AS, Jepang, dan Australia Tandatangani Perjanjian Logistik, Latihan Militer Indo-Pasifik Ditujukan untuk PKT dan Korea Utara

Angkatan Laut Amerika Serikat pada  Jumat (11/7/2025) menandatangani perjanjian dengan Jepang dan Australia untuk memperkuat kerjasama logistik trilateral dalam situasi perang. Perjanjian ini mencakup kerja sama dalam pengisian ulang sistem rudal, pengisian bahan bakar fleksibel, dan lainnya. 

Selain itu, Angkatan Udara AS juga menggelar latihan militer berskala besar pekan ini di berbagai lokasi di kawasan Indo-Pasifik bersama Jepang dan Korea Selatan. 

Dalam latihan ini, kemunculan pembom strategis B-52 AS menjadi sorotan. Para pakar menganalisis bahwa kehadiran B-52 sebagai unjuk kekuatan adalah sinyal peringatan yang jelas kepada rezim partai komunis Tiongkok (PKT) dan Korea Utara.

EtIndonesia. Para pejabat tinggi Angkatan Laut dari Amerika Serikat, Jepang, dan Australia menandatangani perjanjian logistik trilateral di Brisbane, Australia, pada  Jumat (11/7/2025). Isi perjanjian mencakup pengisian ulang rudal dan pengisian bahan bakar di laut, dengan tujuan membangun kemampuan tempur berkelanjutan selama konflik militer.

“Kalau bicara tentang Australia, ia adalah sekutu penting AS yang paling jauh dari Asia Timur, namun memiliki garis pantai yang sangat panjang. Artinya, Australia memiliki banyak peluang untuk mendukung AS dan sekutunya,” kata Mark, seorang blogger militer terkenal. 

“Di Jepang sendiri, ada sekitar 50.000 personel militer AS dan banyak pangkalan militer, yang sangat penting untuk mempertahankan keberadaan jangka panjang Angkatan Laut AS di Asia Timur,” tambahnya. 

Dari kerja sama logistik menuju integrasi strategis, AS dan sekutunya sedang membangun jaringan operasi Indo-Pasifik yang mampu mempertahankan, melanjutkan, dan menyerang, untuk secara aktif menghadapi ancaman militer gabungan dari ekspansi militer PKT, serta aliansi Rusia-Korea Utara.

Mark menambahkan:  “Asia Timur adalah pusat manufaktur dunia. Sekitar sepertiga dari total perdagangan dunia melewati wilayah ini setiap tahunnya. Jika terjadi konflik militer di Asia Timur, dampaknya terhadap perdagangan dan ekonomi global akan sangat besar. Karena itu, AS harus mencegah sejak dini dan tentu saja akan memusatkan perhatian di wilayah ini.”

Pada Jumat (11 Juli), Kementerian Pertahanan Korea Selatan juga merilis informasi tentang latihan udara gabungan yang dilakukan bersama Jepang dan AS di perairan internasional. Selain melibatkan jet tempur dari ketiga negara, keterlibatan pembom strategis B-52H milik AS juga menjadi bahan perbincangan luas. Analisis menunjukkan bahwa AS ingin mengirimkan pesan yang jelas sebagai bentuk pencegahan terhadap PKT dan Korea Utara.


“Pertama, B-52 memiliki kapasitas muatan senjata yang sangat besar, lebih dari 30 ton—ini merupakan yang terbesar di antara semua jenis pembom. Kedua, pesawat ini memang dirancang agar bisa terlihat oleh musuh, sebagai unjuk kekuatan. Artinya, kehadiran B-52 adalah sinyal: ‘Saya tidak senang denganmu, saya memiliki superioritas udara,’ dan sebagainya. Ini jelas merupakan tindakan pencegahan,’ demikian Mark menjelaskan. 

Ia juga mengungkapkan bahwa kawasan Indo-Pasifik saat ini menghadapi peningkatan ancaman dari aliansi militer Korea Utara dan Rusia, serta memanasnya ketegangan antara Tiongkok dengan Korea Selatan dan negara-negara di sekitar Laut Tiongkok Selatan.

Mark menambahkan:  “Baru-baru ini Korea Utara telah membangun kapal perusak seberat 5.000 ton, dan mereka sudah membuat dua unit. Semua perlengkapannya adalah buatan Rusia, termasuk berbagai jenis rudal. Jadi jelas ada dukungan kuat dari Rusia.” 

“Selain itu, PKT juga terus mengalami peningkatan friksi dengan Korea Selatan mengenai masalah Laut Tiongkok Selatan. Di Laut Kuning pun, konflik mengenai batas wilayah laut antara Tiongkok dan Korea Selatan terus meningkat. Baik PKT maupun Korea Utara kini menjadi ancaman yang semakin besar terhadap negara-negara sekitar, terutama Korea Selatan.”

Namun, para ahli menilai bahwa kemungkinan PKT memicu perang di Selat Taiwan saat ini masih tergolong rendah. Jika PKT menyerang Taiwan, mereka kemungkinan akan menghadapi reaksi internasional yang sangat kuat serta konsekuensi politik yang serius. 

Sebaliknya, mereka mungkin akan memilih wilayah seperti Laut Tiongkok  Selatan, yang dianggap bukan kepentingan inti, sebagai ajang unjuk kekuatan untuk kepentingan propaganda dalam negeri.

 “Terutama di saat kondisi ekonomi dalam negeri sedang buruk seperti sekarang. Kalau mereka sampai harus berhadapan dengan seluruh dunia dan benar-benar menjadi negara musuh bersama, apakah mereka bisa menanggung biayanya? Ini jelas sedang mereka perhitungkan. Misalnya, Kinmen itu jaraknya dari Xiamen cuma beberapa kilometer, secara teknis sangat mudah direbut, kan? Tapi dalam 70 tahun lebih, kenapa tidak pernah dilakukan? Karena harga politiknya terlalu mahal,” Mark menjelaskan.  (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan Wang Ziyi dari NTDTV, melaporkan dari Amerika Serikat

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine