EtIndonesia. Kevin Durant dinobatkan sebagai Pemain Terbaik (FMVP) Final NBA, setelah membantu Golden State Warriors menyapu bersih Cleveland Cavaliers 4–0 dan meraih gelar juara untuk ketiga kalinya dalam empat tahun terakhir.
Dalam gim keempat, Durant mencatat triple-double dengan 20 poin, 12 rebound, dan 10 assist—menjadi puncak performa luar biasa di seluruh seri final. Dia pun memenangkan FMVP dua tahun berturut-turut.
Stephen Curry juga tampil gemilang dengan 37 poin dan 7 tembakan tiga angka. Warriors menang telak 108–85 dan mengangkat trofi juara NBA untuk keenam kalinya dalam sejarah tim.
Namun di balik sorotan panggung besar ini, terselip kisah persahabatan luar biasa antara Kevin Durant dan Jeff Green, pemain Cavaliers yang malam itu berada di tim lawan.
Dari Teman Kecil, Jadi Rekan Satu Tim
Jeff Green dan Kevin Durant sudah bersahabat sejak kecil. Mereka kembali bertemu di NBA Draft 2007—Durant dipilih sebagai urutan kedua oleh Seattle SuperSonics (yang kemudian menjadi Oklahoma City Thunder), dan Jeff Green menyusul sebagai urutan kelima.
Tak lama kemudian, Celtics menukar Green ke Sonics. Sejak saat itu, Durant dan Green menjadi rekan satu tim dan sahabat sejati. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama—dalam latihan, pertandingan, bahkan kegiatan sosial dan amal.
Pada musim 2007–08, hanya dua pemain Thunder yang tampil di 70+ pertandingan: Durant dan Green. Mereka saling mendukung, menjadi “mentor emosional” satu sama lain.
Persahabatan Diuji di Masa Sulit
Tahun 2011, Thunder menukar Jeff Green ke tim lain. Durant sangat terpukul.
Tak lama setelah itu, Jeff Green didiagnosis mengalami tumor jantung yang mengancam nyawanya. Ia menjalani operasi besar di Klinik Cleveland dengan risiko tinggi.
Durant sangat terpukul dan terus memberi dukungan penuh selama masa pemulihan Green.
Green akhirnya bisa kembali ke NBA pada 2012, setelah melalui operasi jantung dan rehabilitasi panjang—dengan bantuan pelatih Tyronn Lue (yang kini melatih Cavaliers).
Meski berada di tim yang saling bersaing, Durant dan Green tetap bersahabat erat hingga hari ini.
Mereka masih menyempatkan makan malam bersama saat final NBA, mengobrol, tertawa, mengingat masa lalu—seolah tidak ada batas antara “kawan dan lawan”.
Saudara Tanpa Darah, Persaudaraan Seumur Hidup
Di balik duel keras di lapangan, mereka berbagi ikatan hati yang dalam dan langka.
Kevin Durant dan Jeff Green bukan sekadar rekan. Mereka adalah saudara dalam segala hal kecuali darah.
Final NBA kali ini bukan hanya soal kemenangan Warriors atau gelar FMVP Durant, tapi juga tentang persahabatan yang tak lekang oleh waktu dan kompetisi.
Karena di dunia yang penuh ambisi dan rivalitas, persahabatan sejati seperti ini adalah keajaiban.(jhn/yn)


