EtIndonesia. Hari ini, saat sedang menunggu bus di stasiun, saya menyaksikan sebuah adegan perpisahan. Saya menoleh, memandang ke kejauhan untuk melihat apakah bus yang saya tunggu sudah datang. Busnya belum kelihatan, tetapi sebuah bus bandara baru saja berhenti. Di samping saya berdiri sepasang kekasih—jelas terlihat bahwa sang pria akan segera menuju bandara. Dari sudut mata, saya memperhatikan bahwa sebelum berbalik pergi, pria itu memeluk erat gadis yang bersamanya.
Itu sebenarnya bukan pemandangan yang luar biasa. Saya pun menunduk lagi, melanjutkan membaca berita di ponsel.
Beberapa saat kemudian, saat saya kembali menoleh untuk mengecek kedatangan bus, saya melihat gadis tadi masih berdiri di tempat yang sama.
Kebetulan dia berdiri menghadap ke arah saya, dan saya bisa melihat wajahnya dengan jelas—wajah muda yang cantik, penuh semangat, namun kali ini diselimuti kesedihan mendalam.
Matanya merah. Jelas sekali dia baru saja menangis. Ekspresinya kosong—mungkin, saat pria itu pergi, hatinya pun ikut kosong dan hilang arah.
Awalnya, saya mengira itu hanya perpisahan biasa yang sering kita lihat. Tapi ketika melihat wajah gadis itu, hati saya tiba-tiba tergetar
Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dalam hati
Apakah ini hanya perpisahan sementara?, Atau perpisahan panjang yang penuh ketidakpastian?, Apakah mereka akan bertemu kembali, atau justru akan menjalani hidup masing-masing dari sini?
Tanpa sadar, ingatan saya terlempar ke masa lalu—mengingat momen-momen perpisahan yang pernah saya alami sendiri.
Anehnya, sekarang saya juga sering bepergian ke luar kota karena pekerjaan, sering harus berpisah dengan keluarga dan teman. Tapi perpisahan-perpisahan itu biasanya disambut dengan tawa, gurauan, bahkan harapan akan perjalanan baru. Jarang sekali saya merasa sesedih gadis itu di depan saya.
Mungkin inilah yang disebut kedewasaan:
- Belajar tersenyum di tengah rasa perih yang terpendam,
- Belajar kuat saat berpisah, dan
– Belajar lebih menghargai setiap momen saat bertemu kembali.
Dalam hidup, pada akhirnya kita akan mengerti bahwa perpisahan adalah benang merah yang terus menjalin seluruh babak kehidupan. Tak ada seorang pun yang bisa selamanya berada di sisi kita, bahkan orang-orang terdekat seperti orang tua atau anak kandung.
Perpisahan memang menyakitkan, namun dari sanalah kebahagiaan saat bertemu kembali menjadi begitu bermakna.
Jadi, untuk semua perpisahan yang tak bisa kita hindari.
Mari kita hadapi dengan lebih banyak senyuman…(jhn/yn)


