Jauhkan Diri dari Teman yang Hanya Menganggapmu Sebagai “Koneksi”

EtIndonesia. Kamu pasti pernah menemui jenis teman seperti ini: tidak pernah menghubungimu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, lalu tiba-tiba muncul dengan pesan: “Hai, ada waktu?” atau “Kamu online nggak?” Tanpa basa-basi, ujung-ujungnya akan berkata: “Bisa minta tolong nggak?” Kadang meminjam uang, kadang minta dikenalkan ke pekerjaan, kadang hanya ingin kamu kasih “like” ke foto anaknya di media sosial.

Teman semacam ini biasanya tidak memiliki hubungan dekat denganmu. Mungkin hanya pernah bertemu di acara reuni atau kumpul teman, bahkan wajahnya pun sudah kamu lupa. Tapi anehnya, saat ada topik tentangmu, dia bisa berpura-pura seolah sangat akrab dan tak ragu menghubungimu ketika butuh bantuan.

Terus terang, kadang aku benar-benar kagum dengan orang seperti ini—setiap kali merepotkan orang lain, mereka bisa bersikap begitu percaya diri, sampai-sampai kalau kita tidak membantu, malah merasa bersalah, seolah-olah kita yang bersikap jahat.

Salah satu contoh adalah Wenqing, seorang desainer visual yang mendapatkan sebagian besar penghasilannya dari proyek-proyek freelance. Dia sering membantu teman membuat ilustrasi, banner, atau desain untuk website dan media digital. Kedengarannya menyenangkan punya teman yang ahli desain, tapi bagi Wenqing, justru keahliannya menjadi beban dalam pergaulan sosial.

Banyak teman yang memanfaatkan keahlian Wenqing dan mencoba menekan harga serendah mungkin, bahkan ada yang dengan santainya minta bantu desain secara gratis. Bagi mereka, menggambar hanyalah perkara kecil yang bisa dilakukan Wenqing dalam hitungan menit.

Ini membuat Wenqing merasa sangat tertekan. Di satu sisi, dia tidak ingin mengecewakan teman; melihat wajah penuh harap dari mereka, dia sulit untuk menolak. Tapi di sisi lain, dia juga merasa terpaksa dan tidak nyaman. 

“Kadang saya merasa mereka berteman dengan saya hanya karena saya bisa desain. Sampai-sampai ketika melihat foto profil mereka muncul di pojok layar, saya langsung cemas dan gelisah,” katanya.

Situasi seperti ini sangat umum terjadi. Begitu kamu memiliki keahlian atau sumber daya tertentu, orang-orang yang dulu sudah lama hilang dari pergaulan akan tiba-tiba kembali ke hidupmu. Namun, teman sejati—yang benar-benar hadir di saat kamu dalam kesulitan—justru semakin langka. Dan ini bisa membuat kita merasa hampa.

Setiap kali perasaan ini muncul, Tuan TwoTwo merasa seperti kehabisan napas. Dia bekerja sebagai humas di sebuah perusahaan internet di Beijing dan memiliki banyak koneksi di dunia media dan internet. Saat merancang kampanye pemasaran besar-besaran, dia baru sadar bahwa banyak “teman dekat” yang dia kira bisa diandalkan, ternyata hanya fatamorgana. Meski memiliki lebih dari 800 kontak, yang benar-benar hadir dan membantu bisa dihitung dengan jari.

Dia berkata: “Kalau dipikir-pikir, banyak orang yang saya kenal selama bekerja memang hanya sebatas kenal. Tapi saya tak menyangka hasilnya akan seburuk ini.”

Sebuah penelitian di Amerika tentang hubungan sosial masa kini menyimpulkan: semakin seseorang menjalin pertemanan dengan niat untuk “membangun jaringan”, maka semakin kecil kemungkinan hubungan itu bisa diandalkan. Karena saat kamu tidak lagi berada dalam posisi atau platform yang menguntungkan, dan sekali saja kamu menolak permintaan mereka, hubungan yang rapuh itu akan langsung runtuh.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa munculnya internet dan media sosial memang menurunkan batas untuk saling mengenal, tetapi juga memperlebar jarak antarhati. Kini, orang lebih suka mencurahkan waktu dan tenaga untuk hubungan yang “menguntungkan”, dan rajin hadir di pertemuan yang berpeluang memperluas jaringan.

Di dunia kerja, ini bahkan lebih nyata karena rotasi rekan kerja yang cepat dan lingkungan yang terus berubah.

BaBa, seorang pegawai negeri sipil di salah satu instansi pusat, kerap bepergian antara Beijing dan luar negeri. Jadi PNS di instansi pusat di ibukota terdengar keren, tapi bagi BaBa, itu justru jadi beban. Kerabat dari kampung terus berdatangan untuk minta tolong urusan pribadi, belum lagi teman lama yang mampir ke Beijing dan berharap dijamu. Setiap kali dia pulang dari luar negeri, dia merasa kelelahan secara mental.

“Banyak orang datang, selesai urusan lalu makan gratis, habis itu langsung pergi tanpa basa-basi. Kadang saya ingin menolak dengan tegas, tapi rasanya sulit sekali mengucapkannya.”

Orang yang egois, oportunis, dan penuh keakuan seperti ini sangat banyak dalam hidup kita. Mereka jarang mempertimbangkan posisi orang lain—asal bisa mencapai tujuannya, mereka bisa seenaknya meminta pertolongan tanpa rasa sungkan.

Seiring waktu, membangun pertemanan semakin sulit. Lingkaran sosial kita biasanya sudah terbentuk sejak lama. Siapa yang bisa kamu ajak curhat tanpa batas, siapa yang bisa diajak minum santai tanpa topeng—sebenarnya sudah terlihat sejak awal masa dewasa.

Sebenarnya dalam hidup, kita tak butuh terlalu banyak teman. Yang kita butuhkan adalah satu atau dua orang yang benar-benar hadir saat kita paling membutuhkan. Teman seperti ini mungkin tidak menonjol, tidak punya banyak skill, mungkin tidak paham kopi, atau bahkan agak canggung dan kaku, tapi mereka punya kualitas yang bersinar—dan untuk itulah hati kita layak berinvestasi.

Sedangkan teman yang hanya menjadikanmu sebagai “koneksi”? Semakin jauh dari mereka, semakin baik!(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine