EtIndonesia. Setelah berselisih dengan Presiden AS Donald Trump, miliarder Elon Musk pada Sabtu (5 Juli) mengumumkan pembentukan partai politik baru dan menyatakan bahwa partai ini akan mewakili 80% pemilih moderat. Namun, media Amerika menganalisis bahwa partai baru ini akan menghadapi beberapa tantangan besar.
Musk Mendirikan Partai Baru!
Dalam sebuah unggahan di platform X pada 5 Juli, Elon Musk menyatakan: “Hari ini, Partai Amerika (America Party) resmi didirikan — untuk mengembalikan kebebasan kepada kalian.”
Namun hingga kini, Musk belum menyerahkan dokumen pendaftaran resmi dan belum mengumumkan secara rinci platform atau manifesto partainya.
Pada hari yang sama, Musk menyatakan dukungan terhadap saran kebijakan dari seorang pengguna X, yang meliputi pengurangan utang nasional, modernisasi militer dengan kecerdasan buatan dan robotika, dukungan terhadap kebebasan berbicara, pengembangan teknologi, peningkatan angka kelahiran, serta mempertahankan posisi moderat dalam isu-isu lainnya.
Meski demikian, media Amerika mengutip analisis para ahli yang mengatakan bahwa menggoyang dominasi dua partai tradisional di AS bukanlah perkara mudah.
Tantangan Pertama:
Sistem pemilu “pemenang mengambil semua” (winner-take-all) di Amerika tidak menguntungkan bagi kebangkitan partai ketiga.
Sebagai contoh, pada tahun 1992, miliarder Ross Perot mencalonkan diri sebagai kandidat independen dan memperoleh hampir 1/5 suara populer, namun tidak memenangkan satu pun negara bagian dan tidak meraih suara elektoral, sehingga pemilu saat itu dimenangkan oleh Bill Clinton.
Tantangan Kedua:
Setelah keluar dari lingkaran pemerintah federal dan berseteru dengan Presiden Trump, pengaruh Musk dalam Partai Republik tampaknya semakin melemah. Para ahli menekankan bahwa meski Musk memiliki kekayaan besar, sebuah partai baru memerlukan sekelompok pendukung yang sangat loyal dan rela bertahan menghadapi banyak kegagalan di tahap awal — sesuatu yang tidak bisa dibeli hanya dengan uang.
Tantangan Ketiga:
Musk dikenal sebagai pengusaha inovatif yang suka menabrak batas dan menetapkan visi besar untuk timnya. Namun, apakah karakternya itu bisa cocok dengan dunia politik yang menuntut kesabaran, kampanye panjang, dan proses birokrasi yang rumit — masih menjadi tanda tanya.
Tantangan Keempat:
Musk menyatakan bahwa partai barunya mewakili 80% pemilih moderat. Namun, kelompok “80%” ini sangat beragam dalam pandangan politiknya, sehingga belum tentu memiliki kekompakan yang dibutuhkan untuk membentuk satu partai yang solid.
Meski begitu, pembentukan partai oleh Musk tetap berpotensi mengguncang lanskap politik Amerika.
Musk mengatakan bahwa ia menargetkan pemilu sela tahun 2026.
Profesor Mac McCorkle dari Sekolah Kebijakan Publik Sanford di Universitas Duke menyatakan bahwa meskipun kandidat dari Partai Amerika mungkin tidak akan menang dalam pemilu, mereka dapat berperan sebagai “pengganggu” yang mengacaukan strategi pemilu Partai Republik, dan bisa memperoleh cukup suara di negara bagian kunci seperti North Carolina untuk mengubah hasil akhir.
Seorang taipan yang masuk dunia politik — akankah Elon Musk menjadi “Trump kedua”? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. (Hui/asr)
Laporan oleh Jin Shi – NTDTV


