(Edisi Khusus) Lockdown Misterius Xiamen: ‘Penjara Modern’ di Bawah Bayang-bayang Konflik Tiongkok-Taiwan?

EtIndonesia. Beberapa pekan terakhir, jagat maya di Tiongkok digemparkan oleh kabar tak terduga: Kota Xiamen, salah satu kota paling vital di Provinsi Fujian, tiba-tiba saja dilockdown total. Bukan akibat pandemi, juga bukan karena bencana alam seperti banjir atau gempa—melainkan sebuah kebijakan yang diterapkan tanpa pengumuman resmi ataupun peringatan dini dari pemerintah. Dalam semalam, denyut kehidupan di kota pantai ini seolah terhenti.

Kepanikan langsung menjalar sejak 28 Juni 2025 dini hari, ketika sejumlah penerbangan Xiamen Airlines kacau balau. Seorang penumpang membagikan kisahnya: penerbangan MM8062 yang dijadwalkan berangkat pukul 21:50 memaksa penumpang menunggu hingga larut malam. Namun, alih-alih terbang, mereka justru mendapat kabar mendadak: penerbangan dibatalkan. Tak ada penjadwalan ulang, tak ada solusi.

 Video amatir yang diunggah di media sosial menunjukkan suasana Bandara Internasional Xiamen pada pukul 13.00–18.00. Terdapat 12 penerbangan yang tertunda, beberapa bahkan batal berangkat, dan penumpang bisnis yang hendak menjadwalkan ulang penerbangan sampai tiga kali pun tetap gagal.

Patung seorang tentara dan bendera Republik Taiwan terlihat di Pulau Kinmen Taiwan pada 20 Oktober 2020. (SAM YEH/AFP via Getty Images via Epochtimes)

Rumor Militer dan Bayang-Bayang Ancaman terhadap Taiwan

Bersamaan dengan kekacauan itu, media sosial diwarnai rumor menegangkan: militer Tiongkok dikabarkan telah menyiapkan skenario pengepungan terhadap Taiwan. Spekulasi ini bukan tanpa alasan—jarak Xiamen ke Pulau Kinmen (wilayah Taiwan) hanya sekitar 10 kilometer, sedangkan ke daratan utama Taiwan sekitar 150 kilometer.

Sebagaimana diketahui, tekanan Beijing terhadap Taiwan meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Namun menariknya, survei terkini di Tiongkok mengungkapkan bahwa sepertiga masyarakat menolak gagasan “perang total” demi penyatuan Taiwan, kontras dengan narasi resmi pemerintah yang menggambarkan rakyat siap berkorban demi cita-cita tersebut.

Salah satu warga Xiamen yang pernah merasakan langsung kerasnya sistem kesehatan, masa pandemi, dan betapa media kerap membungkus realitas dengan citra manis, mengaku “terbangun” setelah empat tahun tinggal di kota itu. Ia menyaksikan sendiri kehidupan rakyat jelata yang serba kekurangan, kontradiksi antara gedung pencakar langit dengan kemiskinan di “desa dalam kota”, hingga fenomena sosial yang benar-benar mengguncang keyakinan lamanya. Pada 2022, ia akhirnya memilih pergi meninggalkan Xiamen—meninggalkan impian, realita, dan tanah kelahirannya.

Pulau Kinmen, yang berada dalam penguasaan Republik Tiongkok, berjarak tidak jauh dari Tiongkok daratan, sehingga gedung-gedung tinggi di Kota Xiamen di seberang selat dapat terlihat. (Chris McGrath/Getty Images)

Ketakutan Massal dan Pembekuan Mobilitas

Puncak kepanikan muncul pada akhir Juni 2025. Tengah malam, ribuan warga Xiamen secara tiba-tiba menerima pemberitahuan resmi: seluruh layanan keluar-masuk negara dihentikan “karena peningkatan sistem”. Konter keberangkatan di bandara ditutup, bea cukai lumpuh, dan keesokan harinya, beberapa kompleks hunian elit di pusat kota langsung memberlakukan pemeriksaan ketat bagi setiap orang yang masuk atau keluar.

Tangkapan layar yang beredar memperlihatkan sistem persetujuan keluar-masuk Xiamen benar-benar “dibekukan”. Pemerintah lokal secara ketat mengawasi siapa pun yang berencana migrasi ke luar negeri, bahkan mewajibkan pelaporan data pribadi ke kepolisian. Situasi ini menimbulkan kepanikan di kalangan kelas menengah dan orang kaya. Pengurusan paspor diblokir, dana valuta asing yang disiapkan sejak lama ikut dibekukan.

Tak hanya itu, sejumlah warga dilaporkan dipanggil dan diinterogasi polisi—mulai dari pengecekan KTP, rekaman percakapan di WeChat, riwayat transfer uang, hingga aplikasi visa ke luar negeri, semuanya disisir secara rinci. Kantor-kantor konsultan migrasi mendadak menghentikan operasi, beberapa bahkan disegel aparat.

Pemandangan Laut Tiongkok Selatan antara kota Xiamen di Tiongkok, di kejauhan, dan pulau-pulau di Kabupaten Kinmen Taiwan di latar depan, yang merupakan rumah bagi sekitar 140.000 orang, pada 2 Februari 2021. (An Rong Xu/Getty Gambar-gambar)

Netizen pun melontarkan kritik pedas, “Yang paling menakutkan dari sebuah negara bukanlah kemiskinannya, tetapi ketika negara mulai takut rakyatnya pergi.” Jika modal asing kabur, pabrik-pabrik kosong, orang kaya panik, kelas menengah kolaps, dan rakyat jelata kehilangan harapan—apa lagi yang tersisa dari Xiamen?

Sensor Ketat, Ketakutan Ekspatriat, dan Diamnya Media

Siapa pun yang mencoba mencari informasi tentang “lockdown Xiamen” di Baidu, Weibo, atau Douyin, akan menemukan nihil berita. Namun, secara diam-diam pemerintah Xiamen mengumumkan bahwa layanan keluar-masuk di Balai Kota Zhenhai dihentikan sementara, dari 30 Juni hingga 30 September. Tidak ada penjelasan rinci. Warga Taiwan, Hong Kong, dan ekspatriat yang bermukim di Xiamen memilih bungkam, takut mengalami intimidasi atau tekanan dari aparat. Bahkan, perusahaan-perusahaan asing—termasuk perusahaan Amerika—memilih mengakhiri kerja sama sebelum kontrak berakhir.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi di Xiamen? Tak ada yang tahu pasti. Namun, dari sejumlah petunjuk yang muncul di permukaan, kita bisa menggambarkan krisis sosial-ekonomi yang tengah melanda kota ini.

Krisis Sosial-Ekonomi yang Menggerus Harapan

Kondisi Lapangan: Rakyat Kesulitan Makan, Bisnis Mati Suri

Sulit dipercaya, tapi fakta di lapangan memperlihatkan banyak warga Xiamen kini bahkan kesulitan untuk makan sehari-hari. Ini bukan isapan jempol—pelaku bisnis jasa keuangan di Xiamen membenarkan, selama 2020–2023 warga masih mengandalkan transaksi WeChat, Alipay, atau kartu bank. Namun, sejak akhir 2023, makin banyak yang hidup dari kartu kredit atau pinjaman daring seperti Huabei—tanda nyata bahwa banyak warga kini bertahan hidup dengan berutang.

Kehancuran Pasar Kerja

Mendapat pekerjaan kini jauh lebih sulit. Banyak posisi kerja menengah dan tinggi “menghilang”. Di kota yang dulunya riuh, sekarang toko-toko tutup, papan “disewakan” dan “dijual” bertebaran, bahkan di pusat perbelanjaan utama seperti Walmart Alorhai dan Lehai Department Store.

Perusahaan kecil berguguran, perusahaan besar memangkas gaji dan memutuskan hubungan kerja secara massal. Banyak karyawan belum menerima gaji berbulan-bulan. Tidak berlebihan jika dikatakan 90% warga Xiamen kini sulit tidur nyenyak karena cemas akan masa depan.

Cerita Pilu dari Lapangan

Salah seorang pengusaha bahan bangunan di Distrik Huli, yang baru saja melunasi cicilan tokonya setelah tiga tahun, mengaku kini omzet anjlok, penghasilan tak menentu, dan ia terpaksa begadang setiap malam karena cemas. Para pengemudi taksi daring dan kurir makanan pun terpaksa berburu order hingga dini hari.

Putus Asa hingga Tingkat Bawah

Kini, hampir tidak ada bidang usaha yang benar-benar aman di Xiamen. Pemandangan “perpisahan kerja” sudah jadi rutinitas. Para pekerja kantoran yang terkena PHK beralih menjadi sopir atau kurir makanan, namun persaingan makin ketat bahkan untuk pekerjaan kasar. Harga properti memang jatuh, namun orang kaya justru menahan diri untuk membeli. Anak muda yang ingin menikah terpaksa nekat mengambil KPR.

Supermarket Yongfei yang sudah berdiri selama 17 tahun pun akhirnya gulung tikar, tak mampu lagi bertahan di tengah krisis.

Xiamen yang Kian Sepi—Ke Mana Perginya Warga?

Fenomena yang aneh, setiap sudut kota terasa sepi. Pada pukul 04.00 pagi, masih ada orang tua yang seharusnya menikmati masa pensiun, namun justru berkeliling mencari pekerjaan. Mereka rela melakukan apa saja asal bisa makan pagi. Di pusat perbelanjaan seperti Wanda Plaza, Jing Street, hingga kawasan wisata populer seperti Zhongshan Road dan Gulangyu Island, suasana lesu dan muram.

Jumlah penerbangan dan arus penumpang keluar-masuk Xiamen terus menurun. Bahkan, ketika penulis bertanya pada pemilik restoran tentang sepinya pengunjung, mereka hanya menjawab, “Orang-orang sekarang kebanyakan tinggal di luar pulau.” Namun ketika dicari di luar pulau, jawabannya pun sama. Statistik resmi justru menunjukkan populasi Xiamen bertambah setiap tahun, namun kenyataannya, pusat-pusat ekonomi utama justru terbengkalai.

Proyek ambisius seperti “Venice Iron City” pun diragukan kualitasnya—sistem drainase buruk, dan bau tidak sedap merebak di mana-mana.

Kelas Menengah Terhimpit, Harapan Menyusut

Di bawah kekuasaan Partai Komunis Tiongkok, stagnasi ekonomi daratan China tidak hanya meluluhlantakkan kehidupan rakyat kecil, namun kini juga menghantam kelas menengah dan kalangan elite. Harga properti anjlok, pasar saham terpuruk, penghasilan dan bonus lenyap, bahkan nilai koleksi barang seni dan investasi ikut jatuh bebas. Dalam situasi tanpa harapan seperti ini, banyak warga Xiamen ingin pergi, mengejar kehidupan yang lebih baik dan bebas di negeri orang.

Penutup: Potret Buram Kota Pantai yang Dulu Bergairah

Lockdown mendadak Xiamen bukan sekadar kebijakan, melainkan refleksi dari krisis yang lebih dalam—krisis kepercayaan, krisis ekonomi, dan krisis sosial yang telah lama mengendap di bawah permukaan. Kota yang dulunya dikenal dinamis, makmur, dan terbuka, kini berubah menjadi kota yang dicekam ketakutan dan kemiskinan, di mana rakyatnya bahkan takut untuk bermimpi, apalagi bersuara.

Dari balik tirai sensor, realita getir ini pelan-pelan merangsek ke permukaan, menjadi pengingat bagi dunia bahwa di balik pertumbuhan ekonomi yang gemilang, tersimpan luka sosial yang dalam—dan luka itu kini menganga lebar di Xiamen. (***)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine