EtIndonesia. Kesepian diketahui membawa dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental, misalnya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Kini, sebuah studi baru di Amerika Serikat menemukan bahwa kesepian juga berpengaruh buruk terhadap kualitas tidur seseorang—termasuk memperbesar kemungkinan mengalami mimpi buruk. Karena itu, mencari cara untuk mengurangi rasa kesepian sangat penting demi menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Universitas Negeri Oregon (Oregon State University) dalam siaran persnya pada 6 Agustus menyampaikan bahwa penelitian yang dilakukan bersama beberapa universitas lainnya menemukan keterkaitan yang signifikan antara rasa kesepian dan frekuensi mimpi buruk.
Dekan Fakultas Komunikasi universitas tersebut, Colin Hesse, menjelaskan bahwa temuan ini sangat penting karena baik kesepian maupun gangguan tidur merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Keduanya berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, stroke, hingga kematian dini.
Hesse menambahkan bahwa stres menjadi salah satu faktor penghubung antara kesepian dan frekuensi serta intensitas mimpi buruk. Selain stres, faktor lain yang turut memengaruhi adalah kebiasaan overthinking (terlalu banyak mencemaskan sesuatu) serta kondisi psikologis yang disebut “hyperarousal” atau tingkat kewaspadaan berlebihan. Kedua kondisi ini merupakan respons psikologis yang kerap terjadi pada orang yang merasa kesepian.
Dalam studi ini, para peneliti menyurvei lebih dari 1.600 orang Amerika berusia antara 18 hingga 81 tahun. Para peserta diminta menjawab berbagai pertanyaan untuk mengukur tingkat kesepian mereka, seperti “Seberapa sering Anda merasa kekurangan teman bicara?” atau “Seberapa sering Anda merasa diabaikan?”
Setelah itu, tim peneliti menggunakan skala khusus untuk mengevaluasi frekuensi mimpi buruk yang dilaporkan oleh para peserta. Analisis statistik menunjukkan adanya “korelasi yang signifikan” antara frekuensi mimpi buruk dengan tingkat kesepian dan stres yang dirasakan oleh individu.
“Hubungan antar manusia merupakan kebutuhan inti manusia. Ketika kebutuhan akan relasi yang kuat tidak terpenuhi, seseorang akan merasakan penderitaan secara fisik, mental, maupun sosial,” jelas Hesse.
Ia mencontohkan, sebagaimana rasa lapar atau lelah memberi sinyal bahwa tubuh kekurangan energi atau istirahat, demikian pula kesepian menjadi alarm bahwa kebutuhan akan hubungan sosial tidak terpenuhi.
Para peneliti menekankan bahwa kesepian adalah fenomena yang umum dan bisa sangat merusak kesehatan, termasuk menyebabkan gangguan tidur. Salah satu bentuk gangguan tidur akibat kesepian adalah sering mengalami mimpi buruk.
Meski belum dapat memberikan solusi konkret dalam waktu dekat, Hesse menyebut bahwa hasil penelitian ini memperkuat dugaan bahwa “mengurangi rasa kesepian bisa membantu mengurangi pengalaman buruk saat tidur”.
Selain mimpi buruk, data lain menunjukkan bahwa kesepian juga berkaitan dengan meningkatnya risiko terkena penyakit jantung dan kematian dini.
Sebuah laporan dari Kantor Surgeon General (Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat AS) menyebutkan bahwa bahkan sebelum pandemi COVID-19 mewabah, sekitar setengah dari populasi orang dewasa di Amerika sudah menyatakan mengalami kesepian yang signifikan. Risiko kematian dini akibat kesepian bahkan setara dengan risiko akibat merokok.
Statistik dari lembaga tersebut mengungkap bahwa kesepian dapat meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar 29%, risiko stroke sebesar 32%, risiko demensia pada lansia sebesar 50%, dan kemungkinan kematian dini lebih dari 60%.
Lebih jauh lagi, orang yang sering merasa kesepian memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lipat untuk mengalami depresi, dibandingkan dengan mereka yang jarang atau tidak pernah merasa kesepian.
Menurut laporan theThe Epoch Times, jika Anda seorang lansia yang merasa kesepian, memelihara hewan peliharaan bisa menjadi solusi yang efektif. Selain mengurangi kesepian, merawat hewan peliharaan juga terbukti baik bagi fungsi otak, serta dapat membantu mencegah penurunan kognitif.
Ketika lansia memelihara hewan dan perlahan membangun ikatan emosional dengan mereka, rasa kesepian akan mulai berkurang. Kehadiran hewan peliharaan memberikan pengaruh positif terhadap semua aspek kehidupan lansia—membuat mereka merasa lebih muda, lebih bahagia, dan lebih sehat secara menyeluruh.(jhn/yn)


