Keyakinan Menentukan Hidup: Kisah Para Mahasiswa yang Belajar Bahasa Inggris di Atas Jembatan Danau

EtIndonesia. Kesuksesan bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari latihan keras dan perjuangan yang memaksa diri keluar dari zona nyaman.

Beberapa tahun lalu, saya pernah diundang untuk memberikan ceramah di salah satu perusahaan Taiwan terkenal di Tianjin, Tiongkok. Setelah acara selesai pada malam hari, panitia mengajak saya berjalan-jalan santai di sekitar kampus Universitas Nankai Tianjin.

Malam itu suasana kampus cukup temaram. Di dalam kampus, terdapat sebuah danau dengan sebuah jembatan melintasinya. Dari kejauhan, saya melihat sekelompok mahasiswa—pria dan wanita—berkumpul di atas jembatan. Mereka tampak sedang asyik berbicara. 

Saya penasaran, dalam hati bertanya-tanya: “Malam-malam begini, di tempat gelap seperti ini, apa yang mereka lakukan ramai-ramai di atas jembatan?”

Panitia menjawab : “Mereka sedang latihan berbicara Bahasa Inggris.”

“Ha? Latihan Bahasa Inggris?” Saya benar-benar terkejut.

“Iya, para mahasiswa ini datang secara sukarela ke jembatan itu untuk latihan speaking. Mereka punya aturan: begitu naik ke atas jembatan, semua harus berbicara dalam Bahasa Inggris—tidak boleh menggunakan Bahasa Mandarin. Tujuannya untuk memaksa diri sendiri agar terbiasa menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan,” jawab penitia lebih lanjut.

Ternyata banyak dari mereka adalah mahasiswa dari luar daerah, yang tidak punya cukup uang untuk ikut kursus bahasa, jadi mereka membuat komunitas belajar sendiri.

Saya terperangah. Rasanya sulit dipercaya—tapi kenyataan itu begitu menggugah hati.

Kenangan yang Terhubung Kembali

Bertahun-tahun kemudian, saya berkesempatan menjamu Dr. Zhang Chunsheng, Wakil Rektor Universitas Oregon, Amerika Serikat—juga almamater saya. Dia datang ke Taipei untuk menghadiri konferensi internasional. Ketika kami berbincang, saya secara spontan menceritakan kembali pengalaman saya tentang mahasiswa yang belajar Bahasa Inggris di atas jembatan kampus Nankai.

Begitu mendengar cerita itu, Dr. Zhang langsung berseru dengan antusias, sambil bertepuk tangan dan tertawa: “Iya, benar! Itu kampus saya—Universitas Nankai di Tianjin!”
 

“Dulu kami juga belajar di jembatan itu. Nama danau itu Danau Mata Kuda, dan area di sekitar jembatan kami sebut English Corner. Setiap pagi dan malam, selalu ada yang datang untuk latihan bahasa!”

Dr. Zhang menceritakan bahwa dia juga pernah menjadi bagian dari kelompok itu. Berkat kerja keras dan latihan mandiri di “English Corner” itulah, dia kemudian berhasil studi ke Amerika, menjadi dosen, hingga akhirnya—dari puluhan kandidat bergelar doktor—dia terpilih sebagai Wakil Rektor Universitas Oregon. Dan hebatnya, usianya hanya dua tahun di atas saya.

Latihan Mandiri Bisa Mengubah Nasib

Saya juga pernah berkunjung ke Pyongyang, Korea Utara, dan saat itu dipandu oleh seorang pemandu wisata perempuan yang fasih berbicara dalam Bahasa Mandarin dengan pelafalan yang sangat baik.

Saya bertanya kepadanya :  “Apakah Anda pernah belajar ke Tiongkok? Bahasa Mandarin Anda bagus sekali!”

Dia menjawab : “Tidak pernah. Kami tidak bisa bepergian ke luar negeri sembarangan. Saya lulusan jurusan Bahasa Mandarin, dan semuanya saya pelajari sendiri dengan latihan keras.”

Di kesempatan lain, saya diundang untuk memberi ceramah di sebuah konferensi perusahaan asuransi di Xi’an, Tiongkok. Karena ada tamu dari Amerika, pihak panitia menghadirkan tiga penerjemah simultan perempuan. Saat saya berbicara dalam Bahasa Mandarin, mereka secara bergantian langsung menerjemahkan isi pidato saya ke dalam Bahasa Inggris untuk audiens asing.

