Luka yang Telah Sembuh Tetap Meninggalkan Bekas: Iman, Luka, dan Proses Memulihkan Diri

EtIndonesia. Ketika kita berbicara tentang pengampunan dan kelapangan hati, seringkali kita mendengar nasihat seperti:

·        “Jangan terus-menerus mengingat luka yang orang lain sebabkan.”

·        “Lepaskan beban di hati, agar kita bisa berjalan lebih ringan ke depan.”

Dan bagi umat Kristiani, nasihat seperti ini sering terdengar:

·        “Jangan sampai jatuh ke dalam tipu muslihat iblis. Pilihlah kasih, dan biarkan kasih menang.”

Namun kenyataannya, bagi mereka yang pernah benar-benar tersakiti, sangat sulit untuk bisa pulih tanpa jejak.

I. Luka yang Dalam Meninggalkan Bekas Seumur Hidup

Banyak orang mungkin tak sepenuhnya mengerti bahwa luka yang benar-benar dalam bisa menjadi bagian permanen dari kehidupan seseorang—luka yang tak bisa sepenuhnya dihapus.

Kita memang bisa memaafkan, namun belum tentu kita bisa melupakan.

Saya bisa menyebutkan begitu banyak contoh tentang orang-orang yang pernah disakiti dan tidak bisa melupakan peristiwa itu seumur hidup. Tapi karena cerita-cerita itu menyakitkan, saya tidak akan mengulasnya secara rinci di sini.

Cukuplah saya sebutkan satu peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Tiongkok:

Seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun yang menjadi korban penganiayaan, saat dirawat di rumah sakit, berkata : “Aku berharap Ayah cepat mati.”

Lima menit setelah mengucapkan itu, bocah tersebut meninggal dunia.

Dari berita-berita yang kita dengar atau dari cerita-cerita yang beredar di sekitar kita, kita tahu bahwa dunia ini tak kekurangan peristiwa-peristiwa tragis yang membuat hati kita teriris.

Sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mengalami luka sedalam itu. Maka kita sering berpikir: kalau lukanya sudah berhenti berdarah, sudah sembuh, ya sudah, lupakan saja. Tapi kenyataannya, rasa sakit yang begitu menghunjam—bisa menghancurkan seseorang dari dalam.

Luka itu bisa menghancurkan hati, menghancurkan jiwa, bahkan menghancurkan sistem tubuh secara perlahan. Dan ketika itu terjadi, orang lain sering tidak melihatnya, karena semuanya terjadi di balik layar—di dalam batin.

Kita harus belajar untuk mengakui dan menghargai keberadaan luka itu, bahkan ketika tubuh kita terlihat sehat, hatinya mungkin masih terus merintih.

Maka, yang seharusnya kita katakan bukanlah:

Kamu jangan terus mengingat luka yang diberikan orang lain kepadamu.”
Tapi,
Saya akan berusaha tidak menyimpan dendam atas luka yang pernah orang lain berikan kepada saya.”

Itu adalah bentuk penghargaan terhadap penderitaan orang lain. Kita tidak berhak menentukan seberapa dalam seseorang harus memikul luka hidupnya.

Sebagai umat beriman, umat Kristiani memang diajarkan untuk mengampuni sesama. Itu adalah harapan dan panggilan iman. Tetapi, kita juga harus jujur dan bijaksana dalam menghadapi kenyataan bahwa tidak semua luka bisa sembuh sepenuhnya. Kita harus belajar mengerti—dan menemani mereka yang masih terluka.

II. Luka Datang dari Manusia, Bukan dari Tuhan

Sering kali, seseorang bertanya pada saya:

“Kalau memang Tuhan itu ada, dan kalau Tuhan sungguh mengasihi umat-Nya, kenapa Dia membiarkan hal-hal buruk terjadi?”

Dalam Alkitab, dikatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia. Tapi Tuhan tidak menciptakan robot. Dia menciptakan manusia dengan kehendak bebas, agar setiap orang bisa memilih jalannya sendiri.

Mari kita ingat kembali kisah Adam dan Hawa. Mereka jatuh ke dalam dosa karena digoda oleh ular. Tetapi yang mengambil keputusan untuk memakan buah terlarang adalah mereka sendiri—mereka menggunakan kehendak bebas mereka.

Begitu pula dengan segala bentuk luka dan kejahatan yang terjadi di dunia—bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari manusia yang menggunakan kehendak bebasnya untuk menyakiti orang lain.

Jadi, ketika kita ingin menyuarakan keadilan, mengutuk kejahatan, dan menuntut pertanggungjawaban atas penderitaan, arahkan itu kepada pelaku—yaitu manusia—bukan kepada Tuhan.

Kita hidup di tengah masyarakat, dan karena itu, kita tak mungkin benar-benar terhindar dari luka—baik secara fisik maupun emosional. Tak ada seorang pun yang bisa hidup tanpa pernah terluka.

Namun karena itulah saya bersyukur kepada Tuhan, karena di tengah penderitaan, Tuhan memberikan penghiburan batin. Karena di tengah kehancuran, iman memberi kesempatan untuk membangun kembali diri kita.

Iman tidak membuat kita imun terhadap luka dan penderitaan. Tetapi iman memberi kita kekuatan untuk berdiri lagi, membangun ulang, dan lahir kembali—dalam istilah gereja: dilahirkan kembali (reborn).

Lebih dari itu, iman mendorong kita untuk belajar mengasihi, belajar peduli, dan membantu mereka yang membutuhkan—seperti yang dilakukan Yesus.

Jika setiap orang bisa seperti itu, maka perlahan-lahan, jumlah mereka yang menyakiti dan mereka yang tersakiti pun akan berkurang.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine