Baru-baru ini, banyak wilayah di Tiongkok dilanda gelombang panas ekstrem dengan suhu melebihi 40°C. Dalam kondisi panas menyengat ini, banyak warga mengalami serangan panas, mahasiswa pingsan, bahkan seorang petugas asrama lansia meninggal dunia. Para pakar menyebut bahwa ini bukan sekadar bencana alam, melainkan bencana akibat kelalaian manusia.
EtIndonesia. Provinsi Shandong, Tiongkok belakangan ini mencatat suhu tinggi terus-menerus dan menjadi wilayah terpanas di seluruh negeri. Pada 5 Juli, warganet melaporkan bahwa di Kampus Donghai, Universitas Nanshan Yantai, asrama mahasiswa tidak memiliki pendingin udara. Seorang mahasiswa dilaporkan pingsan karena panas dan harus dibawa ke rumah sakit.
“Kita melihat para pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok korupsi hingga miliaran atau ratusan miliar yuan, dan kekayaan mereka dibawa kabur ke luar negeri—ke rumah mewah, mobil mewah, dan kasino di Barat. Rezim Xi Jinping menghamburkan uang untuk diplomasi dan bantuan militer ke negara lain, tapi membiarkan mahasiswa di dalam negeri pingsan kepanasan di asrama. Inilah kekejaman dan sifat sejati dari kediktatoran PKT,” kata penulis Tionghoa-Kanada, Sheng Xue.
Asrama Universitas Qingdao juga dilaporkan tidak memiliki AC. Pada 6 Juli pagi, seorang mahasiswa mengalami serangan panas dan harus dilarikan ke rumah sakit.
“Tiongkok menyebut dirinya negara besar yang sedang bangkit dan menghamburkan uang ke mana-mana. Banyak universitas mempercantik bangunan dan mengadakan perayaan besar, gedung-gedung pemerintahan dibangun megah. Dana sebesar itu seharusnya bisa dipakai untuk memasang AC di asrama mahasiswa. Jika listriknya kurang memadai, bisa direnovasi. Tidak seharusnya sampai ada korban jiwa,” kata juru bicara World Uyghur Congress, Ilshat Hassan.
Pada 6 Juli, seorang petugas asrama berusia 60 tahun di Universitas Qingdao meninggal dunia karena serangan panas. Para mahasiswa menemukan bahwa pria lansia itu telah delapan bulan tidak menerima gaji. Ia hidup dalam kondisi memprihatinkan—makan tiga kali sehari hanya dengan mie instan rebus, bahkan sayur pun jarang disentuh.
Sheng Xue menambahkan: “Laporan seperti ini sangat menyayat hati dan membangkitkan kemarahan. Di satu sisi, para elite PKT hidup bermewah-mewahan tanpa batas, sementara rakyat biasa harus berjuang keras di tengah panas ekstrem, bahkan sampai kehilangan nyawa.”
Pada 5 Juli, saat Festival Musik Pemuda Baru digelar di Weifang, banyak penonton pingsan karena cuaca panas dan harus dibawa dengan ambulans untuk mendapat perawatan. (Hui/asr)
Laporan oleh Li Yun dan Qiu Yue, wartawan NTDTV