Selesai acara, saya bertanya kepada manajer perusahaan: “Apakah mereka semua lulusan luar negeri? Penerjemahan mereka sangat hebat!”

Dia menjawab : “Tidak. Tidak satu pun dari mereka pernah keluar negeri. Mereka hanya lulusan universitas lokal, dan semuanya belajar secara mandiri, latihan keras sendiri, hingga bisa menjadi interpreter profesional.”

Kesuksesan Butuh Tekad dan Latihan

Kesuksesan tidak jatuh dari langit. Kesuksesan datang dari perjuangan.

Ada pepatah Tiongkok berkata: “Sejak dahulu kala, keberhasilan selalu milik mereka yang berani memaksa diri.”

Artinya, dengan usaha dan ketekunan, siapa pun bisa mencapai cita-cita.

Di sepanjang proses belajar, kita perlu terus bertanya kepada diri sendiri: “To be”—Aku ingin menjadi apa?

Ketika kamu tahu siapa yang ingin kamu jadi, dan benar-benar menginginkannya, maka kamu harus terus berusaha mengejar arah tersebut dengan gigih dan tak kenal lelah.

“To be” bukan sekadar pertanyaan tata bahasa. Dia adalah keyakinan, tujuan hidup, dan jalan yang ingin kita tempuh di masa depan.

Ada yang mengasah kemampuan Bahasa Inggris sejak muda, dan akhirnya menjadi profesor dan wakil rektor di Amerika. Ada pula yang menguasai Bahasa Mandarin melalui kerja keras, keluar dari kemiskinan, dan menjadi pemandu wisata berpenghasilan tinggi di Korea Utara. Ada juga yang menjadi penerjemah simultan karena kegigihannya belajar secara otodidak.

Keyakinan membentuk hidup, ketekunan mewujudkan mimpi.

Setelah melalui proses panjang, penuh perjuangan dan pengorbanan, akhirnya: “Mereka yang tertawa terakhir, tertawanya paling indah.” 

Catatan yang Menginspirasi

Saat masih muda, seorang guru pernah berkata kepada saya: “Tanyakan terus pada dirimu sendiri: ‘Apa yang sedang kamu lakukan saat ini?’”

Hidup adalah hadiah yang sangat berharga. Jangan sia-siakan satu haripun.

Dalam buku “The Last Lecture”, penulisnya Prof. Randy Pausch, yang wafat akibat kanker, menyampaikan pesan terakhir untuk dunia. 

Istrinya, Jai Pausch, dalam buku lanjutannya “The Last Lecture Never Ends” menulis: “Ya, aku telah melalui duka mendalam. Tapi aku harus tetap melangkah ke depan. Jika tidak, aku akan kehilangan momen-momen kebahagiaan yang masih mungkin terjadi dalam hidupku. Dan itulah tragedi sejati.”

“Aku sadar, aku harus melakukan sesuatu untuk diriku sendiri—dan itu harus dimulai sekarang. Bukan nanti. Aku harus meraih kebahagiaan setiap hari, bukan menunggu sampai esok.”

Benar sekali—membangun mimpi tidak bisa ditunda. Tidak ada waktu yang paling tepat. Waktunya adalah sekarang. Kita tidak bisa terus menatap ke belakang, mengingat luka dan kegagalan. Kita harus seperti Tigger si Harimau, tokoh dari Winnie the Pooh yang lincah dan optimis, terus melompat menuju hari esok yang cerah dan penuh kemungkinan.

“Apa yang sedang aku lakukan sekarang?”

“Apa lagi yang bisa aku lakukan?”

“Kenapa orang lain bisa berhasil?

Dan kenapa itu belum terjadi padaku?”

“Kalau bukan sekarang, kapan aku akan bertindak?”

Ingin jadi orang seperti apa? Ingin jadi dirimu yang bagaimana?

Berpikir saja tidak cukup. Yang penting adalah: segera lakukan.

Karena: “Sikap menentukan tinggi rendahnya kehidupan. Dan kapasitas hati menentukan seberapa luas hidupmu bisa berkembang.” (jhn/yn)

Penulis: Dai Chen-zhi

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine