Agar Bahagia, Belajarlah Berpikir Seperti Lansia

EtIndonesia. Pengalaman hidup para lansia tidak hanya penuh hikmah, tapi juga memberikan inspirasi dan keteladanan. Ujian hidup yang mereka lalui membuat mereka lebih kuat dan tahan banting. Maka tidak heran, para ahli menyarankan:

Jika Anda ingin lebih bahagia, mulailah berpikir seperti orang tua.

Belajar dari Pola Pikir Lansia

Dr. Loren A. Olson, seorang psikiater dan penulis asal Amerika, dalam tulisannya di situs Psychology Today, mengutip hasil penelitian dari Prof. Laura Carstensen, seorang pakar psikologi penuaan dari Universitas Stanford. 

Dia menemukan bahwa: Orang yang lebih tua justru lebih bahagia dibandingkan orang-orang usia paruh baya maupun kaum muda.

Hasil tersebut didukung oleh banyak studi lain yang menyatakan hal serupa.

Menurut dr. Olson, para lansia adalah gudang kebijaksanaan dan pengalaman hidup. Meski mungkin bekerja lebih lambat dari segi fisik, mereka masih mampu memberi kontribusi besar di dunia kerja. Bahkan, kata Olson, lansia bisa menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor.

Bekerja kembali setelah pensiun juga memberi makna hidup baru bagi mereka.  Dia mencontohkan dirinya sendiri.

“Saya berusia 80 tahun dan masih bekerja. Saya tidak bergantung pada orang lain,” katanya.

Tentu, lanjut usia bukan satu-satunya faktor. Latar belakang pendidikan dan jenis pekerjaan juga turut menentukan apakah seseorang bisa terus berkarya di usia senja.

Paradoks Penuaan: Fisik Melemah, Tapi Bahagia Bertambah

Dr. Olson menyoroti apa yang dia sebut sebagai “paradoks penuaan”:

Meskipun secara fisik dan fungsional tubuh menurun seiring bertambahnya usia, namun justru tingkat kebahagiaan meningkat.

Berbagai penelitian membuktikan bahwa perasaan depresi, kecemasan, stres, rasa khawatir, dan kemarahan justru menurun seiring dengan bertambahnya umur.

“Menyadari bahwa kita tidak akan hidup selamanya justru dapat mengubah cara pandang kita terhadap hidup secara positif.” — Loren A. Olson

Usia Fisik, Usia Psikologis, dan Usia Biologis

Dr. Olson menjelaskan bahwa usia kronologis—angka di akta lahir—hanyalah satu dimensi. Kita juga memiliki usia biologis dan usia psikologis, yang bisa berbeda-beda antar individu, dan berubah seiring waktu.

Dengan bertambahnya usia, banyak aspek dalam diri kita yang justru membaik, misalnya:

·        Kemampuan menerima diri dan orang lain

·        Keinginan membangun hubungan yang lebih bermakna

·        Kebijaksanaan dan empati

·        Kemampuan memaafkan

·        Rasa syukur

·        Ketahanan mental (resiliensi)

·        Emosi yang lebih stabil

·        Reaksi impulsif yang semakin berkurang

Perubahan Tujuan Hidup: Dari Ambisi ke Kedamaian

Saat seseorang semakin tua, pandangan terhadap waktu ikut berubah. Fokus hidup mereka pun mengalami pergeseran.

Lansia cenderung mengalokasikan energi mental mereka untuk hal-hal positif dan menghindari paparan informasi negatif.

Meskipun waktu semakin terasa terbatas, tetapi urgensi mereka berubah. Bukan lagi soal mengejar ambisi atau status, melainkan soal menghargai dan menikmati setiap momen yang tersisa.

Fokus pada Hubungan yang Bermakna

Dr. Olson mengingat kembali masa mudanya, ketika seluruh perhatian diarahkan pada pencapaian—belajar, merancang karier, dan memperluas jaringan sosial. Saat itu, dia tidak pernah merasa waktu terbatas.

Namun kini, setelah usia bertambah, dia lebih memilih:

·        Menjalin hubungan yang hangat dan bermakna

·        Bekerja hanya di waktu dan tempat yang dia pilih

·        Mengurangi interaksi sosial yang tidak penting, dan memelihara hubungan yang paling berharga

Dia mengaku semakin menikmati hidup. Dia tidak lagi peduli pada hal-hal sepele, mampu lebih menghargai orang lain, dan lebih mudah memaafkan. Semakin dia melakukan itu semua, semakin ia merasa bahagia.

Menikmati Hidup di Tengah Kesedihan

Dia pun mengakui bahwa dia pernah mengalami kehilangan dan duka, namun sekarang dia bisa berdamai dengan kesedihan itu.

“Hidup tidak lagi seperti serangkaian peristiwa menyakitkan,” katanya.

 Sebaliknya, dia mengalami lebih banyak sukacita, kepuasan, dan rasa syukur.

“Saya tak lagi percaya pada konsep ‘besok masih ada hari’. Tidak ada jaminan bahwa saya masih akan hidup besok. Jadi saya gunakan hari ini sebaik mungkin. Saya biarkan masa depan menjadi kejutan—sebagaimana dia ingin datang.”

Ajakannya: Berpikirlah Seperti Lansia, Bahagialah Seperti Lansia

Di akhir tulisannya, dr. Olson mengajak kita semua untuk:

“Mulailah belajar berpikir seperti orang tua, dan nikmati kebahagiaan seperti yang mereka rasakan.”(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine