Produk Susu Mungkin Lebih Efektif Menstabilkan Gula Darah Dibandingkan Diet Nabati Sepenuhnya

 George Citroner

Sebuah uji klinis terbaru menemukan perbedaan dalam kestabilan gula darah dan metabolit tubuh, yang berpotensi menjelaskan mengapa tingkat diabetes lebih rendah di antara konsumen produk susu.

Seiring meningkatnya popularitas pola makan berbasis tumbuhan, penelitian baru menunjukkan bahwa para vegan mungkin kehilangan manfaat penting bagi kestabilan gula darah yang terkait dengan konsumsi produk susu.

Orang-orang yang menyertakan produk susu dalam pola makan mereka cenderung memiliki kadar gula darah yang lebih stabil dibandingkan mereka yang mengikuti pola makan nabati secara ketat.


Perbedaan Utama dalam Kimia Darah

Uji klinis selama dua minggu, yang diterbitkan pada 22 April di jurnal Clinical Nutrition, melibatkan 30 orang dewasa sehat yang ditugaskan untuk mengikuti pola makan vegetarian yang mencakup produk susu atau pola makan vegan ketat yang hanya terdiri dari makanan nabati.

Peserta yang mengikuti pola makan vegetarian mengalami penurunan lemak tubuh lebih besar, sementara mereka yang mengikuti pola vegan murni kehilangan lebih banyak berat badan secara keseluruhan.

Tes darah menunjukkan perbedaan mencolok antara kedua kelompok. Para peserta yang mengonsumsi produk susu memiliki kadar asetil-L-karnitin yang lebih tinggi, yaitu senyawa yang membantu sel memanfaatkan lemak sebagai sumber energi dan mengurangi kerusakan sel akibat kadar gula darah tinggi.

Para peneliti menyebutkan bahwa hal ini mungkin menjadi penjelasan mengapa kadar gula darah kelompok tersebut tetap lebih rendah dan stabil.

“Orang-orang yang mengikuti pola makan vegan memiliki lebih banyak zat bernama fenilalanin setelah makan,” kata penulis utama studi ini, Profesor Vimal Karani dari University of Reading. Ia menambahkan bahwa ketika kadar fenilalanin terlalu tinggi, “itu bisa menyulitkan tubuh untuk memproses gula dengan benar.”

Ia menjelaskan bahwa orang-orang yang menyertakan produk susu dalam pola makan mereka memiliki senyawa-senyawa bermanfaat dalam darah, yang mungkin menjelaskan kestabilan kadar gula darah mereka sepanjang hari.

Semua peserta menggunakan alat pemantau glukosa kontinu selama 14 hari untuk melacak konsentrasi glukosa, memberikan data rinci mengenai fluktuasi kadar gula darah setiap harinya dalam kedua pola makan tersebut.

Dalam subkelompok berjumlah 13 peserta, para peneliti mengambil sampel darah saat puasa dan setelah makan pada hari ke-1 dan ke-15 untuk menganalisis kadar metabolit—molekul kecil hasil proses metabolisme yang dapat memberi wawasan tentang bagaimana tubuh memproses zat gizi.

Uji coba ini dikendalikan secara ketat dengan memastikan bahwa kedua pola makan mengandung jumlah kalori, protein, dan karbohidrat yang sama. Kelompok yang mengonsumsi produk susu mendapatkan sekitar 558 gram produk susu per hari, terutama susu, serta sedikit yogurt dan keju, sementara kelompok vegan menggunakan alternatif nabati seperti susu kedelai dan tahu.


Dampak Terukur terhadap Gula Darah

Setelah mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, berat badan, dan kadar gula darah awal, para peneliti menemukan bahwa peserta yang mengikuti pola makan lakto-vegetarian (vegetarian yang mengonsumsi produk susu) mempertahankan kadar glukosa darah rata-rata yang lebih rendah dibandingkan mereka yang mengikuti diet vegan ketat.

Kedua kelompok mengalami peningkatan kadar gula darah saat memulai diet mereka, namun peningkatan ini mulai menurun pada kelompok lakto-vegetarian sejak hari ketujuh, sementara kadar gula darah pada kelompok vegan terus meningkat. Kelompok vegan mengalami lebih banyak periode kadar gula tinggi pada semua hari, kecuali hari ke-12.

Para peneliti mencatat bahwa temuan ini mungkin membantu menjelaskan penelitian epidemiologis sebelumnya yang menunjukkan tingkat diabetes tipe 2 yang lebih rendah pada orang-orang yang secara teratur mengonsumsi produk susu.

Temuan ini menunjukkan bahwa produk susu mendukung pengendalian glikemik, kemungkinan melalui senyawa bioaktif seperti asetil-L-karnitin, kata Desiree Kretchmar, ahli gizi terdaftar dari Eternal Glow Nutrition and Pilates, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Penelitian lain menunjukkan bahwa asetil-L-karnitin meningkatkan sensitivitas insulin, yang berarti sel tubuh lebih responsif terhadap insulin—hormon yang membantu mengatur kadar gula darah.


Opsi bagi Konsumen Non-Susu

Kretchmar mengatakan bahwa orang-orang yang tidak menyertakan produk susu dalam pola makan mereka—seperti para vegan atau individu yang intoleran terhadap laktosa—dapat memilih susu nabati yang diperkaya, seperti susu dari kacang polong, kedelai, atau kacang fava, yang menawarkan profil protein serupa untuk memperoleh manfaat yang sebanding.

Emily Feivor, ahli gizi terdaftar di Northwell Health, New York, yang juga tidak terlibat dalam studi tersebut, menekankan pentingnya memilih opsi berkualitas tinggi, terlepas dari preferensi.

“Lebih baik memilih produk yang rendah lemak jenuh dan natrium, tinggi vitamin D, tanpa tambahan gula, serta mengandung kultur hidup dan aktif, seperti yogurt atau kefir,” ujarnya kepada The Epoch Times. “Untuk produk nabati, prinsip yang sama berlaku,” tambahnya, seraya menyebut bahwa produk berbasis kedelai adalah pilihan yang lebih baik.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya temuan ini bagi India, yang memiliki jumlah penderita diabetes terbesar kedua di dunia.


Menyeimbangkan Pola Makan Sehat untuk Mengendalikan Gula Darah

Para ahli menekankan bahwa baik pola makan vegan maupun vegetarian dapat mendukung kesehatan jika direncanakan dengan baik, namun pendekatan tertentu mungkin lebih mendukung kestabilan kadar gula darah.

Jika Anda vegan atau vegetarian, sebaiknya hindari makanan olahan atau yang telah dimurnikan, karena dapat dengan mudah meningkatkan kadar gula darah dan menyebabkan peradangan dalam tubuh, kata Stephanie Schiff, ahli gizi dari Huntington Hospital di New York, yang juga tidak terlibat dalam studi tersebut. “Makanan seperti itu tidak akan bermanfaat bagi kesehatan Anda.”

Pola makan seimbang yang membantu menjaga kadar gula darah tetap sehat, menurut Kretchmar, harus berfokus pada pilihan makanan kaya protein dan minim proses, baik itu dari produk hewani maupun nabati.

Ia merekomendasikan memilih yogurt tanpa pemanis, susu kedelai, keju cottage atau tahu, lentil, dan tempe sebagai pilihan nabati bagi orang-orang yang menghindari atau mengurangi konsumsi susu.

“Mengombinasikan protein dengan karbohidrat tinggi serat, seperti kacang-kacangan atau gandum utuh, membantu meratakan lonjakan glukosa,” katanya. “Hindari melewatkan waktu makan, dan atur waktu makan secara konsisten dengan memperhatikan asupan serat dan protein. Hal ini lebih penting daripada asal sumber protein, apakah dari susu sapi atau kedelai.”

Kretchmar menyimpulkan bahwa baik pola makan vegan maupun vegetarian dapat mendukung kesehatan jika direncanakan dengan bijak. Namun, ia mengatakan bahwa studi ini menunjukkan bahwa menghilangkan semua produk hewani mungkin tidak selalu menjadi pilihan yang lebih baik.

“Pola makan vegetarian yang mencakup produk susu dalam jumlah moderat—terutama dalam bentuk fermentasi atau kultur—mungkin menawarkan keunggulan metabolik yang unik,” ujar Kretchmar. Namun, ia juga menekankan bahwa setiap tubuh berbeda. “Ini bukan soal ideologi; ini soal apa yang mendukung kestabilan, energi, dan kepatuhan jangka panjang.” (asr)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine