BRICS Gagal Bersatu Lawan Amerika Serikat, Malah Korbankan Beijing

Etindonesia. Ragam berita kali ini tentang Tiongkok yang sangat bergantung pada logam tanah jarang dari Myanmar hingga BRICS yang baru-baru menggelar KTT di Brasil gagal melawan Amerika Serikat. 

Logam Tanah Jarang Myanmar

Tiongkok selama ini memonopoli pasar global dalam proses pemurnian dan pengolahan logam tanah jarang   dan karena itu menjadikannya sebagai senjata dalam perang dagang antara AS dan Tiongkok. Namun, hal yang jarang diketahui publik adalah bahwa di balik dominasi tersebut, Tiongkok justru semakin bergantung pada pasokan rare earth dari Myanmar.

Menurut laporan dari surat kabar bisnis Jerman Handelsblatt dan kantor berita Reuters, sebagian besar rare earth yang digunakan di Tiongkok sebenarnya berasal dari Myanmar dan kemudian diproses di Tiongkok. Myanmar adalah negara pemasok rare earth asing paling penting bagi Tiongkok.

Data dari Bea Cukai Tiongkok tahun 2024 menunjukkan bahwa dua pertiga dari impor rare earth Tiongkok berasal dari Myanmar. Dalam empat bulan pertama tahun ini, hampir setengah dari impor rare earth berat datang dari Myanmar yang dilanda konflik bersenjata.

Laporan menyebutkan bahwa bahan tambang tersebut terutama diekstraksi dari Negara Bagian Kachin di utara Myanmar. Proses penambangan ini tidak hanya menyebabkan masalah kesehatan serius bagi warga setempat, tetapi juga merusak ekonomi tradisional masyarakat dan memperpanjang perang saudara yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di wilayah tersebut.

Negara-Negara BRICS Gagal Bersatu Lawan AS, Malah Mengorbankan Tiongkok

KTT BRICS digelar pada 6 Juli di Rio de Janeiro, Brasil. Namun, dua pemimpin utama — Xi Jinping dari Tiongkok dan Vladimir Putin dari Rusia — sama-sama tidak hadir.

Media Barat melaporkan bahwa, demi menghindari kemarahan Presiden Trump, deklarasi KTT BRICS tahun ini mungkin akan menghindari isu-isu kontroversial, bahkan mengorbankan kepentingan Beijing.

Surat kabar Financial Times melaporkan bahwa meski BRICS sering menyombongkan diri mewakili hampir separuh populasi dunia, KTT tahunan yang digelar 6 Juli di Brasil justru menunjukkan kelemahan utama mereka — yaitu kesulitan untuk mencapai konsensus.

Sejak awal didirikan, BRICS terdiri dari 5 negara (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan), namun kini telah berkembang menjadi 11 negara anggota. Sayangnya, penambahan anggota justru menimbulkan perpecahan baru, memperbesar masalah kohesi internal yang sejak awal memang sudah rapuh. Ditambah lagi, perbedaan sistem pemerintahan antara negara demokratis dan otoriter memperlebar jurang konflik kepentingan.

Tahun ini, sekitar separuh pemimpin negara anggota BRICS tidak hadir dalam pertemuan, termasuk Xi Jinping dan Vladimir Putin.

Dengan BRICS yang semakin terpecah, mereka sulit mengeluarkan kebijakan ekonomi atau pernyataan bersama yang solid dan terkoordinasi.

Seorang akademisi Tiongkok mengatakan bahwa BRICS pada awalnya dibentuk dengan misi utama melawan dominasi AS, namun pada kenyataannya, bukan hanya gagal bersatu melawan Amerika, melainkan kini menerima pendekatan unilateralisme AS dan malah melakukan negosiasi satu lawan satu dengan Washington. Bahkan, dalam beberapa kasus, kepentingan Tiongkok justru dikorbankan. “Vietnam,” katanya, “adalah contoh nyata.” (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine