EtIndonesia. Saya sangat menyukai salah satu lagu dari grup folk-rock Amerika, The Avett Brothers, yang berjudul “Head Full of Doubt / Road Full of Promise” atau dalam terjemahan bebasnya, “Pikiran Penuh Keraguan / Jalan Penuh Harapan”.
Salah satu liriknya yang paling membekas bagi saya berbunyi: “Decide what to be and go be it.” (Tentukan apa yang ingin kamu jadi, dan jalani itu sepenuh hati).
Selama bertahun-tahun, kalimat itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran saya, dan perlahan menjadi semacam motto hidup.
Lirik itu menyentuh hati saya karena saat pertama kali saya mendengarnya, saya sedang berada dalam kondisi rapuh dan tidak berdaya. Rasanya seperti hidup mempermainkan saya, dan saya tidak tahu bagaimana harus menghadapi semua itu.
Namun, semua itu hanyalah ilusi. Kita semua memiliki kekuatan untuk memilih. Mungkin kita bukan penguasa, bukan dalang di balik layar, atau taipan besar, tetapi kita masih punya kuasa atas siapa kita ingin jadi.
Kita memang tidak bisa mengendalikan dunia atau perilaku orang lain. Tapi kita bisa mengendalikan diri kita sendiri—dan bagi saya, itu sudah lebih dari cukup.
Lirik The Avett Brothers itu mendorong saya untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Siapa sebenarnya saya ingin menjadi?”
“Rintangan apa yang menghadang saya selama ini?”
Berikut ini saya bagikan 7 cita-cita hidup saya, dengan harapan bisa menjadi inspirasi bagi kamu yang sedang mencari arah hidup.
7 Cita-cita Hidup Saya
1. Menjadi Pribadi yang Beriman dan Bijaksana
Orang yang beriman hidup dengan nilai-nilai yang lebih tinggi dari sekadar kepentingan pribadi. Mereka memegang prinsip bukan demi keuntungan diri, tapi demi kebenaran. Saya ingin menjadi orang seperti itu. Saya ingin hidup saya—dan keyakinan saya—bisa menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.
2. Menjadi Suami yang Penuh Perhatian
Saat hari terakhir hidup saya tiba, saya tahu satu hal yang pasti akan sangat saya pedulikan: Apakah istri saya bahagia? Dia adalah orang paling penting dalam hidup saya. Saya ingin saat dia menatap mata saya, dia bisa berkata,
“Cinta yang kamu berikan tidak pernah mengecewakan.”
3. Menjadi Ayah yang Lembut dan Selalu Ada
Sebelum punya anak, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya mampu mencintai seseorang sedalam dan sebesar itu. Ini mungkin terdengar klise, tapi itu adalah kenyataan saya.
Keinginan terbesar saya adalah membuat anak-anak saya merasa dicintai sepenuh hati oleh ayahnya.
4. Menjadi Seseorang yang Selalu Penuh Rasa Ingin Tahu
Saya percaya bahwa salah satu bentuk rasa syukur atas kehidupan adalah menjelajahi misteri kehidupan itu sendiri dengan penuh kekaguman. Dunia ini begitu luas—bahkan jika saya hidup seratus kali pun, saya tak akan habis mempelajarinya.
Justru itulah yang membuat saya begitu antusias. Hidup ini seperti kisah luar biasa yang tak akan pernah selesai dibaca.
5. Menjadi Seorang Petualang
Hidup yang terlalu aman dan penuh rutinitas bukan gaya saya. Saya suka tantangan. Saya suka mengeksplorasi jalan-jalan yang tidak biasa.
Saya suka ketika hidup membuat jantung saya berdegup cepat. Dan saya ingin terus hidup seperti itu—hidup yang tak biasa, penuh warna.
6. Menjadi Teman yang Setia dan Dermawan
Saya bersyukur karena hidup saya sudah berkecukupan. Maka dari itu, saya ingin bisa berbagi kepada siapa pun yang saya temui—terutama kepada sahabat-sahabat saya.
Saya ingin memberi bukan hanya dalam bentuk materi, tapi juga dalam bentuk kesetiaan.
Saya ingin menjadi sahabat yang bisa diandalkan—dalam suka maupun duka.
7. Menjadi Sahabat bagi Mereka yang Terpinggirkan
Konsep “kebaikan hati” selalu menggugah saya. Saya ingin memahami apa arti kebaikan sejati, lalu menerapkannya dalam hidup saya.
Bagi saya, hal terindah dalam hidup adalah menemani mereka yang kesepian dan bersuara bagi mereka yang tak mampu bersuara.
Saya tidak ingin berteman karena mengharapkan timbal balik.
Saya ingin menjadi sahabat bagi mereka yang tidak bisa membalas apa pun.
Karena itulah, menurut saya, itulah bentuk persahabatan yang paling murni.
Saya sadar bahwa apa yang saya tulis ini mungkin terdengar seperti saya sedang memuji diri sendiri, tapi percayalah—bukan itu niat saya.
Saya hanya ingin berbagi tentang cita-cita hidup saya, dengan harapan bahwa mungkin satu atau dua di antaranya bisa menyentuh hati kamu, dan membuat kamu juga ingin menetapkan arah hidupmu sendiri, lalu menjalani itu dengan sepenuh hati.(jhn/yn)
Penulis: Mike Donghia


