “Sky Eye” (mata langit). Lantas, mengapa anak-anak yang hilang tidak bisa ditemukan?

Eric, seorang mantan pejabat dari kota tingkat kabupaten, mengatakan bahwa ia pernah menangani beberapa kasus kehilangan anak. Namun, yang ditangani bukan kasus kehilangan anak itu sendiri, melainkan masalah dari orang tuanya. Misalnya, ketika seorang anak hilang dan orang tua melapor ke kantor polisi, sering kali polisi menolak untuk menangani, atau setelah diterima pun, anak tetap tidak ditemukan. Jika orang tua mencoba melakukan pelaporan ke tingkat lebih tinggi atau melakukan kunjungan ke kantor pemerintah (shangfang), maka mereka akan ditangkap dan dibawa ke pusat penanganan kasus.

“Kalau mengikuti prosedur resmi, kami seharusnya bisa mengajukan persetujuan ke Kantor Hukum, lalu gunakan sistem big data untuk mencarinya—dan pasti bisa ditemukan. Anak itu sekalipun dibawa ke ujung dunia, tetap bisa dilacak keberadaannya. Karena sistem CCTV di Tiongkok sangat banyak—puluhan juta kamera. Baik anak-anak maupun orang dewasa, selama ada fotonya atau namanya, sistem Sky Eye akan otomatis melacak keberadaannya. Dalam kurang dari 5 detik, orang itu pasti ditemukan. Ini benar-benar bisa dilakukan.”

“Tapi kenapa tidak ditemukan? Saya kasih tahu: karena mereka sudah diambil organnya. Ini memang benar terjadi. Kami dulu, karena rasa iba, pernah meminta izin ke atasan untuk menggunakan Sky Eye, tapi tidak diizinkan. Kantor Hukum tidak memberi izin, bagaimana bisa kami menyelidiki? Kalau kami tetap menyelidiki, kami yang akan dipersalahkan.”

Eric menegaskan bahwa pelaku utama dari praktik pengambilan organ ini adalah pemerintah itu sendiri. Karena pemerintah yang mengatur, maka semua akses penyelidikan dibatasi dari atas. Secara teori, bila ada persetujuan, pencarian bisa dilakukan hingga ke tempat seseorang menjadi abu sekalipun—tetap bisa dilacak lokasi abu tersebut. Jadi, bukan karena sistem tak mampu, melainkan karena anak-anak tidak diizinkan untuk dilacak. Organ dari remaja paling mahal dan paling sehat.

“Sebenarnya, masyarakat Tiongkok harusnya sudah bisa memahami: kalau kamu hidup di negara di mana kamu tidak bisa bersembunyi sama sekali, kenapa justru anak-anak itu tidak bisa ditemukan? Jawabannya: karena ada kekuatan misterius yang tidak mengizinkan kamu mencari. Cukup dengan berpikir logis, sudah bisa menyimpulkan sendiri. Kami tidak perlu membongkar lagi, ini bukan rahasia umum. PKT mengklaim punya 100 juta anggota partai, dan memang ada proporsi tertentu yang harus ‘menghidupi’ sistem itu.”

Menurut Eric, orang-orang yang mendapatkan organ biasanya adalah orang kaya atau berkuasa—orang biasa tidak punya kesempatan. Di rumah sakit kelas utama (kelas 3A) di daerahnya, transplantasi organ sudah menjadi hal biasa. Dulu, 10 tahun lalu, masih harus antre dan mengajukan permohonan. Sekarang, pagi mengajukan, sore sudah tersedia organ baru—dari hasil pencabutan langsung.

Eric juga mengungkap bahwa mereka pernah menangani sengketa antara pasien dan rumah sakit.

“Misalnya, ada pasien yang meninggal karena penanganan rumah sakit. Saya rasa, kemungkinan besar pada hari yang sama ada permintaan organ. Kenapa? Karena saat keluarga pasien ribut di kantor polisi, mereka justru ditangkap dan dibawa ke pusat penanganan kasus. Atasan sudah memberi tahu: kasus ini tidak boleh ditindaklanjuti, harus ditekan habis. Padahal, seharusnya diselidiki. Kenapa tidak? Karena pemerintah menganggap tak perlu diselidiki lagi—kasusnya sudah dianggap selesai.”

Kenapa Pemerintah Bisa Begitu Berani?

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah anak hilang di Tiongkok semakin meningkat. Masyarakat pun mulai curiga bahwa mereka dijadikan target pencabutan organ. Tapi bagaimana bisa PKT berani melakukannya secara terang-terangan?

Eric menjelaskan bahwa karena pemerintah menutup semua akses informasi. Misalnya, poster atau brosur tentang anak hilang tidak boleh lagi ditempel di mobil. Dari hulu sudah diblokir penyebaran informasinya.

Ajak Semua Orang Sebarkan Kebenaran

“Nyawa di bawah rezim Komunis tidak ada nilainya sama sekali—ibarat setitik air di laut. Yang paling diperhatikan oleh Partai Komunis adalah stabilitas. Kalau generasi kita ini tidak bisa melihat perubahan di Tiongkok, maka generasi selanjutnya tidak akan punya kesempatan. Pendidikan sejarah dan ideologi sekarang makin ketat. Ayah saya masih tahu soal ‘Tragedi Tiananmen 1989’, tapi sekarang bahkan Revolusi Kebudayaan saja sudah tak diajarkan. Penutupan informasi terus dilakukan, seluruh sejarah sedang ‘direvisi’.”

“Jadi saya tetap mendorong semua orang untuk meneruskan kebenaran ini. Kami tidak menuntut Tiongkok harus menjadi demokrasi, tapi setidaknya menjadi masyarakat normal, di mana hak hidup bisa dihormati. Pengambilan organ secara paksa ini harus dihentikan.” (Hui/asr)

Sumber : Epoch Times

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine