Vitamin C dapat membantu meremajakan kulit yang menua dengan mengaktifkan gen-gen dorman yang terlibat dalam proses pembaruan sel, demikian hasil penelitian menunjukkan
George Citroner
Vitamin C tidak hanya melindungi kulit—tetapi juga dapat membalikkan penuaan pada tingkat genetik dengan menghidupkan kembali gen-gen yang mendukung keremajaan, yang telah lama dibungkam seiring waktu.
Sebuah studi pada April menunjukkan bahwa vitamin C memiliki fungsi jauh melampaui perannya yang sudah dikenal luas sebagai penambah kekebalan dan antioksidan. Sebaliknya, ia bertindak sebagai “saklar genetik” yang mampu membalikkan proses penuaan mendasar pada sel kulit.
“Temuan ini membuka peluang untuk mengembangkan produk perawatan kulit atau pendekatan terapeutik baru yang ditujukan untuk mengurangi penurunan kualitas kulit terkait usia,” kata Akihito Ishigami, penulis utama studi dan wakil presiden Divisi Biologi dan Ilmu Kedokteran di Tokyo Metropolitan Institute for Geriatrics and Gerontology, kepada The Epoch Times.
Penemuan pada DNA
Para peneliti menemukan bahwa vitamin C membantu pertumbuhan sel kulit dengan mengaktifkan gen-gen yang terlibat dalam proses pembaruan kulit. Seiring bertambahnya usia, sebagian gen dapat ditekan melalui proses yang disebut metilasi DNA.
Saat DNA mengalami metilasi, gen pada dasarnya dibisukan. Vitamin C berperan dalam proses yang dapat membalikkan penekanan ini, memungkinkan gen-gen pembaruan kulit menjadi aktif kembali.
“Vitamin C bukan hanya antioksidan biasa, tetapi memainkan peran penting dalam mengatur gen-gen yang terlibat dalam regenerasi kulit,” ujar Ishigami. “Penelitian kami menyoroti pentingnya vitamin C sebagai faktor fungsional bagi kesehatan kulit.”
Para ilmuwan mengidentifikasi lebih dari 10.000 area dalam DNA yang menjadi kurang termetilasi setelah pemberian vitamin C, yang mengakibatkan peningkatan aktivitas hingga 75 kali lipat pada 12 gen kunci yang terlibat dalam pertumbuhan sel.
Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Investigative Dermatology ini, para peneliti menggunakan model kulit buatan laboratorium yang dirancang menyerupai kulit manusia secara akurat.
Mereka mengaplikasikan vitamin C pada kadar yang serupa dengan yang secara alami ditemukan dalam darah. Setelah hanya tujuh hari, lapisan dalam sel kulit menjadi lebih tebal secara nyata. Pada minggu kedua, hasilnya bahkan lebih terlihat—lapisan dalam semakin tebal dan lapisan luar menjadi lebih tipis, menandakan lebih banyak sel kulit yang membelah dan tumbuh. Ini dikonfirmasi oleh meningkatnya jumlah sel yang menunjukkan penanda Ki-67, yang menunjukkan pembelahan sel aktif.
“Vitamin C tampaknya memengaruhi struktur dan fungsi epidermis, terutama dengan mengatur pertumbuhan sel-sel epidermal,” kata Ishigami.
Vitamin C membantu menebalkan kulit dengan mendorong proliferasi keratinosit, yaitu sel utama di lapisan terluar kulit, menjadikannya sebagai pengobatan yang menjanjikan untuk kulit menipis, terutama pada orang lanjut usia, tambahnya.
Cara Kerja Vitamin C
Vitamin C mendukung peremajaan kulit dengan memasok elektron yang dibutuhkan oleh enzim-enzim untuk mengaktifkan gen pembaruan kulit. Enzim-enzim ini tidak dapat bekerja tanpa elektron tambahan, dan vitamin C menyediakannya.
Ketika para peneliti memblokir protein-protein tersebut, efek anti-penuaan dari vitamin C pun menghilang.
Dengan mendorong pertumbuhan kulit, vitamin C dapat membantu memperkuat penghalang pelindung kulit dan meningkatkan kesehatan kulit secara keseluruhan.
Namun, karena penelitian ini dilakukan pada model kulit laboratorium, uji klinis pada manusia tetap diperlukan untuk memastikan apakah efek ini benar-benar dapat diterapkan di dunia nyata.
Memaksimalkan Manfaat Vitamin C bagi Kulit
Faktor gaya hidup memengaruhi seberapa efektif vitamin C mendukung kesehatan kulit, kata Dr. Arjun Dupati, seorang dokter kulit bersertifikat dan pendiri Apollo Dermatology, yang tidak terlibat dalam studi ini. Faktor-faktor tersebut antara lain:
- Merokok: Mengurangi kadar vitamin C dalam kulit dan darah serta mempercepat kerusakan kolagen.
- Paparan sinar matahari berlebihan: Menguras cadangan vitamin C dalam kulit, mempercepat penuaan, dan melemahkan penghalang kulit. Penggunaan tabir surya dan pakaian pelindung sinar matahari sangat penting.
- Konsumsi alkohol berlebihan: Mengganggu penyerapan vitamin C serta mengurangi elastisitas dan hidrasi kulit.
- Pola makan tinggi gula dan makanan olahan: Merusak kolagen dan kekurangan nutrisi esensial.
- Kurang tidur dan stres: Meningkatkan peradangan dan menghambat perbaikan kolagen, yang sebagian bergantung pada vitamin C.
Makanan Kaya Vitamin C
Studi ini tidak menyelidiki apakah vitamin C dari makanan dapat meningkatkan kelembutan kulit. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa kekurangan vitamin C dapat menyebabkan kulit kering dan bersisik.
Ana Reisdorf, seorang ahli gizi terdaftar dan pendiri situs diet dan kesehatan GLP-1 Hub, yang juga tidak terlibat dalam studi ini, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sumber vitamin C terbaik berasal dari buah dan sayuran.
“Ini termasuk paprika merah dan kuning, kiwi, stroberi, jeruk, brokoli, kubis Brussel, dan pepaya,” ujarnya.
Makanan-makanan tersebut kaya akan vitamin C dan juga mengandung fitonutrien lain yang mendukung aktivitas antioksidan dan kolagen, sehingga membantu menjaga kesehatan kulit, tambahnya.
Dr. Dupati menambahkan bahwa kelompok tertentu kemungkinan akan mendapat manfaat lebih besar dari peningkatan asupan vitamin C, antara lain:
- Orang lanjut usia
- Perokok aktif dan mantan perokok
- Mereka yang mengonsumsi obat-obatan yang mengurangi penyerapan atau meningkatkan pemecahan vitamin C—seperti obat steroid dan beberapa agen kemoterapi
- Ibu hamil dan menyusui
Ia juga menyebutkan bahwa atlet, orang dengan tingkat aktivitas tinggi, penderita penyakit kronis (terutama gangguan pencernaan), dan mereka yang menjalani pola makan buruk juga dapat memperoleh manfaat dari peningkatan asupan vitamin C. (asr)


