Serangan Kilat Hancurkan Fasilitas Nuklir Iran, Terungkap Operasi Rahasia Militer AS

Pada bulan lalu, militer AS melancarkan operasi militer kilat bernama Midnight Hammer atau Palu Tengah Malam secara tiba-tiba dan tepat sasaran terhadap tiga fasilitas nuklir Iran, yang berhasil memecah kebuntuan masalah nuklir Iran yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Surat kabar The Epoch Times versi bahasa Inggris baru-baru ini menerbitkan artikel yang menganalisis latar belakang dan detail dari operasi militer rahasia ini.

EtIndonesia. Pada 13 Juni, Israel meluncurkan serangan mendadak terhadap Iran, menargetkan fasilitas militer dan nuklir, para pemimpin tinggi militer, serta peneliti utama program nuklir Iran. Namun, senjata milik Israel tidak mampu menembus fasilitas bawah tanah di Fordow.

Kemudian, tepat lewat tengah malam pada 21 Juni, tujuh pesawat pembom siluman B-2 “Spirit” lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri dan terbang ke arah timur menuju Iran. 

Dalam perjalanan, puluhan pesawat tanker udara dikerahkan untuk mengisi bahan bakar di udara. Setibanya di wilayah operasi Komando Pusat AS di Timur Tengah, pesawat tempur juga turut bergabung sebagai pengawal.

Enam dari pembom tersebut menjatuhkan 12 bom penghancur bunker raksasa GBU-57 ke fasilitas Fordow, sementara pesawat ketujuh menjatuhkan dua bom sejenis ke fasilitas Natanz. Pada saat yang sama, kapal perang AS meluncurkan lebih dari 20 rudal jelajah Tomahawk ke arah Isfahan. 

Operasi militer yang sangat terkoordinasi ini juga menggunakan strategi “pengelabuan”: satu skuadron pesawat secara terpisah lepas landas dari Whiteman dan terbang ke arah barat menuju Samudra Pasifik, sebagai pengalih perhatian musuh.

Setelah Operasi “Palu Tengah Malam”, Presiden Trump menulis di platform sosial medianya, Truth Social:  “Dua bulan lalu, saya memberikan ultimatum 60 hari kepada Iran untuk ‘mencapai kesepakatan’. Seharusnya mereka melakukannya! Hari ini adalah hari ke-61.”

Ia juga menegaskan bahwa jika Iran kembali melanjutkan aktivitas nuklirnya, ia akan kembali memerintahkan pemboman terhadap fasilitas nuklir Iran.

Selama bertahun-tahun, meskipun Iran secara resmi membantah memiliki program senjata nuklir, namun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan pemerintah Israel sama-sama memastikan bahwa Iran secara diam-diam terus mengembangkan senjata nuklir. Pada April tahun ini, Trump telah memperingatkan Iran agar menyetujui perjanjian dalam waktu 60 hari, jika tidak ingin menghadapi aksi militer.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, dalam konferensi pers pada 26 Juni menyatakan bahwa operasi ini merupakan hasil dari perencanaan dan persiapan matang selama 15 tahun oleh militer AS, dan memberikan pukulan besar terhadap program nuklir Iran.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengakui bahwa fasilitas Fordow, Natanz, dan Isfahan mengalami kerusakan “sangat berat dan parah”. Para analis memperkirakan bahwa Iran tidak akan mampu mengembangkan senjata nuklir dalam beberapa dekade ke depan. (Hui/asr)

Laporan oleh Zhang Qin, NTDTV

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine