Ingin Diakui? Tak Perlu Menghabiskan Hidup demi Menyenangkan Orang Lain

EtIndonesia. Dalam dunia konseling psikologis, tipe klien yang paling sering saya temui adalah mereka yang terlalu berhati-hati—bahkan ketika ingin bersikap tegas atau keras, mereka tidak berani. Mereka disebut sebagai pribadi yang “sangat berhati-hati” atau “super hati-hati.”

Masalah yang mereka keluhkan pun umumnya sama:

·        Mereka terus-menerus memikirkan bagaimana caranya menyenangkan orang lain.

·        Mereka sangat sensitif terhadap sikap dan reaksi orang di sekitar.

·        Mereka mudah terluka oleh penilaian negatif dari orang lain.

·        Meskipun sudah sangat peduli dan perhatian, mereka tidak mendapatkan balasan yang diharapkan.

·        Akhirnya, mereka merasa kecewa dan marah, bahkan membenci orang tersebut—namun anehnya, tidak bisa hidup tanpa kehadiran orang itu.

Dari konseling yang saya lakukan, saya dapat mengelompokkan kecenderungan ini ke dalam beberapa tipe psikologis:

Tipe Pertama: Terlalu Tinggi Menggantungkan Harapan dalam Hubungan Sosial

Saya pernah menangani seseorang yang suka membandingkan diri dengan orang lain. Dia menjadi kecil hati hanya karena orang lain terlihat lebih baik.

Sejak kecil, dia sering iri pada anak-anak dari keluarga kaya. Semakin dewasa, dia makin sering membandingkan dirinya dengan orang berpendidikan tinggi, pekerjaan bagus, sikap tenang, dan gaya hidup yang matang.

Ketika saya menanyakan apa arti “penerimaan diri” menurut dia, dia menjawab: “Saya ingin menjadi orang yang dicintai semua orang—tanpa perlu melakukan apa pun.”

Saya hanya bisa menjawab: “Konseling psikologis adalah proses untuk menghadapi kenyataan secara jujur. Dalam dunia nyata, hampir tidak ada orang yang disukai semua orang tanpa melakukan apa pun. Kenapa penerimaan diri harus didasarkan pada sejauh mana orang lain menyukai kita?”

Tipe Kedua: Rasa Rendah Diri yang Parah

Mereka yang sangat merasa rendah diri, akan merasa bahwa semua orang lebih baik dari dirinya.

Pertanyaannya: “Dari mana kita menilai bahwa seseorang lebih unggul dari kita?”

Biasanya, kita menilainya dari faktor eksternal—penampilan, kepandaian berbicara, status sosial.  Namun jika terlalu terpaku pada hal-hal tersebut, lama-kelamaan kita akan:

·        Mengidolakan orang lain secara berlebihan

·        Meremehkan diri sendiri

·        Dan akhirnya jadi takut melakukan apa pun

Tipe Ketiga: Pola Pikir Negatif dan Ketakutan Berlebihan

Suatu hari saya bertemu dengan teman lama yang baru pulang dari tinggal di luar negeri. Ketika kami sedang berbincang, telepon genggamnya berbunyi. Dia lalu berbicara dalam Bahasa Inggris cukup lama. Saya tetap sibuk sendiri, tak memperhatikannya.

Namun begitu teleponnya ditutup, dia berkata: “Tadi saya terus kepikiran, apakah kamu menganggap kemampuan Bahasa Inggris saya jelek karena sudah lama tinggal di luar negeri.”

Saya terkejut, karena saya sama sekali tidak memedulikan percakapannya di telepon!

Tipe orang seperti ini memiliki ekspektasi sangat tinggi terhadap diri sendiri. Maka saat dia gagal sedikit saja, dia akan:

·        Sangat kecewa

·        Merasa bersalah berlebihan

·        Merasa malu, seolah dunia menertawakannya

Jika mereka secara tidak sengaja membuat orang lain tidak nyaman, mereka akan mengkhawatirkan itu berhari-hari, takut orang itu akan membencinya.

Contoh Nyata: Terlalu Bertanggung Jawab Sampai Terluka Sendiri

Saya pernah bertanya pada seorang klien yang selalu hidup dalam ketegangan: “Ketika kamu keluar rumah, kamu khawatir keluargamu. Ketika bertemu keluarga, kamu khawatir teman-temanmu. Mengapa kamu merasa harus menjaga semua orang?”

Dia menjawab: “Kalau saya tidak menjaga mereka, saya takut mereka akan kesulitan.”

Orang seperti ini punya banyak pikiran negatif, dan cenderung hidup dengan rasa tanggung jawab berlebihan.

Mereka yakin bahwa jika tidak membantu orang lain, maka hidup orang itu akan menjadi buruk. Akhirnya, mereka terjebak dalam lingkaran penderitaan yang tak ada habisnya.

Akar Masalah yang Sama: Ingin Diakui oleh Semua Orang

Dalam proses konseling, saya menemukan bahwa:

·        Baik mereka yang terlalu hati-hati,

·        Maupun yang terkesan dingin,

·        Atau yang terlalu ego-sentris,

Akar masalah mereka hampir selalu sama:

Mereka semua ingin menjadi pribadi yang dikagumi, diakui, dan dipuji oleh orang banyak.

Namun caranya berbeda:

·        Si hati-hati ingin dianggap sebagai orang baik, dan berharap diakui lewat pengorbanan.

·        Si dingin menjaga jarak agar tidak terluka oleh penolakan.

·        Si ego-sentris terlalu membentengi diri karena takut kecewa dan disakiti.

Di antara mereka, si hati-hati adalah tipe paling polos, paling mudah terbuka, tapi juga paling rentan terluka.

Tiga Pertanyaan Penting untuk Diri Sendiri

Kepada mereka yang terlalu takut menjalani hubungan sosial, saya sering menyarankan:

Bayangkan dan jawab tiga pertanyaan ini dalam hati:

1. Orang yang paling saya pikirkan sekarang, apakah akan menemani saya di ranjang kematian?

2. Apakah dia orang yang paling ingin saya temui sebelum saya meninggal?

3. Apakah dia orang yang bisa saya andalkan saat saya benar-benar kesulitan?

Dalam kebanyakan kasus, jawabannya adalah tidak semua itu.

Kesimpulan: Perlu Kah Kita Menyiksa Diri demi Menyenangkan Orang Lain?

Jika jawabannya tidak, maka:

Apakah pantas kita mengorbankan perasaan dan menghabiskan begitu banyak energi, hanya demi menyenangkan mereka? (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine